Denpasar (BisnisBali) –Cuaca buruk belum berdampak
negatif bagi distribusi bumbu masakan di Bali yang sebagian
besar masih harus mendatangkan dari luar daerah.
Buktinya, pasokan yang diterima pedagang dalam kondisi tepat
waktu dan masih dalam jumlah cukup, sehingga harga di pasaran
tetap normal.
“Dari pantauan di lapangan, harga sejumlah bumbu-bumbuan
dan kebutuhan lainnya masih dalam kondisi normal,” kata
Kasubdin Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan
Perdagangan (Disperindag) Propinsi Bali, Drs. Bagus Ketut
Wijaya, Selasa (19/2) kemarin.
Ia mengungkapkan, meski cuaca buruk ini telah menyebabkabnya
terjadi ombak besar di sekitar pelabuhan penyeberangan laut
Gilimanuk dan Ketapang yang merupakan alur dari distribusi
barang ke Bali, namun hal itu tidak sampai membuat pihak pelabuhan
untuk menunda maupun menutup penyeberangan dari dan menuju
Bali.
Menurut Bagus Wijaya, umumnya tak banyak kendala ditimbulkan
dari angin kencang ini, kecuali kondisi pendistribusian barang
antarpulau yang terjadi di daerah lain karena beberapa di
antaranya cukup parah, sehingga sampai memberhentikan penyeberangan
untuk menghindari risiko bencana ditimbulkan dari gelombang
besar ini.
Sementara itu, Suparyani, pedagang bumbu masakan di Pasar
Badung mengungkapkan, sebagian besar bumbu-bumbuan ditawarkan
di Bali memang kebanyakan didatangkan dari Jawa.
Tak heran, adanya cuaca buruk yang terjadi di laut dapat mempengaruhi
pendistribusian produk di tingkat lokal.“Namun kali
ini, distribusi di tengah cuaca buruk ini belum sampai berdampak
pada transaksi beragam jenis bumbu masakan di pasaran,”
ujarnya.
Ia menjelaskan, pendistribusian bumbu masakan selama cuaca
buruk ini, tidak sampai parah. Dalam artian, tidak sampai
membuat keterlambatan pengiriman barang, sehingga mempengaruhi
stok di pasaran yang menjadi tetap stabil.
Pendistribusian barang masih tepat waktu, cuma masalah hanya
terletak pada rentannya pembusukan barang yang diterima akibat
kondisi hujan mengguyur selama pendistribusian dari tempat
produsen ke konsumen.
Stabilnya harga ini tercermin dari bumbu masakan paling dicari
konsumen seperti lombok besar yang masih dijual Rp 7.500 per
kg, lombok kecil Rp 10.000 per kg, bawang putih Rp 7.000 per
kg dan bawang merah Rp 14.000 per kg.
Hal sama juga terjadi pada perdagangan jenis kacang-kacangan
yang stabil seperti kacang tanah Rp 14.000 per kg, kacang
hijau Rp 8.000 per kg dan kacang buncis Rp 8.000 per kg.
“Saya jamin, selama pelabuhan di Gilimanuk masih tetap
beroperasi maka harga bumbu masakan ini tetap normal,”
katanya. *man
|