Jakarta, 15/11 (ANTARA) - Sidang PBB
tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bali pada Desember mendatang
harus ikut membahas penghapusan utang luar negeri negara-negara
berkembang karena terbukti utang luar negeri membawa malapetaka
lingkungan hidup yang teramat mahal.
Pernyataan itu disampaikan oleh Torry, seorang penggiat
lingkungan hidup dari Walhi, di Jakarta, Kamis. Menurut
dia, utang luar negeri telah membawa malapetaka lingkungan
hidup yang parah, karena harus menggenjot ekonominya untuk
membayar hutan dengan membuka pasar dan hutan secara masif.
"Contoh di Indonesia, sejak menerima banyak utang luar
negeri banyak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh
pembukaan hutan. Padahal Indonesia 62 persennya terdiri
atas tanah hutan, yang kemudian berpotensi konflik sosial
yang meluas," kata dia.
Agenda restrukturisasi utang luar negeri memang belum direncanakan
dalam sidang UNFCCC di Bali mendatang, tetapi Forum Menteri
Keuangan akan membahas masalah perubahan iklim dari sisi
keuangan dan fiskal di Bali pada 11 Desember 2007.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Rabu
(14/11), menyatakan, hasil pertemuan para menteri keuangan
ini akan disampaikan pada sesi utama sidang UNFCCC pada
13 Desember 2007 di Bali.
Pertemuan para menteri keuangan membahas perubahan iklim
dari sisi keuangan dan fiskal merupakan pertemuan pertama
dalam sejarah pertemuan menteri keuangan selama ini.
"Pertemuan akan didahului dengan pertemuan para deputi
menteri keuangan pada tanggal 10 Desember 2007 di Bali,"
kata Sri Mulyani. Pertemuan menteri keuangan akan dibagi
ke dalam empat sesi yaitu membahas pengaruh perubahan iklim
terhadap sisi ekonomi, instrumen kebijakan keuangan dan
fiskal yang akan diambil atas perubahan iklim.
Sesi ketiga membahas upaya menyamakan persepsi di antara
menteri keuangan dalam membahas perubahan iklim, dan sesi
keempat berisi penyusunan program lanjutan.
"Program lanjutan diharapkan berisi program yang relevan
sebagai tindak lanjut pertemuan menteri keuangan yang akan
dijalankan di masa depan," kata Sri Mulyani.
Sebanyak 39 negara berkembang dan maju, serta sembilan pimpinan
lembaga keuangan direncanakan hadir di pertemuan itu. "Baru
18 menteri keuangan yang memastikan hadir di antaranya Austria,
Australia, Brunei Darusalam, Mexico, New Zealand, Portugal,
Thailand, Denmark, Portugal, Singapura, dan Arab Saudi,"
katanya.
Negara yang masih dalam konfirmasi antara lain Argentina,
Ghana, Laos dan Myanmar. Sementara Peru memastikan tidak
hadir. Deputi menteri keuangan yang akan hadir antara lain
dari Jepang, Polandia dan Turkey sedangkan lembaga keuangan
yang akan hadir antara lain World Bank, Dana Moneter Internasional
(IMF), Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Pembangunan
Islam/IDB.
(T.E012)
|