Kuta (BisnisBali) –Kain tradisional, seperti
tenun atau batik yang diproduksi secara manual memiliki daya
tarik tersendiri dengan motif khas masing-masing daerah.
Pedagang tekstil Yunita, Kamis (31/1) kemarin di Kuta mengatakan,
proses produksi dan cara pembuatannya yang rumit membutuhkan
waktu lama dalam pengerjaan sehingga harganya pun jauh lebih
mahal dari kain yang diproduksi pabrik.
Baik kain tradisional maupun kain pabrik memiliki kelemahan
dan kelebihan masing-masing. Tidak sedikit pula motif kain
tradisional ditiru dan diproduksi secara massal oleh pabrik.
Hal ini dilakukan untuk bisa menyerupai dan mengimbangi tampilan
kain tradisional terutama dari segi motif.
“Meski pun tampilannya berbeda dan harganya jauh lebih
murah tekstil ini tetap disukai,” ungkapnya. Masyarakat
juga sudah banyak yang tahu, jika beberapa jenis motif kain
tradisional seperti batik dan tenun tidak sedikit yang diproduksi
pabrik. Mereka juga tahu apa dan bagaimana perbedaannya.
Pedagang tekstil lainnya, Rita mengatakan, selain beberapa
jenis kain tersebut, kain songket kini juga mulai dikerjakan
pabrik. Hasilnya memang tidak sesempurna songket tenunan tapi
songket pabrik lebih ringan, warna beragam, dasar kain lebih
ringan demikian juga benang songketnya. Songket pabrik ini
tetap berbentuk tenunan seperti halnya songket pada umumnya
tapi lebih ringan. Bahan dasar kain yang digunakan cenderung
jatuh dan lembut.
Dikatakan, songket pabrik ini diproduksi di Jawa. Saat ini
mungkin belum begitu banyak ditawarkan di pasar lokal karena
masih pada tahap pengenalan. Namun kain ini diprediksi akan
disukai konsumen, karena selain harganya relatif lebih murah
juga tetap mengutamakan tren motif.
Tenun songket biasanya hanya dipakai pada momen tertentu saja
seperti pernikahan, potong gigi, undangan, resepsi dan acara
lain. Songket yang diproduksi secara manual biasanya menghabiskan
waktu hingga bulanan.
Songket asli ini biasanya berat, motifnya padat dan warnanya
cerah. Tenun songket tradisional ini kurang cocok digunakan
sehari-hari karena karakternya kurang mendukung.
Songket dipadukan dengan kebaya yang menjadikan tampilan seseorang
tampak lebih elegan. Namun demikian harus tetap diperhatikan
padanan yang tepat, terutama dari segi pilihan warna-warna.
Untuk tampilan netral, banyak yang memilih songket dengan
warna dasar hitam karena bisa dipadukan dengan berbagai warna
atasan.
“Harga tenun songket asli mulai ratusan ribu hingga
jutaan rupiah per lembar, sedangkan songket pabrik relatif
jauh lebih murah, mulai puluhan ribu rupiah dengan pilihan
warna beragam,” tandasnya.*rya