Badung (BisnisBali) -Sekitar 8 orang dari BIRD India
(lembaga keuangan mikro India) dengan diantar dari Komisi
IV Microfinance BRI pusat, Kamis (31/1) kemarin, mendatangi
BPR Jaya Kerti di Mengwitani Badung untuk mengetahui teknik
pembiayaan mikrobank.
Hampir semua pertanyaan peserta dalam diskusi yang berlangsung
lebih dari satu jam dijawab oleh Direktur Utama BPR Jaya Kerti,
Ni Wayan Sriasih, S.E., M.M. melalui Wakil Komisi IV Microfinance
BPR pusat, Agus Andiyat.
Sebagai salah satu lembaga keuangan yang membiayai pelaku
UMKM, BPR Jaya Kerti mendapat pengawasan dari Bank Indonesia.
Di samping itu, BPR ini diaudit oleh lembaga keuangan nonpemerintah
menyangkut masalah kredit macet atau nonperforming loan (NPL)
serta batas maksimum pemberian kredit (BMPK).
Dalam kaitan ini, Sriasih didampingi Direktur BPR Jaya Kerti
I Wayan Sunartha, S.E. dan pemegang saham BPR Jaya Kerti I
Made Tana menjelaskan, plafon kredit untuk masyarakat pelaku
UKM mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 25 juta bukan dipatok oleh
BPR Jaya Kerti. Permintaan plafon kredit dengan kisaran jumlah
seperti ini akibat kondisi pasar yang dihadapi para pelaku
UKM.
Dijelaskan, BMPK BPR Jaya Kerti memang sudah ada batasnya
sesuai peraturan pemerintah lewat Bank Indonesia sebesar Rp
300 juta. Tetapi karena kondisi pasar UMKM belum dirasakan
menguntungkan, plafon kredit sebesar ini jarang diminta oleh
pelaku UMKM. Kendatipun ada permintaan dari pasar, orang atau
nasabahnya hanya satu hingga dua orang.
BPR Jaya Kerti sebagai salah satu unit banking microfinance
(pembiayaan mikro), tetap mendapatkan pengawasan, pembinaan
dan pemeriksaan dari Bank Indonesia. Di samping itu, audit
keuangan pun dilakukan melalui akuntan publik.
Uang disalurkan dalam bentuk kredit adalah dana masyarakat
yang dihimpun dalam bentuk tabungan dan deposito dengan suku
bunga saling menguntungkan, tegas Sriasih menjawab pertanyaan
rombongan BIRD India.
Menjawab pertanyaan rombongan BIRD India yang lain, dia menegaskan,
BPR Jaya Kerti diwajibkan memenuhi modal disetor sebesar Rp
1 milyar karena beroperasi di kabupaten. Sementara BPR yang
beroperasi di pusat kota propinsi, modal disetor ditetapkan
Rp 2 milyar.
Kredit macet (NPL) yang dihadapi BPR Jaya Kerti hingga kini
sudah berada di bawah 5 persen sesuai ketentuan BI sebesar
5 persen. Dikatakan, BPR Jaya Kerti tidak saja kedatangan
tamu dari BIRD India.
Sebelumnya sudah banyak tamu dari luar negeri yang juga bergerak
di jasa keuangan melihat dari dekat operasional sekaligus
kinerja BPR Jaya Kerti sebagai salah satu lembaga keuangan
mikro dalam bentuk bank perkreditan rakyat.
Rombongan LKM luar negeri yang sempat belajar di BPR Jaya
Kerti sebelumnya di antaranya dari banking microfinance Ethiopia,
Bank India, Afrika Selatan, Kenya dan sejumlah microfinance
luar negeri lainnnya. *dra
|