01 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Konsorsium Kiat Menangkan Persaingan Antarkontraktor
Denpasar (BisnisBali) –Banyaknya pebisnis konstruksi dari luar Bali menyebabkan terjadinya persaingan ketat antarkontraktor di Bali, khususnya Denpasar.

Kontraktor luar tersebut pada umumnya memenangkan proyek bernilai besar. Untuk mengantisipasi persaingan yang makin ketat tersebut, seharusnya anggota Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) bersatu melakukan konsursium.

Di samping kuat dalam permodalan, juga terjadi kebersamaan untuk melakukan strategi serta pendekatan kultur budaya Bali sesuai peraturan yang ada.

Hal ini dikatakan Ketua BPC Gapensi Kota Denpasar, Ir. Nyoman Suwarjana, Kamis (31/1) kemarin di Denpasar. Menurutnya, kondisi bisnis kontraktor di Denpasar sudah makin parah.

Di samping banyak persaingan akibat datangnya kontraktor luar yang klasifikasi besar, juga terjadi persaingan antarkontraktor lokal. Buktinya, persaingan yang paling menonjol dari penyajian harga tender. Antarkontraktor lokal sering saling menjatuhkan harga.

‘’Kondisi seperti ini sering terjadi. Dampak dari kurang seimbangnya jumlah proyek yang ada dibandingkan dengan pengusaha (kontraktor) yang ada. Pertimbangan yang terkadang tidak masuk akal, mempertimbangkan tidak punya pekerjaan, harga dipermainkan.

Artinya, mereka yang nakal asal punya proyek, merugi pun tidak apa,’’ katanya, sambil menyinggung apabila tender dimenangkan dengan penawaran termurah, dapat dipastikan pelaksanaan proyek akan terganggu. Terbukti dalam penanganan proyek banyak masalah, baik molor dari waktu penyelesaian, kualitas rendah dan lain sebagainya.

Suwarjana menegaskan, untuk mengantisipasi persaingan yang tidak sehat serta memblokirnya pemain luar, perlu kebersamaan antarkontraktor lokal. Artinya, menggalang kekuatan di segala lini dengan melakukan konsorsium. Apabila hal ini dapat dilakukan, dapat diyaniki pembuktiannya.

‘’Dapat dirasakan sebelumnya, apabila ingin kuat seharusnya kita bersatu melakukan konsorsium. Selain mampu menambah modal, juga terjadi peningkatan SDM. Terjadi saling mengisi,’’ tandasnya. Ia mengakui, selama ini untuk konsorsium terjadi hambatan.

Banyak angota yang tidak memiliki visi dan misi sama sehingga terlihat masing-masing memiliki egoisme. Padahal, konsorsium banyak kelebihannya. ‘’Kalau kita bersama kuat, yakin usaha akan berkembang sesuai alurnya,’’ paparnya. *sta
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost