Denpasar (BisnisBali) –Berkebun sistem hidroponik
NFT belum menjamin tanaman bebas dari risiko kematian akibat
serangan hama atau penyakit. Hama berukuran besar memang hampir
tidak pernah terjadi pada penerapan hidroponik teknologi NFT.
Pasalnya, di sekeliling rumah plastik ditutup net atau screen.
Namun jenis serangga kecil dan cendawan tetap saja mengintai
serta kemungkinan muncul terbawa alat pertanian dan menempel
di baju pekerja atau karena terbawa aliran air/angin.
Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota
Denpasar, Ir. Nengah Udiarsha, M.Si., Senin (18/2) kemarin
saat meninjau pekebun hidroponik di Banjar Pojok, Peguyangan
Kangin, Denpasar.
Menurut Udiarsha, pekebun mesti memahami hal-hal yang berkaitan
dengan upaya pengendalian hama dan penyakit yang dapat menyerang
tanaman hidroponik NFT.
Langkah awal seperti memprioritaskan penggunaan pestisida
nabati, menggunakan pestisida secara bijaksana, memahami aturan
penyemprotan dan menerapkan deteksi dini.
Saat ini ada kecenderungan untuk menkonsumsi sayuran bebas
residu pestisida. Konsumen sayuran organik itu menuntut agar
sayuran tidak disemprot pestisida sedikit pun.
Namun di sini, tuntutan tersebut nampaknya sangat sulit dikabulkan,
untuk mengendalikan hama secara biologis diperlukan pestisida
nabati dan musuh alami pathogen pembawa hama maupun penyakit.
‘’Pestisida nabati lambat dan sedikit sekali yang
sudah di komersialkan. Pekebun terpaksa membuat pestisida
nabati sendiri dari beragam tanaman. Kelemahan pestisida nabati
ini antara lain efeknya lambat dan harus segera digunakan
sesaaat setelah dibuat, karena efektivitasnya akan menurun
drastis bila disimpan agak lama. Sementara penggunaan musuh
alami untuk pathogen masih menjadi ajang penelitian para ahli.
Padahal di luar negeri musuh alami pathogen penyebab hama
dan penyakit sudah dijual dan mudah diprolehnya,’’
jelasnya.
Penelitian membuktikan 70 butiran per meter persegi sudah
cukup mematikan hama dan penyakit. Butiran semprotan juga
sebaiknya tidak terlalu besar, sebab kristal pestisidanya
akan tertinggal di daun jika terkena sinar matahari.
Penyemprotan yang terlalu basah menandakan ukuran butiran
air terlalu besar. Padahal butiran kecil lebih bagus penetrasinya
kedalam jaringan tanaman maupun hama sasaran.
‘’Aturan penyemprotran pestisida sudah baku, yang
bersifat basa tidak dapat dicampur dengan bersifat asam. Pestisida
tembaga tidak efektif bila disemprotkan bersamaan dengan yang
lain.
Jika mau menyemprot hama dan penyakit yang sama, sebaiknya
digunakan pestisida berbahan aktif berbeda dan lakukan secara
berselang-seling agar hama dan penyakit tidak menjadi kebal.
*sta
Tips Mendeteksi Penyakit
Pada umumnya komoditi yang ditanam di rumah plastik adalah
tanaman yang berumur pendek yang berasal dari keluarga cruciferae,
brassicaceae, cucurbitaceae. Dari jenis tanaman ini biasanya
ditemukan beberapa hama dan penyakit di antaranya:
Kutu putih, gejala bercak-bercak klorosis kekuningan pada
daun. Beberapa daun mengering dan mati. Layu dan gugur daun
merupakan gerjala umum, dibarengi munculnya gejala hitam
di daun dan batang.
Untuk mengecek keberadaannya cukup mudah. Daun digoyangkan
jika ada kutu putih beterbangan maka tindakan penanggulangannya
perlu segera dilakukan.
Ulat tritip/ulat daun kubis, gejala terjadi bekas gigitan
di daun bagian bawah merupakan ciri awal serangan ulat ini.
Gigitan makin dalam sehingga akhirnya daun bolong. Luas
permukaan yang bolong makin besar, pada tanaman muda sampai
tunasnya dilahap.
Ulat titik tumbuh/ulat perusak daun gejalanya, daun tanaman
bagaikan teranyam, tetapi terlihat jelas bekas gigitan yang
membuat daun berlubang. Kerusakan dimulai dari permukaan
daun sebelah bawah. Pada serangan berat, yang tertinggal
hanyalah tulang daun saja.
Kutu daun gejalanya daun keriting, layu dan kecil sekali
ukurannya. Ini terjadi karena cairan daun diisap. Hama ini
juga menjadi perantara penyebaran virus.
Tungau gejalanya, kerusakan dimulai dari permukaan daun
bagian bawah. Areal dekat tulang daun kecoklatan dan kritis.
Daun muda keriting dan lebih kecil dari daun normal. Amati
bagian bawah dekat tulang daun, di situlah tungau bergerombol.
Ulat tomat, gejalanya terdapat lubang kecil berwarna gelap
dibagian buah. Jika buah dibelah, tampak semacam terowongan
yang dibentuk oleh belatung. Di sekitar lubang selalu ditemukan
sisa-sisa kotoran. Ulat dewasa berwarna abu-abu gelap atau
coklat dijumpai ditanah dekat batang. Ulat memakan daun
dan meletakan telur ditajuk tanaman.
Thrips/kemreki, gejalanya di daun ada titik putih keperakan
bekas tusukan kemudian berubah menjadi kecoklatan. Daun
yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke
atas.
Hama ini sering bersarang di bunga. Untuk mengecek keberadaannya,
bunga dipetik kemudian di ketukan ke tangan. Thrips juga
menjadi perantara penyebaran virus.
Lalat buah, gejalanya, ada bintik hitam kecil dipangkal
buah bekas tusukan lalat untuk memasukan telur. Setelah
menetas, larva (belatung) hidup di dalam buah sampai buah
busuk dan rontok.
Jika buah dibelah tampak bagian dalamnya yang hitam. Bisanya
juga ada belatung, yang akan melenting ke tanah dan seminggu
kemudian berubah menjadi lalat muda.
Pengorok daun, gejalanya, memiliki ciri kehadiran sangat
khas. Di daun tampak ukiran-ukiran mirip motif batik. Itu
terjadi lantaran larvanya mengorok jaringan didalam daun.
*sta