20 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Pemangkasan, Selamatkan Tanaman Kopi dari Terjangan Angin

Denpasar (BisnisBali) –Cuaca buruk disertai angin kencang tidak berdampak buruk bagi petani kopi di Bangli yang merupakan sentra produksi terbesar di Bali saat ini.

Pasalnya, cuaca buruk kali ini terjadi setelah adanya musim panen dan itu tidak sampai menumbangkan pohon apalagi menurunkan produksi kopi pada tahun ini.

“Selain hama, cuaca memang sangat besar pengaruhnya pada produksi kopi, namun kali ini ancaman turunnya produksi akibat cuaca bisa terhindarkan mengaingat musim panen telah selesai sebulan sebelum adanya angin kencang ini,” tutur Wayan Jaman, petani kopi Desa Pangejaran Kecamatan Kintamani, Selasa (19/2) kemarin.

Terang Jaman, sekarang ini merupakan waktu setelah habis musim panen dan kondisi tanaman kopi para petani rata-rata sudah dalam kondisi relatif ringan bobotnya,karena pemangkasan yang dilakukan setelah panen menjadikan kondisi tanaman kopi tidak rimbun lagi. Itu pula menyebabkan ketika terjadi angin kencang seperti terjadi saat ini, tanaman kopi menjadi kokoh berdiri dan tidak tumbang.

Katanya, dari 150 hektar tanaman kopi yang diusahakan di Desa Pangejaran ini, semuanya masih tetap utuh di tengah kondisi angin ribut. Jelasnya, terakhir pada musim panen lalu produksi kopi di Desa Pangejaran mencapai 170 ton, kondisi tersebut bahkan meningkat dari musim panen sebelumnya yang hanya mencapai 140 ton.

Katanya, peningkatan produksi ini juga cukup menguntungkan petani, pasalnya harga kopi yang berlaku di pasaran juga mengalami penguatan. Contoh saja, harga kopi untuk golongan olahan basah bisa diperdagangkan mencapai Rp 25.000 per kg saat ini, kondisi tersebut jauh meningkat dari sebelumnya yang hanya berkisar Rp 23.000 per kg.

Begitu juga golongan kopi untuk OC gelondongan yang diperdagangkan Rp 19.000 per kg, meningkat dari harga sebelumnya Rp 16.000 per kg.

“Dengan tidak adanya pengaruh cuaca terhadap kondisi tanaman, saya prediksi musim panen kopi mendatang bisa dipertahankan jumlahnya,” ujarnya.

Sementara itu, perkembangan dari data realisasi ekspor di Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Bali menggambarkan ekspor komoditi kopi selama Januari-Desember 2006 dengan periode sama 2007 mengalami peningkatan yang cukup baik, itu dilihat dari segi volume dan nilai ekspor yang terjadi.

Data menunjukkan ekpor kopi pada Januari-Desember 2006 volumenya hanya mencapai 5,634.00 kg, sedangkan nilainya adalah 50,838.23 dolar AS.

Sementara pada periode sama tahun berikutnya meningkat menjadi, volume ekspor mencapai 7,823.00 kg dan nilainya 78,704.12 dolar AS atau terjadi lonjakkan 38.85 persen untuk volume dan 54.81 persen untuk nilai ekspor. *man

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost