06 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Harga Kayu masih Stabil

Denpasar (BisnisBali) – Seiring dengan terjadinya berbagai kenaikan harga bahan bangunan, seperti besi, paku, seng dan lainnya yang cukup tinggi, harga kayu justru masih stabil.

“Kayu jati yang didatangkan dari beberapa daerah di Jawa, masih tetap normal. Walaupun terjadi kenaikan dibandingkan beberapa bulan lalu, sangat kecil hanya berkisar 10 persen,” ujar suplayer kayu hasil hutan dari Jawa, Cahyono, Selasa (5/2) kemarin.

Ia mengatakan, harga jual kayu gelondongan jenis jati sampai sekarang masih stabil. Memang kalau harga kayu jenis jati ukuran balok dan papan yang kecil terjadi kenaikan harga cukup drastis.

“Sampai saat ini perdagangan kayu jenis jati masih stabil. Kami jual di seputar Denpasar dari beberapa bulan belum mengalami kenaikan.

Padahal, harga bahan bangunan lainnya sudah pada naik, terutama berbagai jenis besi terus mengalami kenaikan yang cukup tajam,” katanya sambil menyinggung masalah transportasi sudah terjadi kenaikan juga. Di samping itu, mengenai upah tenaga kerja di Jawa juga sudah naik.

Cahyono mengakui, sebenarnya harga kayu gelondongan sudah naik. Namun, pihaknya selama ini masih menghadapi kendala penjualan. Biaya produksi kayu sudah mulai naik, tetapi permintaan di pasaran agak lesu. Untuk itu, pihaknya sampai saat ini belum mampu menaikkan harga jual.

“Kalau kami jual dengan harga tinggi, maka takut tidak ada yang membeli. Permintaan sedikit menyebabkan kami tetap bertahan dengan harga lama. Yang penting masih menutupi biaya produksi, pasti akan jual.

Ketimbang kami tidak dapat produksi, akibat tidak ada yang memasok hasil produksi. Tenaga kerja akan telantar. Menghindari hal itu, maka asal laku sudah kami lepas, walaupun untungnya sedikit,” katanya.

Sugiana, suplayer kayu lainnya juga mengakui hal sama. Selama ini harga kayu jenis jati gelondongan masih stabil. Harga untuk ukuran kayu jati A2 balok besar (ukuran diameter 20 sampai 29 cm) harga jualnya hanya Rp 2,5 juta sampai Rp 2,7 juta per meter kubik.

Ukuran A3 (ukuran diameter 30 sampai 39 cm) harga jualnya Rp 3 juta sampai Rp 3,5 juta per meter kubik dan ukuran A4 (ukuran diameter 40 sampai 49 cm) harga jualnya Rp 3,8 juta sampai Rp 4 juta per meter kubik.

“Harga jual kayu gelondongan memang lebih murah dibandingkan dengan jenis kayu jati yang berukuran balok dan papan kecil. Yang paling laku di pasaran memang harganya cukup mahal.

Tetapi kalau harga eceran kayu jati gelondongan juga sangat tinggi. Kami jual murah, karena sistem pembeliannya per truk, jadi lebih murah dibandingkan dengan perdagangan kayu eceran,” ujarnya.

Anom Mertha salah seorang konsumen kayu jati yang dihubungi BisnisBali menerangkan, harga kayu jati gelondongan berukuran besar memang lebih murah dibandingkan dengan jenis kayu jati berukuran kecil. Berbeda dengan jenis kayu jati yang dijual di toko bangunan rata-rata dijual per kubiknya sampai di atas Rp 30 juta.

“Kami sudah memiliki pelanggan langsung dari Jawa. Setiap order dalam kapasitas volume per truk. Kemudian karena bahan kayu jati untuk kerajinan, maka diolah kembali sesuai keinginan,” katanya sambil mengatakan harganya tergantung dari jenis kayunya.

Makin bagus kualitasnya serta kondisi kayu kering, maka harganya makin mahal. Sebaliknya, kayu basah dan kualitasnya campuran, maka harga belinya juga murah. *sta

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost