16 November 2007  
Home
Berita Terkini

 

::Potensi
Potensi Gula Nira Terbuang Produk Unggulan Diolah secara Manual
Kabupaten Klungkung, khususnya Kecamatan Dawan seharusnya memiliki produk unggulan yang diyakini mampu meningkatkan pendapatan dan taraf ekonomi masyarakat. Sayang, sejauh ini produk unggulan berupa produksi gula nira (gula merah dari nira kelapa) bisa dikatakan terbuang, karena masih diolah secara manual.

Akibatnya kualitas produksi maupun harga jual di pasaran, berada di bawah standar. Padahal, dari data yang ada, gula merah produksi Dawan sudah diminati masyarakat hingga mancanegara. Terutama Jepang.

Kasubdin Pembinaan Sektor Informal Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Klungkung, Komang Alit Arta Sedana atas petunjuk Kadisperindag, IB. Adnyana, Kamis (15/11) kemarin menyebutkan, produksi gula nira di empat desa di Kecamatan Dawan, Besan, Dawan Klod, Dawan Kaler dan Desa Pikat, mencapai 1 ton per hari dengan menggunakan sistem manual (tradisional).

Seharusnya, melihat ketersediaan bahan baku yang sangat memadai, produksi gula nira bisa mencapai 3 ton setiap hari. Jumlah pengusaha kecil pengolah gula nira diempat desa itu mencapai 384 usaha. ‘’Melihat bahan baku dan potensi yang melimpah, kami akan upayakan dengan pengolahan menggunakan teknologi tepat guna (TTG),’’ ujarnya.

Menuju arah itu, Disperindag tengah mempersiapkan proses pembelian mesin dan tungku pembakaran bahan guna nira. Dengan TTG, hasil produksi bukan semata gula merah, juga gula semut (gula pasir). ‘’Apalagi, perhatian pemerintah sekarang mulai menggeliat untuk pengembangan usaha gula nira itu. Terbukti, tahun 2007 sudah dicairkan anggaran Rp 100 juta,’’ tambahnya.

Disebutkan, harga gula nira jika dijual di warung-warung atau pasar, sekitar 5.500 hingga 8.000 per kilogram. Penjualannya bukan hanya di wilayah Klungkung. Juga sampai ke Kabupaten Bangli dan Gianyar.

‘’Bahkan sudah diekspor ke Jepang. Sayang, yang diekspor itu sudah diakui oleh daerah lain. Karena ekspornya melalui Kecamatan Ubud, Gianyar. Harga ekspornya pun jauh lebih mahal dibanding penjualan di pasar lokal,’’ sebutnya.

Berdasarkan pantauan, daerah Dawan memang sangat terkenal dengan pohon kelapanya. Bukan hanya menghasilkan gula nira, juga bisa dijual dalam bentuk hasil kelapa atau sudah diolah menjadi minyak tandusan. Kelapa sangat potensial tumbuh di Kecamatan Dawan. Karena sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan. *Bali Putra

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost