16 November 2007  
Home
Berita Terkini

 

Nusa Dua (BisnisBali) –Kita telah puluhan tahun menggantungkan diri kepada satu saja sumber energi yaitu minyak bumi. Subsidi pemerintah kepada beberapa jenis produk minyak bumi membuat energi ini murah sehingga tingkat konsumsinya dari tahun ke tahun makin meningkat.

Pertambahan penduduk, percepatan pembangunan, dan kesejahteraan penduduk yang meningkat telah meningkatkan konsumsi energi minyak bumi.

Demikian diungkapkan Presiden Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Achmad Luthfi pada ‘’Optimization of Mixed-Energy Resources for National Energy Security”, di Nusa Dua.

Di lain pihak, kata Luthfi, kecenderungan produksi minyak bumi di dalam negeri makin menurun. Ditambah lagi, tingkat penemuan cadangan baru minyak bumi juga menurun akibat berkurangnya aktivitas eksplorasi.

Karena konsumsi minyak bumi sudah sulit untuk dikurangi, pemerintah kita terpaksa mengimpor minyak bumi dan bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah yang kian membesar.

‘’Impor bahan tersebut saat ini sudah melebihi ekspor minyak bumi kita, Indonesia saat ini sudah menjadi negara net oil importer,’’ ujarnya. Kondisi ini, kata dia, diperburuk lagi dengan naiknya harga minyak bumi dunia ke tingkat hampir 100 dolar AS per barel. Kondisi ini akan sangat menguntungkan negara-negara penghasil minyak bumi yang mengekspor minyaknya.

Indonesia juga mendapatkan keuntungan karena kenaikan harga ini, tetapi kita juga mengimpor minyak dalam jumlah besar. Dengan kondisi tersebut, pemerintah harus mengeluarkan dana lebih besar untuk membeli minyak. Untuk Indonesia, kenaikan harga minyak ini lebih dirasakan akibat dari pada manfaatnya.

‘’Karena kenaikan harga tersebut, kata Luthfi, pemerintah harus mengeluarkan dana sampai Rp 91 trilyun untuk subsidi BBM, dari anggaran semula Rp 55 trilyun,’’ ujarnya.

Lantas bagaimana mengatasi hal tersebut? Menurut Luthfi, ekstensifikasi dan intensifikasi eksplorasi minyak bumi adalah salah satu solusinya. Cekungan-cekungan sedimen yang selama ini tidak dilirik para investor harus mulai dipelajari dengan sungguh-sungguh, melakukan survai pendahuluan, survai detail dan membuktikan kandungan hidrokarbonnya melalui pemboran.

Intensifikasi eksplorasi di cekungan berproduksi pun perlu terus dilakukan dengan cara mengebor prospek-prospek yang sudah diidentifikasi, menerapkan konsep-konsep baru, dan sebagainya. Dari pekerjaan-pekerjaan eksplorasi ini diharapkan akan ditemukan cadangan-cadangan migas baru.

‘’Pemerintah akan mendukung semua kegiatan seperti ini, sebab hal tersebut sejalan dengan strategi energi nasional,’’ terangnya. Diversifikasi energi adalah suatu hal mutlak yang harus dilakukan. Hal ini, kata dia, bukan situasi yang baru sebab telah diserukan oleh para ahli sejak belasan tahun lalu.

Hanya, pemerintah dan masyarakat semua tidak menyikapinya dengan bersungguh-sungguh, sehingga kita terlambat mendiversifikasi energi secara bersungguh-sungguh. Memang, kita juga telah mengusahakan diversifikasi energi seperti gas, batubara dan panas bumi, namun proporsinya masih kecil dibandingkan pemakaian minyak bumi.

Pemerintah harus konsisten mengacu kepada program diversifikasi energi yang spesifik dan konsisten. Pemerintah pernah menjalankan program diversifikasi berupa biodisel, briket batubara, konversi minyak tanah ke elpiji. Program-program ini terkesan berjalan setengah-setengah.

Banyak penyebabnya, termasuk tentangan dari masyarakat yang tidak terbiasa menggunakannya, atau juga secara teknis memang belum dirasakan praktis menggunakannya.

Sebenarnya jika pemerintah memiliki kemampuan secara serentak melakukan program diversifikasi energi ini yang didukung sepenuh hati oleh masyarakat, niscaya program diversifikasi energi akan berjalan dengan baik.

‘’Tetapi apabila program ini berjalan setengah-setengah, maka program diversifikasi energi akan selalu berjalan di tempat,’’ ujarnya. Untuk kebutuhan diversifikasi energi, kata Luthfi, semua unsur di dalam negeri ini harus bergerak dan berperan aktif.

Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang serius tentang diversifikasi energi dan menjalankannya tidak setengah-setengah atau maju-mundur.

Masyarakat harus mulai membiasakan diri tidak bergantung seluruhnya kepada minyak, tetapi juga kepada bahan energi lain seperti batubara dan gas. Para ahli teknik energi harus mencari solusi yang terbaik bagaimana agar kita dapat menggunakan energi di luar minyak dengan murah, praktis, dan aman.

Para ahli kebumian bertugas menemukan sumber-sumber energi baru dari bumi seperti air, minyak bumi, gas bumi, batubara, panas bumi, uranium, dan sebagainya.

‘’Tanpa keseriusan semua unsur di negeri ini, usaha diversifikasi energi yang baik akan tetap berjalan di tempat atau maju lalu mundur lagi, maju lagi, dan seterusnya,’’ papar Luthfi. *nat

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost