16 November 2007  
Home
Berita Terkini

 

Siasati Kelangkaan Rotan, Perajin Furniture Gunakan Bahan Alternatif
Kuta (BisnisBali) –Kelangkaan bahan baku rotan, ternyata tak menyurutkan kreativitas perajin furniture di Bali untuk menghasilkan produk yang inovatif. Jika sebelumnya rotan dijadikan bahan baku utama, kini mereka mulai melirik bahan alternatif lainnya seperti batang pohon pisang (gedebong).

Salah seorang perajin furniture di kawasan Kerobokan, Solihin, Rabu (14/11) lalu, mengungkapkan, gedebong dipilih sebagai bahan baku karena selain mudah didapatkan, kekuatannya juga tak jauh beda dengan rotan. Gedebong yang akan dijadikan bahan baku produk furniture ini, diolah sedemikian rupa, sehingga kekuatannya terjamin.

“Produk furniture yang terbuat dari gedebong ini, cukup diminati konsumen, khususnya di pasar mancanegara. Ini terbukti, permintaan konsumen terhadap furniture yang terbuat dari gedebong terus mengalir,” katanya.

Ia menambahkan, produk furniture dari gedebong ini bentuknya sangat unik dan artistik, sehingga banyak konsumen yang menyukainya. “Konsumennya, tidak saja dari pasar mancanegara, namun juga lokal,” ungkapnya.

Menurut Solihin, salah satu keunggulan produk furniture yang terbuat dari gedebong ini adalah, harganya lebih terjangkau dan bahan bakunya cukup mudah didapatkan. “Sebelumnya banyak konsumen yang meragukan kualitas furniture yang terbuat dari batang pohon pisang ini. Namun, setelah kekuatannya teruji, kini banyak konsumen yang tertarik untuk membelinya,” ujarnya.

Dipilihnya gedebong untuk pembuatan produk furniture, kata Solihin, merupakan salah satu strategi perajin untuk menyiasati kelangkaan bahan baku rotan.

‘’Jika hanya mengandalkan rotan, tentu perajin akan mengalami kesulitan, khususnya dalam penyediaan bahan baku. Sementara saat ini, rotan makin langka dan harganya terus melambung, sehingga membuat daya saing produk menjadi lemah,” ungkapnya.

Ia juga berharap, pemerintah sebagai pemegang kebijakan segera menghentikan ekspor bahan baku rotan. “Kalau ekspor bahan baku rotan tak segera dihentikan, akan banyak perajin yang berguguran karena kalah saing. Sebagai perajin furniture, kami sangat mengharapkan adanya keberpihakan pemerintah terhadap perajin lokal.

Jangan sampai perajin sudah kelimpungan mencari bahan baku, pemerintah malah membuka pintu selebar-lebarnya untuk ekspor bahan baku rotan secara besar-besaran,” paparnya. *yas


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost