01 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

::Potensi
42 Pasar di Karangasem Kolaps
Amlapura (BisnisBali) -Sedikitnya 41 pasar tradisional yang tersebar hampir di tiap desa termasuk pasar kabupaten yakni pasar Talibeng dan Pasar hewan Pempatan, Rendang sepi aktivitas. Sebagian beralih fungsi menjadi kios dan ruko yang dikelola perorangan.

Menurut Kabag Humas dan Protokol Setda Karangasem I Komang Agus Sukasena, sepinya aktivitas di pasar tradisional dimungkinkan kemudahan akses transportasi ke pasar induk selain terbatasnya pelaku dan komoditi yang dipasarkan. Menurut dia awal terbentuknya pasar tersebut sebagai salah satu persyaratan agar tidak termasuk kategori tertinggal.

”Dulu hampir setiap desa punya pasar sendiri, namun kemudahan dari segi transportasi memungkinkan masyarakat untuk membeli kebutuhan mereka ke pasar induk atau pasar kabupaten,” katanya.

Terpuruknya tingkat ekonomi masyarakat juga dinilai sebagai salah satu faktor penyebab selain beragamnya kebutuhan masyarakat sehingga sebagian memilih berbelanja di pasar yang lebih besar.

Hal itu diakui Kabag Ekonomi I Nyoam Diana. Dalam musrenbang beberapa desa mengusulkan untuk melakukan penataan pasar desa menjadi pusat pertokoan yang menjual komoditi tertentu.

Menyinggung soal sepinya aktivitas pasar Talibeng, Sidemen Diana mengatakan sejak dilakukan penertiban penjualan miras kontan aktivitas di pasar tersebut sepi mengingat sebagian pedagang mengandalkan transaksi minuman beralkohol yang diproduksi warga setempat.

”Saat ini masih kita kaji kemungkinan pasar itu dijadikan pasar umum,” jelasnya. Harus diakui untuk membangun pasar tidak mudah karena sulit untuk mengarahkan masyarakat mau berbelanja ke tempat itu. Demikian halnya dengan pasar hewan Pempatan, Rendang.

Sejak awal diresmikan Januari tahun 2006 sempat ramai namun sedikit demi sedikit jumlah pembeli maupun pedagang yang datang terus berkurang. Penyebabnya ditengarai karena jadwal pasaran berbenturan dengan dua pasar hewan yang sudah ada yakni pasar sapi Bebandem dan Urabaya.

”Kita sempat mencoba menyiasati dengan mengubah jadwal pasaran menjadi 3 hari sekali dari awalnya seminggu 2 kali, namun masih saja sepi,” imbuhnya.

Upaya lain dijelaskan Diana dengan mengajak kelompok ternak untuk menjajakan hewan peliharaannya di pasar tersebut dan melakukan koordinasi dengan petugas pasar serta menambah fasilitas untuk melengkapi pasar yang dibangun dengan dana APBD sebesar Rp 640 juta tersebut. *rah
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost