01 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Masyrakat Kian Apatis pada Parpol
Masyarakat Indonesia saat ini semakin apatis dan tidak lagi mengapresiasi partai-partai politik karena institusi politik dianggap tidak bersungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi rakyat.

Hal itu terungkap dari hasil survai nasional Lembaga Riset Informasi (LRI) bertema Membangun Akuntabilitas Parpol dan Wakil Rakyat yang dipublikasikan di Jakarta, Kamis. Dalam survai yang dilakukan pada tanggal 18-27 Desember 2007 di 33 propinsi dengan sampel sebanyak 1.300 responden itu, secara umum masyarakat menilai kinerja parpol sangat buruk.

"Masyarakat semakin tidak mengapresiasi parpol dan yang ingin kita sampaikan adalah rakyat telah menyadari bahwa parpol tidak sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi mereka," ujar Johan O. Silalahi, Presdir LRI.

Dalam survey dengan sampling error 2,9 persen tersebut, PKB dinilai buruk oleh 61,2 persen, disusul PPP (59,5 persen), PAN (55,5 persen), PDIP (48,4 persen), PKS (47,6 persen), PD (45,5 persen) dan Golkar (45,2 persen).

Penilaian yang buruk terhadap kinerja parpol itu, kata johan, juga memicu jumlah responden yang menyatakan tidak akan memilih (28,2 persen) dalam pemilu nanti.

"Mereka yang tidak akan memilih ini merata di semua segmen, baik dilihat dari tingkat pengeluaran, usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan," katanya.

Kondisi seperti itu, menurut Johan, bisa mengancam legitimasi pemerintah karena sikap tidak memilih bukan hanya bermakna hukuman publik atas buruknya kinerja parpol, tetapi juga bentuk ketidak percayaan mereka terhadap pemimpin terpilih.

Dalam survey tersebut juga terungkap bahwa bentuk lain dari kekecewaan publik itu adalah tingginya angka responden (84,9 persen) yang menyatakan perlunya pembatasan jumlah parpol.

"Kondisi multi parpol seperti saat ini sudah tidak sehat lagi sehingga keberadaan parpol perlu disederhanakan lagi," ujarnya seraya mengungkapkan pendapatnya bahwa jumlah ideal parpol itu sebaiknya berkisar 6-8 parpol saja.

Mengenai preferensi politik responden bila pemilu digelar minggu ketiga Desember 2007, survey itu menunjukkan sebanyak 15,7 persen responden mengaku akan memilih PDIP dan disusul Golkar (15,1 persen), PKS (9 persen) serta PD (7,3 persen).

Menurut Johan, naiknya nilai PKS bisa jadi disebabkan karena PKS termasuk partai yang serius dalam melakukan kaderisasi anggotanya. Sementara naiknya angka PD masih tidak bisa dilepaskan dari figur SBY sebagai ikon partai itu.

"Hal ini menegaskan bahwa kehadiran tokoh yang dinisbatkan sebagai ikon partai tetap menjadi faktor fundamental dalam mengatrol popularitas parpol," ujarnya. *ant
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost