16 November 2007  
Home
Berita Terkini

 

::Boga
Variasi Makanan Tip Praktis Atasi Anak Susah Makan
Problema sulit makan pada anak di usia balita umumnya mulai ditemui pada usia anak 1-4 tahun. Banyak hal yang menyebabkan anak susah makan.

Berikut beberapa penyebab anak susah makan dan cara mengatasinya:

1. Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.

Menu makan saat bayi (> 6 bulan) yang itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yang campur aduk antara lauk-pauk seperti makanan diblender jadi satu.

Sama seperti orang dewasa, kalau mengkonsumsi makanan dengan menu yang sama tiap hari dan disajikan campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dengan pengenalan makanan kasar.

Tip : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak minimal selama 1 minggu untuk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinternya ibu memberikan makanan bervariasi. Contoh, bila anak tidak mau nasi, bisa diganti dengan roti, makaroni, pasta, bakmi, dan lainnya.

Penyajian makanan yang menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk-pauknya. Hias dengan aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu.

2. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan, sehingga anak tidak merasa lapar. Seperti permen, minuman ringan, cokelat, hingga snack ber-MSG. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan.

Tip : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat seperti potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dan lainnya.

3. Minum susu terlalu banyak. Susu dibanyak keluarga dianggap sebagai makanan "dewa" yang bisa menggantikan makanan utama seperti nasi, sayur dan lauk pauknya. Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar.

Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu. Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1 tahun, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib.

Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Sementara, kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan dalam ikan-ikanan, sayur dan buah.

Tip : Kurangi susu. Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dengan berbagai jenis makanan.

4. Terpengaruh kebiasaan orangtuanya. Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orangtuanya. Banyak perilaku dilakukan orangtuanya yang mempengaruhi perilaku makan anak.

Misal anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang malas makan (diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orangtua masih menyuapi anak yang sudah kelas V SD. Akibatnya anak tidak terlatih untuk bisa makan sendiri.

Perilaku makan yang kurang pas juga salah satunya seperti kebiasaan ortu ketika menenangkan anak yg sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, cokelat). Akibatnya anak kekenyangan dan malas makan.

Tip : Perhatikan dan ubah kebiasaan dan perilaku orangtua kapan pun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yg ia dapat dari lingkungan sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Tidak perlu takut berantakan.

5. Munculnya sikap tidak mau patuh normal dilewati tiap anak.
Pada usia >2 tahun, anak sering tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang "tidak mau", makanannya suka dilepeh atau dilempar, dan sebagianya. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yang dilalui tiap anak usia balita.

6. Banyak orangtua yang tidak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orangtua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada orangtua yang mengancam anaknya bahkan memukul.

Cara-cara tersebut harus dihindari. Justru semakin anak pada usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya). Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan.

Tip : Pahami kondisi anak dengang baik. Jadilah ortu yang otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yang baik dengan anak. Bersabarlah menghadapi anak.

7. Anak sedang sakit/sedih
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan karena anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang
dan "cerewet", maka dikala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

Tip : Kembali pada konsep bina komunikasi yang baik. Jangan paksakan anak kalau tidak mau makan. Beri makanan ringan yang padat kalori, seperti makaroni skutel, dan lainnya. *dik/berbagai sumber

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost