Bangli (BisnisBali) -Kawasan agropolitan Catur yang
meliputi delapan desa dalam waktu dekat ini akan dijadikan
salah satu objek agrowisata di Kintamani.
Penetapan kawasan ini menjadi kawasan agrowisata dipastikan
akan menjadi objek wisata alternatif di Kintamani yang selama
ini hanya mengandalkan keindahan panorama gunung dan Danau
Batur saja. ” Kita telah merancang kawasan ini akan
dikembangkan menjadi agrowisata,” ungkap Kepala Dinas
kebudayaan dan Pariwisata Bangli I Nyoman Puja, SST, Kamis
(31/1) kemarin.
Menurut Puja, penetapan kawasan agropolitan Catur sebagai
kawasan agrowisata telah didahului dengan penelitian yang
dilakukan salah satu perguruan tinggi di Bali. ”Selain
itu, kami juga telah sempat minta masukan dari warga sekitarnya,
yang pada intinya mereka sangat mendukung rencana ini,”
tegas Puja.
Di kawasan ini, lanjut Puja memang tidak akan dibangun sarana
perhotelan atau restoran, namun wisatawan yang akan berkunjung
ke lokasi ini akan disarankan untuk menginap di rumah-rumah
penduduk.
”Rancangan kita adalah membuka jalur trecking yang akan
bisa dilalui oleh wisatawan selama mereka berkunjung ke lokasi
ini,” jelas Puja didampingi Kabid Pengembangan Produksi
Landep Sudiana.
Di lokasi ini, lanjutnya, wisatawan akan diberikan kesempatan
untuk melakukan petik langsung sejumlah komoditi seperti buah
jeruk dan kopi untuk dikonsumsi langsung. ”Selain itu,
wisatawan juga akan bisa menikmati suasana alam yang masih
alami berupa kumpulan burung yang ada di sekitar hutan,”
jelasnya.
Pemkab Bangli optimis, jika kawasan ini dikembangkan akan
menjadi daya tarik lain di Kintamani apalagi akses jalan sudah
sangat bagus menyusul kelarnya pembangunan jembatan di Pelaga-
Badung. * jel
|