Surabaya (BisnisBali) –Gagasan pembangunan
mini power plant (pembangkit listrik mini) berkapasitas 3-5
MW (megawatt) di 38 kabupaten/kota di Jatim terus diseriusi.
Salah satunya, saat ini sedang dilakukan kajian teknis dari
tim PLN Distribusi Jatim.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim Erlangga Satriagung
mengungkapkan, sudah sejak tiga pekan lalu tim PLN melakukan
kajian perihal studi kelayakan terkait areal yang akan dibangun
pembangkit, serta riset bahan baku yang sesuai dengan masing-masing
kabupaten/kota. “Kami berharap bulan depan sudah ada
hasil yang bisa direkomendasikan,” ujarnya, Jumat (31/1)
kemarin.
Menurutnya, bulan depan bersama Pemprop Jatim, pihaknya akan
mengundang para calon investor dan kalangan perbankan guna
membicarakan masalah pembiayaan.
Dari kalkukasinya, kebutuhan untuk tiap 1 megawatt akan membutuhkan
investasi Rp 15 milyar. “Bank-bank banyak yang interes,
sebab proyek ini merupakan captive market,” katanya.
Erlangga menambahkan, di samping via bank, alternatif pembiayaan
bisa dilakukan oleh pemkab/kota, apalagi mereka punya kemampuan
membiayainya lewat APBD.
Dalam jangka waktu empat tahun investasinya akan kembali dan
bisa jadi pendapatan asli daerah. Selain itu pihak pemkab/kota
juga bisa menggandeng investor swasta. “Yang jelas,
PLN akan sanggup untuk membeli,” tukasnya.
Dijelaskan, pembangkit yang diproyeksikan akan memakai tenaga
mikro hidro, angin, dan sabut kelapa tersebut memang menjadi
sebuah keharusan jika melihat kondisi kelistrikan di Jatim
yang terus defisit.
Di samping itu, ekspektasi tepat waktunya proyek 10 ribu MW
juga masih menjadi tanda tanya. “Kita harus mengubah
mindset bahwa urusan listrik harus bergantung pada PLN,”
ucapnya.
Menurut Erlangga, masalah suplai kelistrikan terutama bagi
kalangan industri dan perdagangan harus mendapat porsi perhatian
yang besar. Dia khawatir, apa yang kerap terjadi di luar Jawa
yakni listrik kerap byar pet sewaktu-waktu bisa terjadi di
Jatim jika semua pihak saling berpangku tangan menunggu aksi
PLN. *ton