20 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Terminal Bongkar Muat Rusak* Retribusi hanya Rp 40.000 per Hari
Singaraja (BisnisBali) –Terminal bongkar muat barang di Jalan Ahmad Yani, Singaraja kondisinya cukup memprihatinkan. Jalan di dalam terminal yang digunakan untuk memungut karcis oleh petugas rusak parah.

Aspalnya mengelupas hingga jalannya berlubang. Petugas terminal mengaku sudah sering menutup lubang jalan itu memakai koral sisa material waktu pembangunan terminal.

Tak hanya itu, terminal ini juga dinilai tidak strategis terutama dari segi keselamatan pengguna terminal. Pintu masuk dan keluar masih menjadi satu akibatnya jalur lalu lintas Singaraja-Seririt terganggu ketika kendaraan masuk terminal. Akibat gangguan, lalu lintas itu sering menimbulkan kecelakaan lalu lintas.

Kepala terminal bongkar muat barang Gede Artha Dana, Selasa (19/2) kemarin mengatakan, kondisi terminal sudah disampaikan kepada atasannya.

Hanya, belum ada respons untuk melakukan perbaikan. Dana pemeliharaan yang bisa digunakan untuk memperbaiki juga belum turun. Dengan begitu, pihaknya terpaksa menutup jalan yang berlubang itu memakai sisa koral.

Menurut Artha Dana, penyebab jalan yang rusak itu karena berat kendaraan pengangkut barang yang setiap hari melintas di atasnya sehingga lama-kelamaan jalan menjadi rusak. “Sudah kami laporkan namun belum ada perbaikan, mungkin karena dananya belum cair,” katanya.

Lebih jauh Artha Dana mengatakan, fasilitas pendukung masih dirasakan sangat minim. Misalnya warung yang bisa dimanfaatkan pengemudi truk ketika membongkar barangnya di terminal.

Pengemudi sering mengeluh lantaran ruang untuk bersitirahat juga tak ada. Yang paling parah, posisi pos petugas terminal yang dinilai terlalu ke dalam tak bisa difungsikan.

Akibatnya, petugas yang mengarahkan truk masuk terminal harus kepanasan atau kehujanan, sementara pos yang ada tak berfungsi. Kendala seperti ini pun sudah disampaikan sejak lama, namun lagi-lagi belum ada tanggapan.

“Kami sebagai petugas di sini hanya menjalankan tugas dan menggunakan sarana seadanya. Masalah kekurangan fasilitas ini sepantasnya diperhatikan untuk kelancaran aktivitas terminal bongkar muat barang,” jelasnya.

Di sisi lain Artha Dana mengatakan, sopir truk masih enggan masuk ke dalam terminal. Para sopir tidak ada yang membongkar muat barangnya karena barang yang diangkutnya akan dibongkar di gudang di dalam kota.

Mendapat jawaban seperti itu, petugas tentunya tidak bisa memaksa dan hanya mengenakan karcis kemudian membiarkan truk masuk kota. Yang paling parah banyak sopir yang sengaja tidak masuk terminal tanpa membayar karcis. Tentu saja hal ini berdampak pada pemasukan terminal menjadi tidak maksimal.

Dalam satu hari pengutan karcis masuk terminal hanya Rp 40.000 padahal pemerintah menargetkan pemasukan setiap hari Rp 80.000. “Daripada banyak yang melanggar, kami tugaskan petugas di depan untuk memungut karcis sambil mengerahkan truk atau kendaraan pengangkut barang agar masuk ke terminal,” imbuhnya. *mud

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost