Nusa Dua (BisnisBali) –Kita telah
puluhan tahun menggantungkan diri kepada satu saja sumber
energi yaitu minyak bumi. Subsidi pemerintah kepada beberapa
jenis produk minyak bumi membuat energi ini murah sehingga
tingkat konsumsinya dari tahun ke tahun makin meningkat.
Pertambahan penduduk, percepatan pembangunan, dan kesejahteraan
penduduk yang meningkat telah meningkatkan konsumsi energi
minyak bumi.
Demikian diungkapkan Presiden Ikatan Ahli Geologi Indonesia
(IAGI), Achmad Luthfi pada ‘’Optimization of
Mixed-Energy Resources for National Energy Security”,
di Nusa Dua.
Di lain pihak, kata Luthfi, kecenderungan produksi minyak
bumi di dalam negeri makin menurun. Ditambah lagi, tingkat
penemuan cadangan baru minyak bumi juga menurun akibat berkurangnya
aktivitas eksplorasi.
Karena konsumsi minyak bumi sudah sulit untuk dikurangi,
pemerintah kita terpaksa mengimpor minyak bumi dan bahan
bakar minyak (BBM) dalam jumlah yang kian membesar.
‘’Impor bahan tersebut saat ini sudah melebihi
ekspor minyak bumi kita, Indonesia saat ini sudah menjadi
negara net oil importer,’’ ujarnya. Kondisi
ini, kata dia, diperburuk lagi dengan naiknya harga minyak
bumi dunia ke tingkat hampir 100 dolar AS per barel. Kondisi
ini akan sangat menguntungkan negara-negara penghasil minyak
bumi yang mengekspor minyaknya.
Indonesia juga mendapatkan keuntungan karena kenaikan harga
ini, tetapi kita juga mengimpor minyak dalam jumlah besar.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah harus mengeluarkan dana
lebih besar untuk membeli minyak. Untuk Indonesia, kenaikan
harga minyak ini lebih dirasakan akibat dari pada manfaatnya.
‘’Karena kenaikan harga tersebut, kata Luthfi,
pemerintah harus mengeluarkan dana sampai Rp 91 trilyun
untuk subsidi BBM, dari anggaran semula Rp 55 trilyun,’’
ujarnya.
Lantas bagaimana mengatasi hal tersebut? Menurut Luthfi,
ekstensifikasi dan intensifikasi eksplorasi minyak bumi
adalah salah satu solusinya. Cekungan-cekungan sedimen yang
selama ini tidak dilirik para investor harus mulai dipelajari
dengan sungguh-sungguh, melakukan survai pendahuluan, survai
detail dan membuktikan kandungan hidrokarbonnya melalui
pemboran.
Intensifikasi eksplorasi di cekungan berproduksi pun perlu
terus dilakukan dengan cara mengebor prospek-prospek yang
sudah diidentifikasi, menerapkan konsep-konsep baru, dan
sebagainya. Dari pekerjaan-pekerjaan eksplorasi ini diharapkan
akan ditemukan cadangan-cadangan migas baru.
‘’Pemerintah akan mendukung semua kegiatan seperti
ini, sebab hal tersebut sejalan dengan strategi energi nasional,’’
terangnya. Diversifikasi energi adalah suatu hal mutlak
yang harus dilakukan. Hal ini, kata dia, bukan situasi yang
baru sebab telah diserukan oleh para ahli sejak belasan
tahun lalu.
Hanya, pemerintah dan masyarakat semua tidak menyikapinya
dengan bersungguh-sungguh, sehingga kita terlambat mendiversifikasi
energi secara bersungguh-sungguh. Memang, kita juga telah
mengusahakan diversifikasi energi seperti gas, batubara
dan panas bumi, namun proporsinya masih kecil dibandingkan
pemakaian minyak bumi.
Pemerintah harus konsisten mengacu kepada program diversifikasi
energi yang spesifik dan konsisten. Pemerintah pernah menjalankan
program diversifikasi berupa biodisel, briket batubara,
konversi minyak tanah ke elpiji. Program-program ini terkesan
berjalan setengah-setengah.
Banyak penyebabnya, termasuk tentangan dari masyarakat yang
tidak terbiasa menggunakannya, atau juga secara teknis memang
belum dirasakan praktis menggunakannya.
Sebenarnya jika pemerintah memiliki kemampuan secara serentak
melakukan program diversifikasi energi ini yang didukung
sepenuh hati oleh masyarakat, niscaya program diversifikasi
energi akan berjalan dengan baik.
‘’Tetapi apabila program ini berjalan setengah-setengah,
maka program diversifikasi energi akan selalu berjalan di
tempat,’’ ujarnya. Untuk kebutuhan diversifikasi
energi, kata Luthfi, semua unsur di dalam negeri ini harus
bergerak dan berperan aktif.
Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang serius
tentang diversifikasi energi dan menjalankannya tidak setengah-setengah
atau maju-mundur.
Masyarakat harus mulai membiasakan diri tidak bergantung
seluruhnya kepada minyak, tetapi juga kepada bahan energi
lain seperti batubara dan gas. Para ahli teknik energi harus
mencari solusi yang terbaik bagaimana agar kita dapat menggunakan
energi di luar minyak dengan murah, praktis, dan aman.
Para ahli kebumian bertugas menemukan sumber-sumber energi
baru dari bumi seperti air, minyak bumi, gas bumi, batubara,
panas bumi, uranium, dan sebagainya.
‘’Tanpa keseriusan semua unsur di negeri ini,
usaha diversifikasi energi yang baik akan tetap berjalan
di tempat atau maju lalu mundur lagi, maju lagi, dan seterusnya,’’
papar Luthfi. *nat