Badung (BisnisBali) –Mendekati
akhir tahun 2007, kue pai masih merajai permintaan masyarakat.
Ini terjadi karena pai merupakan camilan bergaya Eropa,
namun diterima luas di masyarakat lokal.
Cita rasa yang spesial dari rasa manis hingga gurih, serta
dijual dengan berbagai bentuk dan ukuran, mampu membuat
pai menjadi lahan bisnis menjanjikan ke depannya.
‘’Penjualan pai di 2008 kami optimis masih merajai
permintaan masyarakat. Terutama pai rasa manis dan gurih,”
kata Lila, karyawan salah satu toko kue di Kuta, Kamis (15/11)
kamarin.
Permintaan pai hingga mendekati akhir tahun bisa mencapai
omzet lebih dari Rp 400.000 per hari. Pangsa pasar menyasar
kalangan wisatawan mancanegara, domestik hingga lokal dalam
bentuk acara formal maupun nonformal.
Dijelaskan, bentuknya yang cantik cocok untuk disajikan
saat menjamu tamu atau menjadi camilan sehari-hari di rumah.
Pai merupakan camilan multifungsi yang bisa disajikan sebagai
makanan penutup (dessert) atau makanan pembuka (appetizer).
Pai sebagai makanan dessert biasanya lebih banyak rasa manis
dan ditawarkan ukuran mini (tartlet). Kue ini terdiri dari
dua bagian, yakni bagian kulit dan bagian isi.
Pai mini manis, imbuh Lila, biasanya ditawarkan berbagai
macam bentuk dan variasi isi. Ada yang berisi buah-buahan
segar seperti apel, jeruk nipis, kacang, stoberi, mangga,
nanas hingga ada yang mencampur dengan sayuran seperti labu
dan ubi.
‘’Untuk memperkaya citra rasa banyak pebisnis
kue menambahkan cokelat, gula palem, atau kopi,” ungkapnya.
Sementara pai gurih adalah camilan bercitra rasa asin yang
cocok dihidangkan sebagai appetizer. Pai bercita rasa gurih
disukai karena dibuat dari sumber protein hewani, seperti
daging ayam, daging sapi, ikan asap dan olahannya.
Tetapi ada juga yang dibuat dari sumber protein nabati,
yang rasanya tak kalah lezat, yaitu dari tahu. Bahkan, sayur-sayuran
hingga keju. Hal serupa dikatakan Bagas, pengelola toko
kue lainnya di Denpasar. Pai tetap primadona di masyarakat.
Harga jual yang terjangkau semua kalangan namun memiliki
kelas di masyarakat membuat pai disukai semua lapisan sosial
di masyarakat.
‘’Kue yang berkiblat pada tren Eropa dapat dipastikan
tetap eksis di 2008 nanti,” ucapnya. Kiat usaha agar
bisnis pai tetap eksis di 2008, menurut Bagas, gunakan bahan
baku lokal dengan kualitas impor. Khususnya dalam memenuhi
permintaan masyarakat yang menginginkan pai dengan harga
jual relatif murah.
‘’Pai apel misalnya. Harga pai apel bisa dikatakan
relatif mahal ditawarkan di pasaran. Sebab bahan baku yang
digunakan hampir sebagian besar bahan impor,” katanya.
Kendati menggunakan bahan lokal, imbuhnya, bukan berarti
cita rasa dan kualitas akhir pai apel akan berubah. Cita
rasa dan tekstur apel dapat dipastikan tetap sama seperti
pai apel berbahan baku impor. *dik
|