Jakarta (BisnisBali) –Menteri Perhubungan Jusman
Syafii Djamal menegaskan, standar bandara perintis di seluruh
Indonesia memang harus ditingkatkan, menyusul kecelakaan pesawat
jenis Twin Otter milik Avia Star di bandara perintis di Kabupaten
Paniai, Propinsi Papua, Rabu pagi (30/1).
"Standar bandara-bandara di Indonesia, khususnya perintis
harus ditingkatkan," katanya menanggapi pertanyaan pers
usai melakukan penandatanganan kesepakatan kerja sama Indonesia
dan Australia senilai 24 juta dolar AS di Jakarta, Kamis kemarin.
Namun, Jusman tak menyebut secara rinci peningkatan standar
seperti apa yang dimaksud. Sedangkan, pers mempertanyakan,
mengapa di sejumlah bandara perintis di Indonesia sejauh ini
kondisinya memprihatinkan antara lain, kualitas landasan pacu
yang pendek, tingkat pengaturan di bandara yang amburadul
sehingga sampai ada sapi "menyeberang" di landasan
sebuah bandara dan lainnya.
Karena itu, kata Jusman, pihaknya telah meminta kepada Dirjen
Perhubungan Udara untuk berkoordinasi dengan para administrator
bandara perihal kondisi sejumlah bandara perintis di Indonesia.
"Kami harapkan, para adbandara segera berkoordinasi dengan
pemerintah daerah pemilik bandara untuk meningkatkan kondisi
yang ada menjadi lebih baik," katanya.
Sebelumnya, empat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan
satu staf Setjen DPD menjadi korban kecelakaan pesawat jenis
Twin Otter milik Avia Star di Kabupaten Paniai, propinsi Papua,
Rabu pagi, namun selamat dan kini masih mendapat perawatan
di Paniai.
Wakil Ketua DPD Irman Gusman di Gedung DPR/DPD/MPR Jakarta,
Rabu, menjelaskan, mereka ke Papua dalam rangka kunjungan
kerja terkait pemekaran wilayah Kabupaten Paniai.
Keempatnya dari Panitia Ada Hoc (PAH) I DPD masing-masing
Muhidin Lamany, Ferdiananda Yatipay, AD Khaly dan Arif Natadiringrat
serta satu staf Setjen DPD Ahmad Buchori. "Kami bersyukur,
keempatnya beserta satu staf DPD selamat," kata Irman.
*ant
|