20 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Pengendalian Hama dan Penyakit *Penggunaan Pestisida dengan Bijaksana
Denpasar (BisnisBali) –Berkebun sistem hidroponik NFT belum menjamin tanaman bebas dari risiko kematian akibat serangan hama atau penyakit. Hama berukuran besar memang hampir tidak pernah terjadi pada penerapan hidroponik teknologi NFT.

Pasalnya, di sekeliling rumah plastik ditutup net atau screen. Namun jenis serangga kecil dan cendawan tetap saja mengintai serta kemungkinan muncul terbawa alat pertanian dan menempel di baju pekerja atau karena terbawa aliran air/angin.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Denpasar, Ir. Nengah Udiarsha, M.Si., Senin (18/2) kemarin saat meninjau pekebun hidroponik di Banjar Pojok, Peguyangan Kangin, Denpasar.

Menurut Udiarsha, pekebun mesti memahami hal-hal yang berkaitan dengan upaya pengendalian hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman hidroponik NFT.

Langkah awal seperti memprioritaskan penggunaan pestisida nabati, menggunakan pestisida secara bijaksana, memahami aturan penyemprotan dan menerapkan deteksi dini.

Saat ini ada kecenderungan untuk menkonsumsi sayuran bebas residu pestisida. Konsumen sayuran organik itu menuntut agar sayuran tidak disemprot pestisida sedikit pun.

Namun di sini, tuntutan tersebut nampaknya sangat sulit dikabulkan, untuk mengendalikan hama secara biologis diperlukan pestisida nabati dan musuh alami pathogen pembawa hama maupun penyakit.

‘’Pestisida nabati lambat dan sedikit sekali yang sudah di komersialkan. Pekebun terpaksa membuat pestisida nabati sendiri dari beragam tanaman. Kelemahan pestisida nabati ini antara lain efeknya lambat dan harus segera digunakan sesaaat setelah dibuat, karena efektivitasnya akan menurun drastis bila disimpan agak lama. Sementara penggunaan musuh alami untuk pathogen masih menjadi ajang penelitian para ahli. Padahal di luar negeri musuh alami pathogen penyebab hama dan penyakit sudah dijual dan mudah diprolehnya,’’ jelasnya.

Penelitian membuktikan 70 butiran per meter persegi sudah cukup mematikan hama dan penyakit. Butiran semprotan juga sebaiknya tidak terlalu besar, sebab kristal pestisidanya akan tertinggal di daun jika terkena sinar matahari.

Penyemprotan yang terlalu basah menandakan ukuran butiran air terlalu besar. Padahal butiran kecil lebih bagus penetrasinya kedalam jaringan tanaman maupun hama sasaran.

‘’Aturan penyemprotran pestisida sudah baku, yang bersifat basa tidak dapat dicampur dengan bersifat asam. Pestisida tembaga tidak efektif bila disemprotkan bersamaan dengan yang lain.

Jika mau menyemprot hama dan penyakit yang sama, sebaiknya digunakan pestisida berbahan aktif berbeda dan lakukan secara berselang-seling agar hama dan penyakit tidak menjadi kebal. *sta

Tips Mendeteksi Penyakit
Pada umumnya komoditi yang ditanam di rumah plastik adalah tanaman yang berumur pendek yang berasal dari keluarga cruciferae, brassicaceae, cucurbitaceae. Dari jenis tanaman ini biasanya ditemukan beberapa hama dan penyakit di antaranya:

Kutu putih, gejala bercak-bercak klorosis kekuningan pada daun. Beberapa daun mengering dan mati. Layu dan gugur daun merupakan gerjala umum, dibarengi munculnya gejala hitam di daun dan batang.

Untuk mengecek keberadaannya cukup mudah. Daun digoyangkan jika ada kutu putih beterbangan maka tindakan penanggulangannya perlu segera dilakukan.

Ulat tritip/ulat daun kubis, gejala terjadi bekas gigitan di daun bagian bawah merupakan ciri awal serangan ulat ini. Gigitan makin dalam sehingga akhirnya daun bolong. Luas permukaan yang bolong makin besar, pada tanaman muda sampai tunasnya dilahap.

Ulat titik tumbuh/ulat perusak daun gejalanya, daun tanaman bagaikan teranyam, tetapi terlihat jelas bekas gigitan yang membuat daun berlubang. Kerusakan dimulai dari permukaan daun sebelah bawah. Pada serangan berat, yang tertinggal hanyalah tulang daun saja.

Kutu daun gejalanya daun keriting, layu dan kecil sekali ukurannya. Ini terjadi karena cairan daun diisap. Hama ini juga menjadi perantara penyebaran virus.

Tungau gejalanya, kerusakan dimulai dari permukaan daun bagian bawah. Areal dekat tulang daun kecoklatan dan kritis. Daun muda keriting dan lebih kecil dari daun normal. Amati bagian bawah dekat tulang daun, di situlah tungau bergerombol.

Ulat tomat, gejalanya terdapat lubang kecil berwarna gelap dibagian buah. Jika buah dibelah, tampak semacam terowongan yang dibentuk oleh belatung. Di sekitar lubang selalu ditemukan sisa-sisa kotoran. Ulat dewasa berwarna abu-abu gelap atau coklat dijumpai ditanah dekat batang. Ulat memakan daun dan meletakan telur ditajuk tanaman.

Thrips/kemreki, gejalanya di daun ada titik putih keperakan bekas tusukan kemudian berubah menjadi kecoklatan. Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas.

Hama ini sering bersarang di bunga. Untuk mengecek keberadaannya, bunga dipetik kemudian di ketukan ke tangan. Thrips juga menjadi perantara penyebaran virus.

Lalat buah, gejalanya, ada bintik hitam kecil dipangkal buah bekas tusukan lalat untuk memasukan telur. Setelah menetas, larva (belatung) hidup di dalam buah sampai buah busuk dan rontok.

Jika buah dibelah tampak bagian dalamnya yang hitam. Bisanya juga ada belatung, yang akan melenting ke tanah dan seminggu kemudian berubah menjadi lalat muda.

Pengorok daun, gejalanya, memiliki ciri kehadiran sangat khas. Di daun tampak ukiran-ukiran mirip motif batik. Itu terjadi lantaran larvanya mengorok jaringan didalam daun. *sta

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost