Denpasar (BisnisBali) –Ada berbagai cara yang
dilakukan pengembang untuk menjaring konsumen di tengah lesunya
daya beli. Salah satunya, dengan menawarkan konsep perumahan
yang akan dibangun lewat brosur.
Pelaku bisnis properti, Esi Liana, Kamis (31/1) kemarin mengatakan,
menjual rumah dengan menawarkan konsep lewat brosur yang disertakan
dengan spesifikasinya kini makin menjamur. ‘’Ini
merupakan salah satu strategi pengembang dalam menyiasati
krisis ekonomi ini,” katanya.
Ia mengatakan, penjualan rumah dengan cara seperti itu, boleh-boleh
saja dilakukan sepanjang tidak merugikan konsumen. Strategi
ini diterapkan pengembang agar usahanya tetap bisa jalan.
‘’Saat krisis ekonomi, banyak pengembang yang
berjatuhan. Supaya tetap bisa berproduksi dan membangun, pengembang
akhirnya menjual konsep dan menawarkannya kepada konsumen,”
ungkapnya.
Menurut Esi, dengan menjual konsep, pengembang akan dapat
terhindar dari kerugian yang lebih besar. Dengan demikian,
kesulitan finansial yang dialami pengembang seperti saat krisis
ekonomi tak akan terulang lagi.
“Dengan menawarkan konsep, pembiayaannya akan lebih
bertumpu pada konsumen. Ini dikarenakan, ketika konsumen sudah
setuju dengan konsep rumah yang ditawarkan, pengembang baru
akan membangunnya. Jadi rumah yang dibangun itu, sudah pasti
akan laku terjual,” katanya.
Meski demikian, kata Esi, konsumen tetap saja harus hati-hati
dan waspada agar terhindar dari praktik penipuan. Konsumen
yang tertarik dengan rumah yang ditawarkan itu, harus mengecek
semua perizinannya, baik itu izin mendirikan bangunan (IMB),
izin lokasi dan sebagainya.
‘’Jika izin yang diperlukan sudah lengkap, baru
memutuskan untuk membelinya. Jadi konsumen harus hati-hati
dan waspada,” ungkapnya.
Di samping itu, kata Esi, konsumen juga harus mewaspadai aksi
pengembang nakal yang sengaja menjual rumah dengan menawarkan
konsep. “Jangan sampai ketika uang sudah didapatkan,
mereka langsung menghilang. Ini yang harus diwaspadai,”
katanya. *yas