Denpasar (BisnisBali) –Bisnis properti komersial
seperti pusat perdagangan dan perbelanjaan, kini makin marak
saja. Jika tak diperhitungkan dengan matang, dikhawatirkan
akan terjadi kelebihan pasokan (over supply). Benarkah demikian?
Pelaku bisnis properti, Nyoman Sutarmaja, Selasa (19/2) kemarin
mengakui, saat ini pembangunan properti komersial di beberapa
kawasan strategis di Denpasar, kini makin marak saja.
Meski krisis ekonomi belum berlalu, pembangunan properti komersial
ini tetap jalan. “Memang ada kekhawatiran terjadi over
supply. Namun, pembangunan properti komersial itu umumnya
telah diperhitungkan dengan matang,” katanya.
Ia mengungkapkan, properti komersial ini tak boleh dilakukan
dengan sembarangan. Semuanya harus melalui perhitungan yang
matang. “Banyaknya properti komersial yang sulit dipasarkan,
membuktikan pembangunan proyek itu tidak melalui perhitungan
yang cermat,” ujarnya.
Dalam membangun properti komersial, kata Sutarmaja, developer
harus jeli melihat peluang pasar, lokasi yang tepat serta
strategi pemasaran yang jitu agar properti komersial yang
dibangun itu tak sulit dipasarkan. “Developer harus
jeli dalam melihat peluang pasar. Jangan hanya asal bangun
saja tanpa memperhatikan peluang pasar,” katanya.
Menurut Sutarmaja, bisnis properti komersial ini sangat rentan
mengalami kredit macet. Karena itu, developer harus hati-hati
agar terhindar dari kerugian yang cukup besar. “Biaya
yang diperlukan untuk pembangunan properti komersial ini sangat
tinggi.
Developer umumnya mengandalkan pinjaman dari bank. Kalau produk
properti yang dibangun itu tak laku dijual, tentu kredit macet
akan sulit dihindari,” katanya.
Maraknya pembangunan properti komersial belakangan ini, menuntut
pelaku bisnis di sektor ini untuk berhati-hati. Tidak seperti
sebelumnya, di mana developer dengan mudahnya membangun proyek.
“Di tengah persaingan yang makin ketat ini, faktor lokasi
dan kejelian membaca peluang pasar sangat diperlukan,”
ungkapnya.
Kelebihan pasokan yang membayangi dalam bisnis properti komersial
ini, juga harus disikapi dengan hati-hati. Hal ini dimaksudkan
untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat produk
yang dibangun tak terserap pasar. *yas
|