Singaraja (BisnisBali) –Dinas Perikanan dan
Kelautan (DPK) Kabupaten Buleleng mengakui pasar ikan tradisional
di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng tidak ditempati oleh pedagang.
Kenyataan ini membuat DPK Buleleng bersama-sama pemerintah
desa bersangkutan terus mencarikan solusi untuk memecahkan
masalah ini.
Pemerintah kini memprogramkan penanganan pasar ikan tradisional
di Anturan. Program itu yakni, sosialisasi, promosi, penataan
kawasan pasar, dan melaksanakan kegiatan rutin berupa gebyar
makan ikan bersama di pasar ikan tradisional Anturan. Diyakini,
dengan upaya ini pasar menjadi dikenal oleh warga masyarakat
dan pedagang juga menempati pasar yang telah dibangun.
Menurut Kepala DPK Kabupaten Buleleng Wayan Suradnya, pasar
yang baru dibangun akan membutuhkan waktu yang cukup untuk
mengenalkan lokasi pasar kepada masyarakat. Meski demikian,
pemerintah tidak menutup mata dengan kondisi pasar yang ada
sekarang dimana pedagang enggan menampati pasar tersebut.
Justru pemerintah menyiapkan program terpadu untuk pasar ikan
tradisional yang menyediakan ikan laut yang hegienis. Bahkan
pemerintah mencanangkan pasar ikan tradisional di Anturan
akan menjadi pasar sentral sepesial ikan laut.
“Kami bersama-sama pemerintah desa untuk mempromosikan
pasar itu dan kami mohon dukungan pedagang untuk mau berjualan
di sana,” kata Wayan Suradnya di kantornya di dampingi
Kepala Bagian (Kabag) Pengolahan Hasil dan Pengembangan Usaha
Nyoman Sutrisna, Selasa (19/2) kemarin.
Suradnya menambahkan, pasar ikan tradisional di Anturan awalnya
diusulkan oleh warga masyarakat setempat. Tujuannya, agar
para pedagang ini menampati lokasi berjualan yang nyaman dan
tidak mengganggu lalulintas jalan raya.
Sehingga disepakati pasar ikan dibangun di sebelah selatan
jembatan Anturan dengan dana Rp 151 juta tahun angaran 2006/2007.
Selanjutnya pengelolaan diserahkan kepada pemerintah desa
setempat.
Namun nyatanya pedagang enggan berjualan di pasar itu. Pasalnya
pembeli sedikit yang datang berbelanja ke pasar itu. Akibatnya
pedagang mengaku terus menelan kerugian dan akhirnya mereka
kembali berjualan di pinggir jalan raya Singaraja-Seririt
depan Puskesmas Pembantu Desa Anturan.
Pedagang yang tidak menampati pasar yang telah dibangun bukan
terjadi di Anturan saja. Tetapi di Desa Kubutambahan pun terjadi
hal serupa. Pemerintah sudah membangun pasar dengan dana Rp
14 juta kini mubazir.
Penyebabnya sama karena lokasi pasar jauh di atas jalan raya
Singaraja-Amlapura, sehingga pembeli tidak tahu lokasi pasar
tersebut. Pedagang pun memutuskan untuk kembali berjualan
di pinggir jalan raya agar hingga sekarang. *mud