Amlapura (BisnisBali) -Sedikitnya 41 pasar tradisional
yang tersebar hampir di tiap desa termasuk pasar kabupaten
yakni pasar Talibeng dan Pasar hewan Pempatan, Rendang sepi
aktivitas. Sebagian beralih fungsi menjadi kios dan ruko yang
dikelola perorangan.
Menurut Kabag Humas dan Protokol Setda Karangasem I Komang
Agus Sukasena, sepinya aktivitas di pasar tradisional dimungkinkan
kemudahan akses transportasi ke pasar induk selain terbatasnya
pelaku dan komoditi yang dipasarkan. Menurut dia awal terbentuknya
pasar tersebut sebagai salah satu persyaratan agar tidak termasuk
kategori tertinggal.
”Dulu hampir setiap desa punya pasar sendiri, namun
kemudahan dari segi transportasi memungkinkan masyarakat untuk
membeli kebutuhan mereka ke pasar induk atau pasar kabupaten,”
katanya.
Terpuruknya tingkat ekonomi masyarakat juga dinilai sebagai
salah satu faktor penyebab selain beragamnya kebutuhan masyarakat
sehingga sebagian memilih berbelanja di pasar yang lebih besar.
Hal itu diakui Kabag Ekonomi I Nyoam Diana. Dalam musrenbang
beberapa desa mengusulkan untuk melakukan penataan pasar desa
menjadi pusat pertokoan yang menjual komoditi tertentu.
Menyinggung soal sepinya aktivitas pasar Talibeng, Sidemen
Diana mengatakan sejak dilakukan penertiban penjualan miras
kontan aktivitas di pasar tersebut sepi mengingat sebagian
pedagang mengandalkan transaksi minuman beralkohol yang diproduksi
warga setempat.
”Saat ini masih kita kaji kemungkinan pasar itu dijadikan
pasar umum,” jelasnya. Harus diakui untuk membangun
pasar tidak mudah karena sulit untuk mengarahkan masyarakat
mau berbelanja ke tempat itu. Demikian halnya dengan pasar
hewan Pempatan, Rendang.
Sejak awal diresmikan Januari tahun 2006 sempat ramai namun
sedikit demi sedikit jumlah pembeli maupun pedagang yang datang
terus berkurang. Penyebabnya ditengarai karena jadwal pasaran
berbenturan dengan dua pasar hewan yang sudah ada yakni pasar
sapi Bebandem dan Urabaya.
”Kita sempat mencoba menyiasati dengan mengubah jadwal
pasaran menjadi 3 hari sekali dari awalnya seminggu 2 kali,
namun masih saja sepi,” imbuhnya.
Upaya lain dijelaskan Diana dengan mengajak kelompok ternak
untuk menjajakan hewan peliharaannya di pasar tersebut dan
melakukan koordinasi dengan petugas pasar serta menambah fasilitas
untuk melengkapi pasar yang dibangun dengan dana APBD sebesar
Rp 640 juta tersebut. *rah
|