Bangli (BisnisBali) -Meski sebagian besar hanya diusahakan
sebagai usaha sambilan keluarga, ternyata jaja gina produksi
Bangli tetap eksis di pasaran. Hal ini selain disebabkan bahan
baku yang dipergunakan sangat terpilih, juga proses pengolahannya
juga relatif cukup lama.
“Permintaan di pasaran memang tetap tinggi, namun lantaran
ini hanya kebutuhan keluarga kami memang hanya mampu mensuplai
kebutuhan pasar lokal saja,” ungkap Ibu Darmi, salah
seorang perajin jaja Gina asal Bangli, belum lama ini.
Menurut Darmi, permintaan jaja gina akan makin meningkat menjelang
hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan maupun hari
besar lainnya. Bahkan menurutnya, saking banyaknya permintaan
dirinya mengaku kewalahan untuk memenuhi pesanan pelanggan.
Oleh sebab itu, pihaknya seringkali mempersiapkan jaja gina
jauh hari sebelum hari raya. ”Ya namanya usaha keluarga,
kami memang rutin membuat jaja khas Bali ini,” tegas
Darmi.
Terkait dengan selera konsumen, Darmi mengatakan, pada umumnya
konsumen lebih memilih jaja gina yang dicampur dengan gula
merah, ketimbang jaja gina tanpa gula. Hal ini disebabkan
selain untuk kebutuhan pembuatan
banten, banyak juga konsumen yang membeli jaja gina untuk
dimakan atau dijual ke pasar lainnya. ‘’Jika untuk
dikonsumsi sendiri tentunya konsumen akan memilih jaja gina
dengan gula merah,” jelasnya. *jel
|