Denpasar (BisnisBali) –Cuaca buruk
disertai angin kencang tidak berdampak buruk bagi petani
kopi di Bangli yang merupakan sentra produksi terbesar di
Bali saat ini.
Pasalnya, cuaca buruk kali ini terjadi setelah adanya musim
panen dan itu tidak sampai menumbangkan pohon apalagi menurunkan
produksi kopi pada tahun ini.
“Selain hama, cuaca memang sangat besar pengaruhnya
pada produksi kopi, namun kali ini ancaman turunnya produksi
akibat cuaca bisa terhindarkan mengaingat musim panen telah
selesai sebulan sebelum adanya angin kencang ini,”
tutur Wayan Jaman, petani kopi Desa Pangejaran Kecamatan
Kintamani, Selasa (19/2) kemarin.
Terang Jaman, sekarang ini merupakan waktu setelah habis
musim panen dan kondisi tanaman kopi para petani rata-rata
sudah dalam kondisi relatif ringan bobotnya,karena pemangkasan
yang dilakukan setelah panen menjadikan kondisi tanaman
kopi tidak rimbun lagi. Itu pula menyebabkan ketika terjadi
angin kencang seperti terjadi saat ini, tanaman kopi menjadi
kokoh berdiri dan tidak tumbang.
Katanya, dari 150 hektar tanaman kopi yang diusahakan di
Desa Pangejaran ini, semuanya masih tetap utuh di tengah
kondisi angin ribut. Jelasnya, terakhir pada musim panen
lalu produksi kopi di Desa Pangejaran mencapai 170 ton,
kondisi tersebut bahkan meningkat dari musim panen sebelumnya
yang hanya mencapai 140 ton.
Katanya, peningkatan produksi ini juga cukup menguntungkan
petani, pasalnya harga kopi yang berlaku di pasaran juga
mengalami penguatan. Contoh saja, harga kopi untuk golongan
olahan basah bisa diperdagangkan mencapai Rp 25.000 per
kg saat ini, kondisi tersebut jauh meningkat dari sebelumnya
yang hanya berkisar Rp 23.000 per kg.
Begitu juga golongan kopi untuk OC gelondongan yang diperdagangkan
Rp 19.000 per kg, meningkat dari harga sebelumnya Rp 16.000
per kg.
“Dengan tidak adanya pengaruh cuaca terhadap kondisi
tanaman, saya prediksi musim panen kopi mendatang bisa dipertahankan
jumlahnya,” ujarnya.
Sementara itu, perkembangan dari data realisasi ekspor di
Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Bali menggambarkan
ekspor komoditi kopi selama Januari-Desember 2006 dengan
periode sama 2007 mengalami peningkatan yang cukup baik,
itu dilihat dari segi volume dan nilai ekspor yang terjadi.
Data menunjukkan ekpor kopi pada Januari-Desember 2006 volumenya
hanya mencapai 5,634.00 kg, sedangkan nilainya adalah 50,838.23
dolar AS.
Sementara pada periode sama tahun berikutnya meningkat menjadi,
volume ekspor mencapai 7,823.00 kg dan nilainya 78,704.12
dolar AS atau terjadi lonjakkan 38.85 persen untuk volume
dan 54.81 persen untuk nilai ekspor. *man
|