20 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

::Potensi
DPK Akui Pasar Ikan Tradisional tak Diminati Pedagang
Singaraja (BisnisBali) –Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Kabupaten Buleleng mengakui pasar ikan tradisional di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng tidak ditempati oleh pedagang.

Kenyataan ini membuat DPK Buleleng bersama-sama pemerintah desa bersangkutan terus mencarikan solusi untuk memecahkan masalah ini.

Pemerintah kini memprogramkan penanganan pasar ikan tradisional di Anturan. Program itu yakni, sosialisasi, promosi, penataan kawasan pasar, dan melaksanakan kegiatan rutin berupa gebyar makan ikan bersama di pasar ikan tradisional Anturan. Diyakini, dengan upaya ini pasar menjadi dikenal oleh warga masyarakat dan pedagang juga menempati pasar yang telah dibangun.

Menurut Kepala DPK Kabupaten Buleleng Wayan Suradnya, pasar yang baru dibangun akan membutuhkan waktu yang cukup untuk mengenalkan lokasi pasar kepada masyarakat. Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata dengan kondisi pasar yang ada sekarang dimana pedagang enggan menampati pasar tersebut.

Justru pemerintah menyiapkan program terpadu untuk pasar ikan tradisional yang menyediakan ikan laut yang hegienis. Bahkan pemerintah mencanangkan pasar ikan tradisional di Anturan akan menjadi pasar sentral sepesial ikan laut.

“Kami bersama-sama pemerintah desa untuk mempromosikan pasar itu dan kami mohon dukungan pedagang untuk mau berjualan di sana,” kata Wayan Suradnya di kantornya di dampingi Kepala Bagian (Kabag) Pengolahan Hasil dan Pengembangan Usaha Nyoman Sutrisna, Selasa (19/2) kemarin.

Suradnya menambahkan, pasar ikan tradisional di Anturan awalnya diusulkan oleh warga masyarakat setempat. Tujuannya, agar para pedagang ini menampati lokasi berjualan yang nyaman dan tidak mengganggu lalulintas jalan raya.

Sehingga disepakati pasar ikan dibangun di sebelah selatan jembatan Anturan dengan dana Rp 151 juta tahun angaran 2006/2007. Selanjutnya pengelolaan diserahkan kepada pemerintah desa setempat.

Namun nyatanya pedagang enggan berjualan di pasar itu. Pasalnya pembeli sedikit yang datang berbelanja ke pasar itu. Akibatnya pedagang mengaku terus menelan kerugian dan akhirnya mereka kembali berjualan di pinggir jalan raya Singaraja-Seririt depan Puskesmas Pembantu Desa Anturan.

Pedagang yang tidak menampati pasar yang telah dibangun bukan terjadi di Anturan saja. Tetapi di Desa Kubutambahan pun terjadi hal serupa. Pemerintah sudah membangun pasar dengan dana Rp 14 juta kini mubazir.

Penyebabnya sama karena lokasi pasar jauh di atas jalan raya Singaraja-Amlapura, sehingga pembeli tidak tahu lokasi pasar tersebut. Pedagang pun memutuskan untuk kembali berjualan di pinggir jalan raya agar hingga sekarang. *mud

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost