Denpasar (BisnisBali) -Design Development
Organization (DDO) Bali, Selasa (19/6) sampai Jumat (22/6)
2007 nanti akan menggelar Pelatihan Pengembangan Dersain
dan Pertukangan Kayu. Acara ini terselenggara menggunakan
Dana Bantuan Khusus Pendidikan Kecakapan Hidup, Pendidikan
nonformal, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan
Nasional yang diikuti 25 peserta perajin ukiran kayu pemula
dari beberapa daerah di Bali. Pelatihan bertempat di SMP
Dharma Sentana, Batubulan Kangin, Gianyar.
Hal ini dikatakan Direktur DDO Bali, I Made Raka Metra yang
didampingi Penanggung Jawab Pelatihan, Ir. Wayan Gde Arsania,
Minggu (17/6) kemarin di Denpasar. Menurut Raka Metra, DDO
Bali memiliki komitmen tinggi membantu meningkatkan di sektor
desain. Selama ini perkembangan desain di Bali masih rendah.
Hal ini disebabkan kepedulian instansi terkait masih kecil.
Semestinya pemerintah yang bertugas untuk mengembangkan
desain dengan memberikan dan mengalokasikan dananya untuk
kegiatan peningkatan desain. Tetapi kenyataannya sampai
sekarang minim.
‘’Terus-terang saja, terkadang kami sebagai
ujung tombak pengembangan desain justru tidak mendapat rangkulan
dari pemerintah.
Terbukti, selama ini DDO membantu mengingkatkan desain
bekerja sama dengan pihak NGO Jepang seperti Japan International
Coorporation Agensy (JICA). Setelah itu, justru pemerintah
pusat melalui dana bantuan pendidikan nonformal Departemen
Pendidikan Nasional sedangkan pemerintah daerah belum pernah
mengajak DDO untuk mengembangkan desain di Bali,’’
paparnya.
Sementara itu, tujuan pelatihan pengembangan desain dan
pertukangan kayu untuk meningkatkan kemampuan perajin pemula,
sehingga tujuan akhir peserta mampu mandiri. Selain itu
tujuan pelatihan guna meningkatkan sumber daya manusia (SDM).
Kalau sudah SDM meningkat akan mampu mengembangkan unit
usahanya. Kalau usaha berkembang berarti ekonomi tumbuh,
sehingga masyarakat akan sejahtera.
‘’Pemerintah Pusat melalui Departemen Pendidikan
Nasional –Pendidikan nonformal sudah dua kali membantu
perajin di Bali. Bantuan pertama sudah berhasil membentuk
3 Kelompok Bina Usaha (KBU) dan semuanya dapat berkembang
dengan baik.
Selama ini ketiga kelompok tersebut sangat produktif,
hanya saja masih menemui kendala seperti permodalan dan
pemasaran,’’ tegas Arsania.
Arsania menambahkan, hal terpenting dalam memasarkan produk
baik sasaran pasar lokal maupun asing ditentukan krativitas
desain. Dengan meningkatkan mutu dan kualitas serta desain,
maka diyakini produk akan diterima konsumen.
Khusus untuk pengembangan desain, ke depan diharapkan pemerintah
daerah lebih komitmen membantu perajin dan pengusaha kecil
dalam menciptakan desain baru. Hanya dengan menonjolkan
desain baru dan inovasi, maka akan mendapat sambutan positif
dari konsumen.
‘’Kami secara berkesinambungan ingin membantu
perajin pemula, guna meningkatkan kemampuan membuat desain
baru. Untuk itu kami harapkan juga peran serta dukungan
pemerintah Bali,’’ tandasnya. *sta