Bangli (BisnisBali) -Selain dikenal sebagai sentra
penghasil kakao, wilayah Kecamatan Tembuku saat ini dikenal
sebagai sentra penhasil kacang tanah terbesar di Bangli.
Produk kacang tanah di Tembuku selain untuk memenuhi kebutuhan
pasar di luar Bali, juga diolah menjadi kacang asin yang produksinya
telah berhasil menembus pasar ekspor seperti ke Jepang.
”Di kelompok tani kami luas lahan untuk budi daya kacang
tanah sekitar 50 hektar, namun tahun ini hanya ditanami sekitar
25 hektar,” ungkap I Made Sucita salah seorang petani
kacang tanah asal Penida Kelod, Tembuku ketika dimintai konfirmasinya,
Kamis (31/1) kemarin. Sucita mengemukakan, saat ini harga
kacang tanah di pasaran sedang tinggi-tingginya yakni mencapai
Rp 2.500 per kilo.
Hal ini tentunya sangat memberikan keuntungan bagi petani
di sekitarnya. ”Saat ini harganya tergolong cukup tinggi.
Oleh sebab itu, kami sangat antusias dalam pengembangan produk
pertanian ini,” tegas Sucita.
Menurut Sucita, membudidayakan kacang tanah bagi hampir sebagian
warga Tembuku memang bukan hal baru lagi. Sebab di tengah
keterbatasan pengairan, warga memang secara rutin menanam
palawija sebagai tanaman sela di persawahan mereka.
”Kacang tanah memang merupakan salah satu alternatif
menguntungkan bagi kami,” ujarnya. Di tempat terpisah,
Bupati Bangli I Nengah Arnawa, S.Sos. M.M., mengakui jika
produk kacang tanah di Bangli memiliki kualitas yang sangat
baik.
Hal inilah yang menyebabkan produk olahan kacang tanah di
Bangli seperti kacang asin yang diproduksi salah satu kelompok
tani di Kintamani berhasil menembus pasar Jepang. ”Selain
renyah, rasa kacang tanah Bangli memang berbeda dengan produksi
dari daerah lainnya,” tegas Bupati Arnawa dalam salah
satu kesempatan. *jel
|