20 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

::Gaya Hidup
Pakaian Bekas Bermerek tetap Diburu
Gianyar (BisnisBali) –Meski pakaian jenis baru banyak dijual di pasar-pasar tradisional maupun modern secara bebas yang terkadang dengan harga yang sangat terjangkau, pakaian bekas berkualitas impor bermerek masih tetap diburu oleh konsumen.

Terbukti, perdagangan pakaian bekas itu masih tetap banyak pembelinya, sehingga penjualan pakaian bekas masih tetap eksis, kendati sudah banyak mendapatkan saingan.

“Pokoknya pakaian bekas berkualitas impor dengan merek tertentu masih tetap diincar konsumen. Mengingat, jenis pakaian tersebut tidak dijual di pasar umum,” terang Wawan, pedagang pakaian bekas bermerek di Gianyar, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, menjelang hari raya baik nasional maupun daerah pembeli aneka model pakaian bekas mulai dari baju kemaja, celana pendek, celana panjang serta baju kaos pembelinya pasti membludak.

Padahal, model kaos banyak diperjualbelikan di pasar-pasar selama ini. Bedanya, konsumen ingin membeli baju kaos merek tertentu yang tidak dijual di pasar bebas.

Di samping kualitasnya yang masih bagus, harganya juga sangat bersaing mulai dari Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per pcs. Sementara harga pakaian baru jenis kaos sekarang ini rata-rata di atas Rp 35.000 per pcs.

“Pakaian bekas bermerek Singapura umumnya paling banyak diinginkan konsumen. Selain kondisinya masih bagus, harganya biasanya sepuluh kali lebih murah dibandingkan dengan harga resmi,’’ katanya.

Ia menambahkan, sebenarnya pakaian bekas yang diperjualbelikannya itu tidak tergolong bekas pakai. Namun, karena produk tersebut produksinya sudah kedaluwarsa selain modelnya sudah tidak disukai lagi oleh konsumen setempat. Di samping itu ada pula pakaian yang karena sesuatu tidak jadi diekspor ke negara lain di dunia.

Suprianto pedagang pakaian bekas di Pasar Sukawati juga mengakui, permintaan aneka jenis pakaian bekas yang diperjualbelikannya itu masih tetap ramai pembeli. Padahal, di sekitar tempatnya berjualan itu juga ada banyak pedagang pakaian yang kualitasnya tidak diragukan.

Namun, karena nilai tawar pakaian baru lebih tinggi, membuat konsumen beralih ke pakaian bekas. “Peluang pemasaran pakaian bekas impor di kota ini masih tetap menjanjikan, kendati Gianyar dikenal sebagai daerah penghasil garmen yang cukup banyak di Bali,” ujar Suprianto sambil mengakui omzetnya bisa Rp 500.000 per hari. *mur

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost