Gianyar (BisnisBali) –Permintaan es balok terus
mengalami penurunan. Anjloknya permintaan mata dagangan itu,
disebabkan kalah bersaing dengan produk es jenis lain yang
sedang banyak dikonsumsi masyarakat. Di samping itu, tingginya
kepemilikan alat pendingin oleh masing-masing rumah tangga,
turut memicu turunnya penjualan es balok.
“Sebelum krisis ekonomi produksi dan penjualan es balok
sangat banyak dan perkembangannya cukup pesat. Namun, begitu
terjadi krisis ekonomi penjualannya terus merosot menjadi
hanya 100 batang per hari,” kata Suryadarma, pengusaha
es balok di Semabaung, Gianyar Senin (18/2) lalu.
Ia menjelaskan, penurunan penjualan produksi es baloknya itu
murni kalah bersaing dengan produk es jenis lain. Terutamanya
jenis es kristal yang sekarang banyak dibeli oleh konsumen.
Di samping harganya yang sangat bersaing, es kristal juga
dinilai lebih hemat dan ekonomis, khususnya dengan bentuknya
yang kecil-kecil, sehingga tidak harus dipecah lagi menjadi
bagian yang sangat kecil ketika dikonsumsi. Produk es kristal
itu banyak dimanfaatkan untuk mencampur aneka minuman menjadi
dingin dan sejuk.
“Karena bentuk dan ukuran es balok yang besar, apalagi
tidak langsung bisa dikonsumsi, mempengaruhi pula nilai jualnya
selama ini,” kata Suryadarma sambil menambahkan, nilai
jual produk es itu sebesar Rp 9.000 per balok.
Pemasaran es baloknya sekarang ini sangat terbatas, berbeda
dengan sebelum krisis ekonomi. Konsumen es balok selama ini
para pedagang ikan yang biasanya untuk mengawetkan ikan dagangannya.
Sementara pedagang minuman es campur, es buah dan lain-lain
sebagian besar sudah menggunakan es kristal.
Menurut Suryadarma, sebelum adanya es jenis kristal yang ukurannya
kecil-kecil itu, es balok memang cukup diminati. Pelanggannya
sebagian besar pengusaha hotel, rumah makan dan lain-lain
yang membuat produksi esnya mencapai 1.000 batang per hari.
Namun, kini penjualan es balok yang diproduksinya tidak lebih
100 balok per hari. *mur