Semarapura (BisnisBali) – Nusa Penida sejauh
ini masih memiliki sekitar 10 ribu hektar lahan kritis. Makanya,
sangat dibutuhkan langkah-langkah konprehensif dan berkesinambungan
untuk menanganinya.
Minimal, langkah yang diambil nantinya mampu memberi kontribusi
bagi masyarakat agar tak lagi mengalami berbagai krisis sebagaimana
dihadapi saat ini. Di antaranya krisis air bersih, krisis
hasil panen dan lain sebagainya.
Menurut peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang)
Hutan Tanaman Departemen Kehutanan, berbagai hal sebenarnya
dapat dilakukan untuk mengatasi problem lahan kritis tersebut.
Salah satunya memperbanyak penanaman hutan rakyat. ‘’Kondisi
Nusa Penida sangat berbeda dengan kondisi lahan di tempat
lain.
Biasanya tanah berkapur, Nusa Penida lahannya justru kapur
bertanah,’’ sebut Kepala Puslitbang Hutan Tanaman,
Dr. Ir. Harry Santoso dalam sebuah pertemuan dengan Sekda
Klungkung beserta pimpinan unit/instansi di lingkungan Pemkab
Klungkung serta tokoh masyarakat Nusa Penida, Kamis (15/11)
kemarin.
Disebutkan Harry, selama tiga tahun atau sejak tahun 2004
melakukan penelitian di beberapa lokasi di Kecamatan Nusa
Penida, ditemui kenyataan bahwa tanaman rakyat berupa cendana,
mahoni, kemiri dan jati merupakan tanaman yang potensial mengatasi
lahan kritis di Nusa Penida.
‘’Secara vegetatif, cendana, mahoni, kemiri dan
jati sangat bagus pertumbuhannya di Nusa Penida. Memang, sejauh
ini kami belum bisa menemukan kandungan kimianya yang berpengaruh
terhadap kualitas aroma (cendana-red),’’ tandasnya.
Dikatakan, atas hasil penelitiannya tersebut, Harry Santoso
melibatkan tiga penelitinya, Heti Hariyati, Tati Rostiwati
dan Wayan Widiana Susila mencoba mengembangkan hutan rakyat
sejak tahun 2006. Luasnya mencapai 6 hektar yang berlokasi
di Desa Batukandik.
‘’Bukan hanya hutan rakyat, tanaman buah-buahan
lokal juga potensial dikembangkan,’’ tandasnya
seraya menyebutkan, ke depan pengembangan akan dilakukan,
selain pengembangan hutan rakyat juga pengembangan tanaman
buah lokal. Di antaranya tanaman mangga Nusa Penida yang selama
ini sangat terkenal dan tanaman jambu mente.
Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kabupaten
Klungkung, Wayan Muliartha menyebutkan, selama ini pihaknya
sudah berusaha melakukan gerakan penghijauan dan rehabilitasi
hutan dan lahan melalui Gerhan.
Sedikitnya, 5.000 hektar lahan sudah dihijaukan dengan penanaman
jati, mahoni dan nangka. Menurut dia, tingkat keberhasilan
Gerhan mencapai 60 persen. ‘’Tahun ini, juga sudah
diplot untuk seribu hektar lahan Gerhan. Syukur saja, hujan
sudah mulai turun sehingga program Gerhan bisa segera terlaksana,’’
sebutnya.
Sekda Klungkung, Ketut Janapria menambahkan, gerakan penghijauan
dan rehabilitasi hutan sudah dilakukan Pemkab Klungkung melalui
penganggaran dalam APBD sejak zaman Orde Baru (Orba). Termasuk
tahun 2008, Klungkung sudah dirancang mendapat Dana Alokasi
Khusus (DAK) untuk pertama kalinya di bidang kehutanan sebesar
Rp 900 juta.
‘’Ya, mudah-mudahan ke depan semua pihak tidak
hanya menggembor-gemborkan soal luas penanamannya saja tanpa
memperhatikan keberhasilan. Minimal, antara input (penanaman)
dengan output (hasil) berimbang,’’ harap Sekda
baru Klungkung itu. *bal
|