Denpasar (BisnisBali) –Terjadinya
bencana alam seperti kebakaran hutan, banjir, tanah longsor,
gagal panen dan penyebaran penyakit, merupakan salah satu
bukti kegagalan cara mengurus lingkungan dan alam.
Karena itu, perlu segera dipikirkan bagaimana cara mengurus
lingkungan dan alam yang benar agar bencana alam yang mengancam
kehidupan manusia dapat ditekan.
Hal itu diungkapkan Torry Kuswardono dari Wahana Lingkungan
Hidup Indonesia (Walhi) dalam “Dialog Publik Perubahan
Iklim dan Dampaknya bagi Keberlangsungan Hidup” yang
diselenggarakan Walhi Bali di BLPP Denpasar, Sabtu (16/6)
lalu.
Ia menegaskan, terjadinya pemanasan global dan perubahan
iklim, menambah risiko bencana. Dengan demikian, perlu upaya
serius untuk mengantisipasi dampak negatif dari pemanasan
global itu.
Menurut Torry, model pembangunan yang tidak pernah berubah
saat ini juga menambah kerentanan dan boleh jadi akan meningkatkan
jumlah korban di masa mendatang. “Dampak pemanasan
global ini sangat mengerikan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup
Regional Bali dan Nusa Tenggara, Ir. R Sudirman, M.M., mengungkapkan,
isu lingkungan merupakan isu global. Perubahan iklim merupakan
ancaman paling serius terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Indonesia akan melakukan kegiatan untuk mendukung
program-program seperti energi terbaharukan, efisiensi penggunaan
energi, mendukung program adipura dengan melakukan pengurangan
gas metan.
Bahkan, Indonesia bersama dengan Polandia dan Denmark
dipercaya sebagai pemrakarsa utama perubahan Protokol Kyoto
(PK) pasca-2012 (Bali Mandate),” ungkapnya.
Dosen Fakultas MIPA Unud, Ketut Gede Dharma Putra mengungkapkan,
dampak pemanasan global ini akan menyebabkan terjadinya
banjir akibat badai tropis dan hujan lebat, pencairan lapisan
es di kutup dalam kecepatan yang mengerikan, kenaikan permukaan
laut, kekeringan dan kelangkaan spesies seiring dengan kesukaran
untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.
“Perlu upaya penyelamatan lingkungan hidup yang berbasis
kesadaran akan manfaatnya terhadap kelanjutan Bali,”
ujarnya. *yas