16 November 2007  
Home
Berita Terkini

 

Agro & Hobi
Bertani Hidroponik, Biaya Produksi Murah, Harga Jual Mahal
Denpasar (BisnisBali) –Selain bisa dikembangkan di lahan sempit, dari segi biaya penerapan pola pertanian hidroponik relatif murah untuk diusahakan. Pasalnya, beberapa bahan baku yang digunakan untuk perlengkapan media hidup bisa disubtitusikan dengan tanpa mengurangi kualitas dan jumlah produksi.

“Meski terkesan merupakan pola pertanian modern, namun bertani dengan pola hidroponik ini bukanlah suatu yang mahal. Sebab itu, semua orang bisa mengusahakannya,” tutur Ketua Kelompok tani Swaka Guna Sejahtera Ir. Wayan Wisnawa, di Br. Pondok Desa Peguyangan Kaja, Rabu (14/11) lalu.

Terang Wisnawa, untuk mengembangkan pertanian hidroponik pada umumnya memang diperlukan areal yang tertutup, namun sinar matahari tetap bisa masuk. Itu tujuannya untuk menjaga suhu dan kondisi penyinaran pada tanaman yang dibudidayakan agar tidak dalam kondisi berlebih.

Biasanya persyaratan tersebut beberapa orang menyikapi dengan penggunaan plastik pada seluruh bagian sebagai atap maupun dinding ruangan pada areal budi daya atau biasa disebut dengan rumah kaca.

Imbuhnya, bila biaya pembuatan rumah kaca ini dirasa mahal, petani bisa menggantikannya dengan penggunaan atap berbahan plastik dengan dinding menggunakan paranet.

Di arel budi dayanya dengan menggunakan plastik sebagai media hidup di luas arel 1 setengah are, diperkirakan biaya investasi untuk pembuatan tersebut mencapai Rp 2 jutaan.

Biaya tersebut masih dimungkinkan lagi untuk dikurangi, bila mau dibuat secara tidak permanen. Imbuhnya, meski media hidup digantikan, namun pertumbuhan dan kualitas produksi tanaman hidroponik pada kondisi tersebut masih dimungkinkan tumbuh baik.

“Dengan gambaran seperti itu, siapa saja bisa mengembangkan pola pertanian hidroponik ini,” ujarnya. Relatif murahnya biaya usaha pertanian hodroponik diikuti lagi dengan keuntungan lain seperti, harga jual hasil produksi hidroponik dalam bentuk organik yang banyak dibutuhkan pasar juga relatif lebih mahal dibandingkan dengan komoditi sejenis hasil pertanian secara konvensional.

Sebagai gambaran, untuk pasaran lokal saja pemenuhan akan sayur organik ini belum bisa terpenuhi pasar secara baik. Dalam artian masih tinggi peluang pasar sayur organik untuk diserap pasar saat ini. Selain itu, harga jual hasil pertanian hidroponik bisa dua kali lipat bahkan lebih dari harga hasil pertanian konvensional.

“Saya contohkan, bila hasil pertanian konvensional jenis sayur selada dijual di pasaran berkisar Rp 1.000-an per 250 gram, namun komoditi sama untuk hidroponik harganya mencapai Rp 4.500 per 250 gram. Itu berarti ada keuntungan lebih yang didapat petani dari pertanian hidroponik ini,” tegasnya.*man

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost