16 November 2007  
Home
Berita Terkini

 

::Potensi
Cendana, Potensial Atasi Lahan Kritis Nusa Penida
Semarapura (BisnisBali) – Nusa Penida sejauh ini masih memiliki sekitar 10 ribu hektar lahan kritis. Makanya, sangat dibutuhkan langkah-langkah konprehensif dan berkesinambungan untuk menanganinya.

Minimal, langkah yang diambil nantinya mampu memberi kontribusi bagi masyarakat agar tak lagi mengalami berbagai krisis sebagaimana dihadapi saat ini. Di antaranya krisis air bersih, krisis hasil panen dan lain sebagainya.

Menurut peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Hutan Tanaman Departemen Kehutanan, berbagai hal sebenarnya dapat dilakukan untuk mengatasi problem lahan kritis tersebut.

Salah satunya memperbanyak penanaman hutan rakyat. ‘’Kondisi Nusa Penida sangat berbeda dengan kondisi lahan di tempat lain.

Biasanya tanah berkapur, Nusa Penida lahannya justru kapur bertanah,’’ sebut Kepala Puslitbang Hutan Tanaman, Dr. Ir. Harry Santoso dalam sebuah pertemuan dengan Sekda Klungkung beserta pimpinan unit/instansi di lingkungan Pemkab Klungkung serta tokoh masyarakat Nusa Penida, Kamis (15/11) kemarin.

Disebutkan Harry, selama tiga tahun atau sejak tahun 2004 melakukan penelitian di beberapa lokasi di Kecamatan Nusa Penida, ditemui kenyataan bahwa tanaman rakyat berupa cendana, mahoni, kemiri dan jati merupakan tanaman yang potensial mengatasi lahan kritis di Nusa Penida.

‘’Secara vegetatif, cendana, mahoni, kemiri dan jati sangat bagus pertumbuhannya di Nusa Penida. Memang, sejauh ini kami belum bisa menemukan kandungan kimianya yang berpengaruh terhadap kualitas aroma (cendana-red),’’ tandasnya.

Dikatakan, atas hasil penelitiannya tersebut, Harry Santoso melibatkan tiga penelitinya, Heti Hariyati, Tati Rostiwati dan Wayan Widiana Susila mencoba mengembangkan hutan rakyat sejak tahun 2006. Luasnya mencapai 6 hektar yang berlokasi di Desa Batukandik.

‘’Bukan hanya hutan rakyat, tanaman buah-buahan lokal juga potensial dikembangkan,’’ tandasnya seraya menyebutkan, ke depan pengembangan akan dilakukan, selain pengembangan hutan rakyat juga pengembangan tanaman buah lokal. Di antaranya tanaman mangga Nusa Penida yang selama ini sangat terkenal dan tanaman jambu mente.

Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kabupaten Klungkung, Wayan Muliartha menyebutkan, selama ini pihaknya sudah berusaha melakukan gerakan penghijauan dan rehabilitasi hutan dan lahan melalui Gerhan.

Sedikitnya, 5.000 hektar lahan sudah dihijaukan dengan penanaman jati, mahoni dan nangka. Menurut dia, tingkat keberhasilan Gerhan mencapai 60 persen. ‘’Tahun ini, juga sudah diplot untuk seribu hektar lahan Gerhan. Syukur saja, hujan sudah mulai turun sehingga program Gerhan bisa segera terlaksana,’’ sebutnya.

Sekda Klungkung, Ketut Janapria menambahkan, gerakan penghijauan dan rehabilitasi hutan sudah dilakukan Pemkab Klungkung melalui penganggaran dalam APBD sejak zaman Orde Baru (Orba). Termasuk tahun 2008, Klungkung sudah dirancang mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pertama kalinya di bidang kehutanan sebesar Rp 900 juta.

‘’Ya, mudah-mudahan ke depan semua pihak tidak hanya menggembor-gemborkan soal luas penanamannya saja tanpa memperhatikan keberhasilan. Minimal, antara input (penanaman) dengan output (hasil) berimbang,’’ harap Sekda baru Klungkung itu. *bal
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost