Denpasar (BisnisBali) –Selain bisa dikembangkan
di lahan sempit, dari segi biaya penerapan pola pertanian
hidroponik relatif murah untuk diusahakan. Pasalnya, beberapa
bahan baku yang digunakan untuk perlengkapan media hidup bisa
disubtitusikan dengan tanpa mengurangi kualitas dan jumlah
produksi.
“Meski terkesan merupakan pola pertanian modern, namun
bertani dengan pola hidroponik ini bukanlah suatu yang mahal.
Sebab itu, semua orang bisa mengusahakannya,” tutur
Ketua Kelompok tani Swaka Guna Sejahtera Ir. Wayan Wisnawa,
di Br. Pondok Desa Peguyangan Kaja, Rabu (14/11) lalu.
Terang Wisnawa, untuk mengembangkan pertanian hidroponik pada
umumnya memang diperlukan areal yang tertutup, namun sinar
matahari tetap bisa masuk. Itu tujuannya untuk menjaga suhu
dan kondisi penyinaran pada tanaman yang dibudidayakan agar
tidak dalam kondisi berlebih.
Biasanya persyaratan tersebut beberapa orang menyikapi dengan
penggunaan plastik pada seluruh bagian sebagai atap maupun
dinding ruangan pada areal budi daya atau biasa disebut dengan
rumah kaca.
Imbuhnya, bila biaya pembuatan rumah kaca ini dirasa mahal,
petani bisa menggantikannya dengan penggunaan atap berbahan
plastik dengan dinding menggunakan paranet.
Di arel budi dayanya dengan menggunakan plastik sebagai media
hidup di luas arel 1 setengah are, diperkirakan biaya investasi
untuk pembuatan tersebut mencapai Rp 2 jutaan.
Biaya tersebut masih dimungkinkan lagi untuk dikurangi, bila
mau dibuat secara tidak permanen. Imbuhnya, meski media hidup
digantikan, namun pertumbuhan dan kualitas produksi tanaman
hidroponik pada kondisi tersebut masih dimungkinkan tumbuh
baik.
“Dengan gambaran seperti itu, siapa saja bisa mengembangkan
pola pertanian hidroponik ini,” ujarnya. Relatif murahnya
biaya usaha pertanian hodroponik diikuti lagi dengan keuntungan
lain seperti, harga jual hasil produksi hidroponik dalam bentuk
organik yang banyak dibutuhkan pasar juga relatif lebih mahal
dibandingkan dengan komoditi sejenis hasil pertanian secara
konvensional.
Sebagai gambaran, untuk pasaran lokal saja pemenuhan akan
sayur organik ini belum bisa terpenuhi pasar secara baik.
Dalam artian masih tinggi peluang pasar sayur organik untuk
diserap pasar saat ini. Selain itu, harga jual hasil pertanian
hidroponik bisa dua kali lipat bahkan lebih dari harga hasil
pertanian konvensional.
“Saya contohkan, bila hasil pertanian konvensional jenis
sayur selada dijual di pasaran berkisar Rp 1.000-an per 250
gram, namun komoditi sama untuk hidroponik harganya mencapai
Rp 4.500 per 250 gram. Itu berarti ada keuntungan lebih yang
didapat petani dari pertanian hidroponik ini,” tegasnya.*man