Kuta (BisnisBali) –Kelangkaan bahan baku rotan,
ternyata tak menyurutkan kreativitas perajin furniture di
Bali untuk menghasilkan produk yang inovatif. Jika sebelumnya
rotan dijadikan bahan baku utama, kini mereka mulai melirik
bahan alternatif lainnya seperti batang pohon pisang (gedebong).
Salah seorang perajin furniture di kawasan Kerobokan, Solihin,
Rabu (14/11) lalu, mengungkapkan, gedebong dipilih sebagai
bahan baku karena selain mudah didapatkan, kekuatannya juga
tak jauh beda dengan rotan. Gedebong yang akan dijadikan bahan
baku produk furniture ini, diolah sedemikian rupa, sehingga
kekuatannya terjamin.
“Produk furniture yang terbuat dari gedebong ini, cukup
diminati konsumen, khususnya di pasar mancanegara. Ini terbukti,
permintaan konsumen terhadap furniture yang terbuat dari gedebong
terus mengalir,” katanya.
Ia menambahkan, produk furniture dari gedebong ini bentuknya
sangat unik dan artistik, sehingga banyak konsumen yang menyukainya.
“Konsumennya, tidak saja dari pasar mancanegara, namun
juga lokal,” ungkapnya.
Menurut Solihin, salah satu keunggulan produk furniture yang
terbuat dari gedebong ini adalah, harganya lebih terjangkau
dan bahan bakunya cukup mudah didapatkan. “Sebelumnya
banyak konsumen yang meragukan kualitas furniture yang terbuat
dari batang pohon pisang ini. Namun, setelah kekuatannya teruji,
kini banyak konsumen yang tertarik untuk membelinya,”
ujarnya.
Dipilihnya gedebong untuk pembuatan produk furniture, kata
Solihin, merupakan salah satu strategi perajin untuk menyiasati
kelangkaan bahan baku rotan.
‘’Jika hanya mengandalkan rotan, tentu perajin
akan mengalami kesulitan, khususnya dalam penyediaan bahan
baku. Sementara saat ini, rotan makin langka dan harganya
terus melambung, sehingga membuat daya saing produk menjadi
lemah,” ungkapnya.
Ia juga berharap, pemerintah sebagai pemegang kebijakan segera
menghentikan ekspor bahan baku rotan. “Kalau ekspor
bahan baku rotan tak segera dihentikan, akan banyak perajin
yang berguguran karena kalah saing. Sebagai perajin furniture,
kami sangat mengharapkan adanya keberpihakan pemerintah terhadap
perajin lokal.
Jangan sampai perajin sudah kelimpungan mencari bahan baku,
pemerintah malah membuka pintu selebar-lebarnya untuk ekspor
bahan baku rotan secara besar-besaran,” paparnya. *yas