Singaraja (BisnisBali) –Terminal bongkar muat
barang di Jalan Ahmad Yani, Singaraja kondisinya cukup memprihatinkan.
Jalan di dalam terminal yang digunakan untuk memungut karcis
oleh petugas rusak parah.
Aspalnya mengelupas hingga jalannya berlubang. Petugas terminal
mengaku sudah sering menutup lubang jalan itu memakai koral
sisa material waktu pembangunan terminal.
Tak hanya itu, terminal ini juga dinilai tidak strategis terutama
dari segi keselamatan pengguna terminal. Pintu masuk dan keluar
masih menjadi satu akibatnya jalur lalu lintas Singaraja-Seririt
terganggu ketika kendaraan masuk terminal. Akibat gangguan,
lalu lintas itu sering menimbulkan kecelakaan lalu lintas.
Kepala terminal bongkar muat barang Gede Artha Dana, Selasa
(19/2) kemarin mengatakan, kondisi terminal sudah disampaikan
kepada atasannya.
Hanya, belum ada respons untuk melakukan perbaikan. Dana pemeliharaan
yang bisa digunakan untuk memperbaiki juga belum turun. Dengan
begitu, pihaknya terpaksa menutup jalan yang berlubang itu
memakai sisa koral.
Menurut Artha Dana, penyebab jalan yang rusak itu karena berat
kendaraan pengangkut barang yang setiap hari melintas di atasnya
sehingga lama-kelamaan jalan menjadi rusak. “Sudah kami
laporkan namun belum ada perbaikan, mungkin karena dananya
belum cair,” katanya.
Lebih jauh Artha Dana mengatakan, fasilitas pendukung masih
dirasakan sangat minim. Misalnya warung yang bisa dimanfaatkan
pengemudi truk ketika membongkar barangnya di terminal.
Pengemudi sering mengeluh lantaran ruang untuk bersitirahat
juga tak ada. Yang paling parah, posisi pos petugas terminal
yang dinilai terlalu ke dalam tak bisa difungsikan.
Akibatnya, petugas yang mengarahkan truk masuk terminal harus
kepanasan atau kehujanan, sementara pos yang ada tak berfungsi.
Kendala seperti ini pun sudah disampaikan sejak lama, namun
lagi-lagi belum ada tanggapan.
“Kami sebagai petugas di sini hanya menjalankan tugas
dan menggunakan sarana seadanya. Masalah kekurangan fasilitas
ini sepantasnya diperhatikan untuk kelancaran aktivitas terminal
bongkar muat barang,” jelasnya.
Di sisi lain Artha Dana mengatakan, sopir truk masih enggan
masuk ke dalam terminal. Para sopir tidak ada yang membongkar
muat barangnya karena barang yang diangkutnya akan dibongkar
di gudang di dalam kota.
Mendapat jawaban seperti itu, petugas tentunya tidak bisa
memaksa dan hanya mengenakan karcis kemudian membiarkan truk
masuk kota. Yang paling parah banyak sopir yang sengaja tidak
masuk terminal tanpa membayar karcis. Tentu saja hal ini berdampak
pada pemasukan terminal menjadi tidak maksimal.
Dalam satu hari pengutan karcis masuk terminal hanya Rp 40.000
padahal pemerintah menargetkan pemasukan setiap hari Rp 80.000.
“Daripada banyak yang melanggar, kami tugaskan petugas
di depan untuk memungut karcis sambil mengerahkan truk atau
kendaraan pengangkut barang agar masuk ke terminal,”
imbuhnya. *mud
|