01 Februari 2008  
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Imbangi Harga, Motif Tekstil Tradisional Diproduksi Pabrik
Kuta (BisnisBali) –Kain tradisional, seperti tenun atau batik yang diproduksi secara manual memiliki daya tarik tersendiri dengan motif khas masing-masing daerah.

Pedagang tekstil Yunita, Kamis (31/1) kemarin di Kuta mengatakan, proses produksi dan cara pembuatannya yang rumit membutuhkan waktu lama dalam pengerjaan sehingga harganya pun jauh lebih mahal dari kain yang diproduksi pabrik.

Baik kain tradisional maupun kain pabrik memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tidak sedikit pula motif kain tradisional ditiru dan diproduksi secara massal oleh pabrik. Hal ini dilakukan untuk bisa menyerupai dan mengimbangi tampilan kain tradisional terutama dari segi motif.

“Meski pun tampilannya berbeda dan harganya jauh lebih murah tekstil ini tetap disukai,” ungkapnya. Masyarakat juga sudah banyak yang tahu, jika beberapa jenis motif kain tradisional seperti batik dan tenun tidak sedikit yang diproduksi pabrik. Mereka juga tahu apa dan bagaimana perbedaannya.

Pedagang tekstil lainnya, Rita mengatakan, selain beberapa jenis kain tersebut, kain songket kini juga mulai dikerjakan pabrik. Hasilnya memang tidak sesempurna songket tenunan tapi songket pabrik lebih ringan, warna beragam, dasar kain lebih ringan demikian juga benang songketnya. Songket pabrik ini tetap berbentuk tenunan seperti halnya songket pada umumnya tapi lebih ringan. Bahan dasar kain yang digunakan cenderung jatuh dan lembut.

Dikatakan, songket pabrik ini diproduksi di Jawa. Saat ini mungkin belum begitu banyak ditawarkan di pasar lokal karena masih pada tahap pengenalan. Namun kain ini diprediksi akan disukai konsumen, karena selain harganya relatif lebih murah juga tetap mengutamakan tren motif.

Tenun songket biasanya hanya dipakai pada momen tertentu saja seperti pernikahan, potong gigi, undangan, resepsi dan acara lain. Songket yang diproduksi secara manual biasanya menghabiskan waktu hingga bulanan.

Songket asli ini biasanya berat, motifnya padat dan warnanya cerah. Tenun songket tradisional ini kurang cocok digunakan sehari-hari karena karakternya kurang mendukung.

Songket dipadukan dengan kebaya yang menjadikan tampilan seseorang tampak lebih elegan. Namun demikian harus tetap diperhatikan padanan yang tepat, terutama dari segi pilihan warna-warna. Untuk tampilan netral, banyak yang memilih songket dengan warna dasar hitam karena bisa dipadukan dengan berbagai warna atasan.

“Harga tenun songket asli mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per lembar, sedangkan songket pabrik relatif jauh lebih murah, mulai puluhan ribu rupiah dengan pilihan warna beragam,” tandasnya.*rya

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost