Masyarakat
Indonesia saat ini semakin apatis dan tidak lagi mengapresiasi
partai-partai politik karena institusi politik dianggap tidak
bersungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi rakyat.
Hal itu terungkap dari hasil survai nasional Lembaga Riset
Informasi (LRI) bertema Membangun Akuntabilitas Parpol dan
Wakil Rakyat yang dipublikasikan di Jakarta, Kamis. Dalam
survai yang dilakukan pada tanggal 18-27 Desember 2007 di
33 propinsi dengan sampel sebanyak 1.300 responden itu, secara
umum masyarakat menilai kinerja parpol sangat buruk.
"Masyarakat semakin tidak mengapresiasi parpol dan yang
ingin kita sampaikan adalah rakyat telah menyadari bahwa parpol
tidak sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi mereka,"
ujar Johan O. Silalahi, Presdir LRI.
Dalam survey dengan sampling error 2,9 persen tersebut, PKB
dinilai buruk oleh 61,2 persen, disusul PPP (59,5 persen),
PAN (55,5 persen), PDIP (48,4 persen), PKS (47,6 persen),
PD (45,5 persen) dan Golkar (45,2 persen).
Penilaian yang buruk terhadap kinerja parpol itu, kata johan,
juga memicu jumlah responden yang menyatakan tidak akan memilih
(28,2 persen) dalam pemilu nanti.
"Mereka yang tidak akan memilih ini merata di semua segmen,
baik dilihat dari tingkat pengeluaran, usia, jenis kelamin
dan tingkat pendidikan," katanya.
Kondisi seperti itu, menurut Johan, bisa mengancam legitimasi
pemerintah karena sikap tidak memilih bukan hanya bermakna
hukuman publik atas buruknya kinerja parpol, tetapi juga bentuk
ketidak percayaan mereka terhadap pemimpin terpilih.
Dalam survey tersebut juga terungkap bahwa bentuk lain dari
kekecewaan publik itu adalah tingginya angka responden (84,9
persen) yang menyatakan perlunya pembatasan jumlah parpol.
"Kondisi multi parpol seperti saat ini sudah tidak sehat
lagi sehingga keberadaan parpol perlu disederhanakan lagi,"
ujarnya seraya mengungkapkan pendapatnya bahwa jumlah ideal
parpol itu sebaiknya berkisar 6-8 parpol saja.
Mengenai preferensi politik responden bila pemilu digelar
minggu ketiga Desember 2007, survey itu menunjukkan sebanyak
15,7 persen responden mengaku akan memilih PDIP dan disusul
Golkar (15,1 persen), PKS (9 persen) serta PD (7,3 persen).
Menurut Johan, naiknya nilai PKS bisa jadi disebabkan karena
PKS termasuk partai yang serius dalam melakukan kaderisasi
anggotanya. Sementara naiknya angka PD masih tidak bisa dilepaskan
dari figur SBY sebagai ikon partai itu.
"Hal ini menegaskan bahwa kehadiran tokoh yang dinisbatkan
sebagai ikon partai tetap menjadi faktor fundamental dalam
mengatrol popularitas parpol," ujarnya. *ant
|