09 Juli 2007  
Home
Berita Terkini

 

Indonesia Pasok 80 Persen Kebutuhan Sarang Walet Dunia
Denpasar(BisnisBali)- Indonesia harus mampu merebut merk atau "brand" aneka produk makanan dari sarang walet yang selama ini dikuasai Hongkong, padahal 80 persen kebutuhan sarang burung walet dunia dipasok oleh negeri ini.

"Sebagai langkah awal untuk menciptakan 'merk' produk sarang walet itulah kami membuka restoran dan toko walet di Bali," kata eksportir sarang burung walet asal Surabaya, Benny Koesno, ketika dihubungi watawan dari Denpasar, Sabtu.

Benny Koesno yang menjadi eksportir sarang walet sejak 1996, diantaranya mengirim sarang walet olahan ke Hongkong, Amerika Serikat, Singapura dan Cina, membuka "Nest Village Restaurant & Store" di Jalan Merta Sari, Sunset Road, Kuta.

Restoran sarang walet pertama di Indonesia itu dibuka di Bali, guna menjaring konsumen internasional yang selama ini sudah biasa mengonsumsinya, seperti dari China, Hongkong, Amerika Serikat, Singapura dan juga dari Jepang.

"Saat ini tren kunjungan wisatawan dari negara-negara tersebut ke Bali kan meningkat. Ini pasar yang kita harapkan, selain konsumen dalam negeri. Kami berharap ke depan menu sarang walet bukan hanya dikonsumsi orang tertentu, tetapi menjadi hidangan umum," katanya.

Ia berharap usaha terpadu, yakni restoran yang dilengkapi toko sarang walet dan arena wisata "rumah walet" lengkap dengan proses pengolahannya itu, bisa lebih memperkenalkan Indonesia sebagai penghasil dan pembuat makanan berbahan sarang walet terbesar di dunia.

"Ini potensi besar kita yang selama ini sudah terlanjur menjadi 'milik' Hongkong, karenanya kita harus rebut kembali. Suatu saat nanti masyarakat dunia akan tahu bahwa produk walet itu identik dengan Indonesia," katanya.

Sarang walet selama ini lebih banyak dikonsumsi kalangan berpunya, termasuk kalangan keluarga Cendana( keluarga mantan Presiden Soeharto). Dengan dibukanya restoran tersebut, diharapkan nantinya akan terjangkau oleh masyarakat umum.

Benny Koesno memperkirakan produk sarang walet dari Indonesia selama ini mencapai sekitar 20 ton per bulan. Sementara harganya sangat bervariasi, diantaranya berkisar Rp10 juta-Rp20 juta per kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya.

Bupati Bima, Ferry Zulkarnain ST, yang menjalin kerja sama dengan King Nest, grup usaha milik Benny Koesno, sempat mengunjungi rumah makan sarang walet terpadu di Kuta tersebut.

Menurut Heru Dwi Soesilo, operasional manager Nest Village, Pemkab Bima memiliki goa walet dan hasil sarangnya yang tergolong terbaik, menjadi salah satu bahan untuk kebutuhan usahanya.

Rumah makan sarang walet terpadu yang berlokasi di tengah persawahan itu menyediakan aneka makanan dan minuman dengan menu ramuan sarang walet. Untuk makanan harganya berkisar Rp150.000 Rp250.000 per porsi dan minuman rata-rata sekitar Rp80.000 per gelas.

Tidak kurang 250 tamu mencicipi hidangan sarang walet saat pembukaan restoran tersebut, termasuk pihak staf Konsulat Jenderal Chili di Bali.

*ant

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost