Surabaya (BisnisBali) –Pertumbuhan kredit perumahan
segmen menengah atau di atas tipe 70, telah lebih dari 30
persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan
pembiayaan perumahan segmen menengah bawah atau di bawah tipe
70.
Berdasarkan data Bank Indonesia per Desember 2007, pertumbuhan
tipe di atas 70 sebesar 32,18 persen dengan kredit Rp 3,62
trilyun. Tahun 2006 pertumbuhannya hanya 2 persen dengan nilai
kredit Rp 2,74 trilyun.
Pertumbuhan KPR tipe 70 per Desember 2007 sebesar 6,19 persen
dengan posisi kredit Rp 3,49 trilyun. Tahun 2006 lalu tumbuh
35,19 persen dengan nilai kredit Rp 3,29 trilyun.
Secara umum kredit properti selama 2007 hanya mengalami penurunan
menjadi 18,96 persen. Kendati dengan nilai yang lebih tinggi
dibanding 2006 yakni Rp 8,2 triliun. Pada 2006 kredit properti
tumbuh 21,67 persen dengan nilai Rp 6,9 trilyun.
Vice President Bank Mandiri Consumer Loan Business Centre,
Djoko Yoewono mengungkapkan, di Jatim pertumbuhan KPR segmen
menengah atas sebelumnya relatif terbatas.
Selama itu lebih banyak digarap pengembang sendiri melalui
kredit inhouse dengan masa angsuran maksimal 24 bulan. "Ini
bisa jadi cukup memberatkan konsumen," ungkapnya.
Karena itu, Bank Mandiri sejak tahun lalu mulai menggarap
kredit inhouse melalui pola kerja sama dengan pengembang.
Pola ini memberikan masa angsuran hingga 15 tahun. Alhasil
kredit konsumer Bank Mandiri di Jatim hingga Desember 2007
bisa tumbuh 36% dengan nilai Rp 1,168 trilyun.
Namun tahun ini diprediksi bisa tumbuh lagi 30 % dengan penambahan
kredit konsumer senilai Rp 850 milyar. Adapun komposisinya
masih didominasi KPR sebesar 40%, disusul kredit tanpa agunan
25%, kredit multiguna 20% dan kredit otomotif 15%. *ton