Denpasar (BisnisBali) –Permintaan sapi Bali
untuk pasar di Jawa makin besar. Keunggulan sapi Bali di pasar
Jawa karena memiliki tulang kecil dengan daging yang tebal.
Kondisi tersebut bagi konsumen jadi nilai lebih dibandingkan
dengan membeli produksi sapi dari daerah lain.
“Saya sampai kewalahan walau memenuhi untuk satu perusahaan
saja yang ada di Jawa,” tutur Ketut Sama Wijaya, Peternak
Sapi dari Desa Budeng Jembrana ketika ditemui di ajang Pasar
Lelang Forward Komoditi Agro (PLFKA) ke- 20 di Renon, Kamis
(15/11) kemarin.
Sayangnya, meski peluang tersebut cukup besar, namun hanya
bisa dipenuhi dengan rata-rata 8 ekor sapi potong per hari
untuk memenuhi permintaan satu perusahaan yang ada di Ciawi-Bogor.
Jelasnya, cerahnya peluang pasar untuk sapi Bali juga dibarengi
dengan harga jual komoditi lokal yang juga menguntungkan bagi
peternak di sektor ini. Contoh saja, untuk daging sapi dalam
bentuk karkas harga di Jawa bisa mencapai Rp 30.950 per kg,
sedangkan untuk harga sapi hidup dijual di kisaran Rp 17.000
per kg, harga jual sapi hidup tersebut berlaku untuk berat
sapi yang dijual minimal di atas 300 kg.
Sementara itu, terkait pelaksanaan PLFKA ke- 20, Kepala Dinas
Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali, Drs. I Gusti
Ngurah Sutedja dalam sambutannya yang dibacakan Kasubdin Perdagangan
Dalam Negeri Disperindag Bali, Drs. Bagus Ketut Wijaya mengungkapkan,
ajang PLFKA yang sudah berjalan sebanyak 19 kali kegiatan
total transaksi tercatat mencapai Rp 274.042.992.500. Sementara
menyangkut jenis komoditi yang telah ditawarkan di pasar lelang
selama ini antara lain, dari hasil pertanian, perikanan, peternakan
dan dari hasil perkebunan.
Imbuhnya, menyangkut ajang PLFKA ke -20 ini yang dilaksanakan
menjelang akhir tahun ini ada delapan komoditi ditawarkan
di ajang tersebut, di antaranya alpukat, pepaya, mangga, jeruk
dan sapi. Sementara total transaksi yang tercatat pada ajang
PLFKA ke- 20 ini mencapai Rp 41.477.320.000.*man