Denpasar (BisnisBali) –Isu-isu bencana
tsunami masih menghantui kegiatan sektor pariwisata dalam
beberapa pekan terakhir ini. Pemerintah diharapkan bisa
menerapkan manajemen bencana tsunami, sehingga bisa memberikan
kenyamanan kepada masyarakat dan wisatawan dari kemungkinan
ancaman tsunami.
Ketua Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas
Udayana, Dr. I Made Wardana, S.E., M.P., Sabtu (16/6) lalu
mengatakan, isu tsunami juga akan mempengaruhi sektor pariwisata
Bali. Isu tsunami tidak hanya akan mengancam Bali, namun
juga akan mempengaruhi seluruh kawasan Indonesia.
Menurut Wardana, bencana tsunami memang bisa diprediksi
setelah terjadinya gempa. Gempa tersebut berpotensi menjadi
tsunami hanya akan diketahui oleh BMG. “Masih ada
kesempatan masyarakat untuk menyelamatkan diri dari tsunami,”
katanya.
Ia menjelaskan, perlu adanya manajemen bencana untuk mengantisipasi
adanya isu bencana tsunami di Bali. Ini bisa mencontoh kawasan
Jepang yang sebelumnya sempat beberapa kali mendapat ancaman
tsunami. Salah satunya di Jepang sudah dipasang ribuan alat
pendeteksi tsunami. Di Bali baru dipasang puluhan alat deteksi
tsunami.
Ia berharap, bangunan hotel di Bali bisa mengikuti bangunan
di Jepang. Bangunan di Jepang sudah dibuat sedemikian rupa,
sehingga tahan terhadap tsunami. Bangunan besar yang berada
di pesisir pantai ini cukup efektif menghalau tsunami.
Ia mengakui, Bali memang rawan terjadi bencana gempa dan
tsunami. Perlu dilakukan pelatihan antisipasi tsunami, dan
penambahan alat pendeteksi tsunami. Ke depan, bangunan di
Bali mesti bebas bencana gempa dan tsunami. Pemerintah melalui
BMG diharapkan sigap memberikan informasi kepada masyarkaat
jika benar terjadi tsunami.
Lebih lanjut Wardana mengatakan, gelombang pasang juga sempat
mengganggu transportasi laut. Kemungkinan gangguan gelombang
pasang ini akan mengganggu penyeberangan Ketapang-Gilimanuk
yang berakibat pada keterlambatan kedatangan wisatawan domestik.
Sementara itu, keberadaan transportasi udara yang mengantar
wisatawan mancanegara relatif lancar.
Lebih langjut dikatakannya, wisman tentunya sudah memaklumi
keberadaan bencana alam seperti tsunami maupun gelombang
pasang di Bali. Kawasan Indonesia hanya sebagian kecil yang
tertimpa tsunami.
Kawasan yang tertimpa tsunami juga jauh dari kawasan pariwisata
Bali. Dalam promosi Bali, pelaku pariwisata Bali, juga perlu
menyertakan peta Indonesia. Ini untuk menunjukkan kawasan
Bali jauh dari kawasan lain di Indonesia yang sudah tertimpa
musibah tsunami.
Terkait keberadaan ombak besar yang kemungkinan menimpa
wisatawan tentunya sudah diantisiasi oleh pelaku wisata
bahari. Dengan informasi dari BMG tentunya mereka akan berupaya
menghentikan aktivitas bila kondisi laut membahayakan wisatawan
yang menikmati wisata tirta. Kenyaman wisatawan ini menyangkut
citra Bali di mata wisatawan.
Wardana menegaskan, bencana alam ini tidak hanya terjadi
di Bali tetapi terjadi di seluruh dunia. Kalau di Bali terjadi
bencana alam, tentu merupakan hal yang nomal di mata wisatawan.
*kup
|