Denpasar (BisnisBali) – Pesatnya perkembangan
telepon selular (ponsel) dari sejumlah operator telekomunikasi
yang kini bersaing dengan tarif murah, membuat bisnis warung
telekomunikasi (wartel) di Bali tak lagi prospektif.
Beberapa pengelola wartel terpaksa menutup usahanya, karena
keuntungan yang didapatkan tak lagi prospektif.
Salah seorang pengelola wartel di Denpasar, Ketut Madia, Selasa
(19/2) kemarin mengatakan, pendapatan yang diperoleh dari
usaha wartel itu terus menurun.
Pelanggan yang datang ke wartelnya juga makin sepi. “Sepinya
pengunjung yang datang ke wartel, mulai dirasakan sejak maraknya
penggunaan ponsel,” katanya.
Ia mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk mendongkrak kembali
pendapatan di bisnis tersebut, kecuali memberikan pelayanan
terbaik. “Namun, pengunjung yang datang ke wartel tetap
saja sepi,” keluhnya.
Kondisi ini tentu jauh berbeda dengan sebelumnya. Saat itu
pengunjung wartel selalu ramai dan sampai antre. Tak mengherankan,
jika saat itu bisnis wartel berkembang pesat.
“Begitu kran bisnis ini dibuka, masyarakat berebut mendapatkan
izin. Tak sembarang orang bisa membuka usaha wartel, apalagi
persyaratannya cukup banyak dan ada aturan pendirian wartel
harus tidak berdekatan satu sama lain,” katanya.
Namun, kini bisnis wartel yang sebelumnya menjadi rebutan
tak bisa lagi diandalkan sebagai bisnis utama. “Kalaupun
ada wartel yang masih buka, kebanyakan hanya bisnis sambilan.
Mereka tak bisa lagi mengandalkan keuntungan dari usaha wartel,
apalagi pendapatannya terus merosot,” ungkapnya.
Lesunya bisnis wartel ini, juga diperparah dengan banyaknya
bermunculan jasa telekomunikasi (jastel) yang hanya memiliki
satu kamar bicara umum (KBU).
“Telepon rumah yang dimodifikasi menjadi jastel, menyebabkan
banyak yang tergiur untuk menjadi pengelola jastel. Akibatnya,
persaingan makin ketat dan bisnis wartel pun makin terpuruk,”
katanya. *yas