18 Juni 2007  
Home
Berita Terkini

 

Lesu, Pasar Kerajinan Batu Tabas Karangasem

Amlapura (BisnisBali) - Lesunya perekonomian ternyata membawa dampak bagi perajin batu tabas di bumi lahar Karangasem. Ekspansi perajin luar ternyata mampu mematikan pangsa pasar perajin lokal. Sekitar 154 perajin batu tabas di Karangasem kini gigit jari, karena pasarnya diserobot pengusaha batu tabas dari luar.

Demikian antara lain dikatakan salah seorang perajin batu tabas, di Karangasem, I Wayan Cik Suardana, baru-baru ini. Dikatakan, di samping langsung mengambil bahan baku dari lokasi di Karangasem, hasil produksinya ternyata dijual lebih murah. Hal itu menyebabkan perajin luar mampu merebut pangsa pasar perajin lokal.

Tidak hanya pangsa pasar di Bali saja, pangsa pasar luar daerah seperti Jawa, NTB hingga ekspor pun berhasil direbut perajin batu tabas dari luar Karangasem. Dengan persaingan semacam itu, produk kerajinan khas daerah Karangasem kian terjepit, lama-lama terancam gulung tikar.

Ketua Asosiasi Perajin Batus Tabas Karangasem, I Nengah Suardana mengatakan, potensi kerajinan batu tabas Karangasem memiliki kekhasan relief tersendiri dan masih memiliki peluang bersaing di pasaran.

Namun karena pembeli umumnya kurang paham dengan masalah tersebut, terlebih pembeli cenderung melihat dari segi harga sehingga perajin luar lebih lancar mendapat order dibandingkan perajin lokal.

Dampak persaingan dari bahan baku, pemasaran dan harga yang ditawarkan lebih murah oleh perajin dari luar tersebut memukul perajin Karangasem.

Ia mengharapkan, Pemkab membuat payung aturan hukum untuk mengenakan retribusi bagi penjualan bahan baku ke luar daerah, yang rata-rata per hari mencapai 10 truk dengan standar harga Rp 1.000.000 untuk kualitas biasa dan kualitas halus mencapai Rp. 1.200.000.

Jika tidak dilindungi dengan potensi terbatas, maka kerajinan ini bisa punah karena pertumbuhannya tidak dibatasi. Ia mencontohkan, perbedaan selisih harga dari produksi luar daerah sekitar 20 persen langsung berpengaruh pada omzet produksi anjlok sekitar 54 persen.

Hal ini berdampak pada banyaknya perajin kecil gulung tikar, karena tidak mampu menanggung biaya produksi sementara hasil produksi kurang terserap pasar.

Camat Selat I Komang Daging, S.Sos menambahkan, potensi perajin batu tabas di Kecamatan Selat meliputi Desa Muncan dengan 15 perajin, Desa Peringsari 16 perajin, Desa Selat 7 perajin, Desa Duda 11 perajin , Desa Duda Timur 12 perajin, Desa Duda Utara 18 perajin, Desa Sebudi 12 perajin, Desa Persiapan Amerta Buana 25 perajin. *eka


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost