Denpasar (BisnisBali) –Banyaknya pebisnis konstruksi
dari luar Bali menyebabkan terjadinya persaingan ketat antarkontraktor
di Bali, khususnya Denpasar.
Kontraktor luar tersebut pada umumnya memenangkan proyek bernilai
besar. Untuk mengantisipasi persaingan yang makin ketat tersebut,
seharusnya anggota Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional
Indonesia (Gapensi) bersatu melakukan konsursium.
Di samping kuat dalam permodalan, juga terjadi kebersamaan
untuk melakukan strategi serta pendekatan kultur budaya Bali
sesuai peraturan yang ada.
Hal ini dikatakan Ketua BPC Gapensi Kota Denpasar, Ir. Nyoman
Suwarjana, Kamis (31/1) kemarin di Denpasar. Menurutnya, kondisi
bisnis kontraktor di Denpasar sudah makin parah.
Di samping banyak persaingan akibat datangnya kontraktor luar
yang klasifikasi besar, juga terjadi persaingan antarkontraktor
lokal. Buktinya, persaingan yang paling menonjol dari penyajian
harga tender. Antarkontraktor lokal sering saling menjatuhkan
harga.
‘’Kondisi seperti ini sering terjadi. Dampak dari
kurang seimbangnya jumlah proyek yang ada dibandingkan dengan
pengusaha (kontraktor) yang ada. Pertimbangan yang terkadang
tidak masuk akal, mempertimbangkan tidak punya pekerjaan,
harga dipermainkan.
Artinya, mereka yang nakal asal punya proyek, merugi pun tidak
apa,’’ katanya, sambil menyinggung apabila tender
dimenangkan dengan penawaran termurah, dapat dipastikan pelaksanaan
proyek akan terganggu. Terbukti dalam penanganan proyek banyak
masalah, baik molor dari waktu penyelesaian, kualitas rendah
dan lain sebagainya.
Suwarjana menegaskan, untuk mengantisipasi persaingan yang
tidak sehat serta memblokirnya pemain luar, perlu kebersamaan
antarkontraktor lokal. Artinya, menggalang kekuatan di segala
lini dengan melakukan konsorsium. Apabila hal ini dapat dilakukan,
dapat diyaniki pembuktiannya.
‘’Dapat dirasakan sebelumnya, apabila ingin kuat
seharusnya kita bersatu melakukan konsorsium. Selain mampu
menambah modal, juga terjadi peningkatan SDM. Terjadi saling
mengisi,’’ tandasnya. Ia mengakui, selama ini
untuk konsorsium terjadi hambatan.
Banyak angota yang tidak memiliki visi dan misi sama sehingga
terlihat masing-masing memiliki egoisme. Padahal, konsorsium
banyak kelebihannya. ‘’Kalau kita bersama kuat,
yakin usaha akan berkembang sesuai alurnya,’’
paparnya. *sta
|