Brisbane - Atase Perdagangan RI di KBRI Canberra,
Retno Kusumo Astuti, mengatakan, sudah saatnya restoran-restoran
Indonesia yang tersebar di berbagai kota penting di Australia
ikut menjadi ujung tombak promosi produk-produk ekspor nasional
disamping pusat promosi perdagangan Indonesia (ITPC).
"Hal serupa sebenarnya telah lama dilakukan oleh restroran-restoran
Thailand dan Malaysia. Sebaiknya restoran-restoran kita pun
ikut mempromosikan produk-produk Indonesia dengan misalnya
melengkapi interior restoran dengan produk-produk kerajinan
tangan khas Indonesia," katanya, Kamis.
Potensi restoran Indonesia di berbagai kota penting Australia,
seperti Sydney, Melbourne, Brisbane, dan Perth, sangat besar,
katanya. Di Melbourne misalnya, terdapat belasan restoran
dan kafe Indonesia dengan potensi pasar sekitar 21 ribu warga
Indonesia yang menetap di ibukota kota negara bagian Victoria
itu dan sekitarnya.
Beberapa di antaranya adalah Restoran/Kafe "Bamboe",
"Es Teler Clayton", "Garamerica", "Garuda
Kitchen", "Nelayan", "Warung Gudeg",
"Blok M", dan "Garage Cafe & Bar".
Sejauh ini beberapa produk ekspor Indonesia yang sudah masuk
ke pasar negara berpenduduk 20,2 juta jiwa itu adalah furnitur,
peralatan elektronika, produk makanan olahan, garmen, dan
kerajinan tangan, katanya.
Perdagangan bilateral Indonesia dan Australia pada 2006 mencapai
10,4 milyar dolar dan menjadikan Indonesia negara mitra dagang
ke-13 Australia.
Negara-negara tujuan ekspor dan impor utama Australia selama
ini adalah Cina, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Selandia
Baru, Singapura, dan Jerman.
Total nilai ekspor Australia mencapai 210 miliar dolar (2006)
dan setiap tahunnya menerima sekitar 5,5 juta orang pengunjung
asing. *ant