Nusa Dua (BisnisBali) –“Orang
Jepang harus bisa makan betutu dan urap,” ungkap Menteri
Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik, saat
pembukaan Eika-Shomya di Hotel Westin, Jumat (15/6) lalu.
Acara yang dihadiri ratusan undangan orang lokal dan asing
tersebut merupakan salah satu rangkaian even Mandala. Wayang
kulit berjudul “Brem Meme” tampil pertama membuka
kolaborasi kesenian Jepang-Bali yang diadakan di Hotel Westin.
Wayang ini menceritakan kisah kehidupan penjual brem (air
tape) yang sangat bahagia. Tim kesenian Jepang malam itu
juga tampil dengan sangat memukau diawali dengan tampilnya
puluhan pendeta di atas panggung.
Dalam sambutannya, ia menyatakan hubungan budaya tidak terbatas
pada kesenian dan tari-tarian semata namun juga makanan.
Jika orang Indonesia bisa makan masakan Jepang seperti sushi
maupun sashimi, orang Jepang juga harus bisa makan masakan
Indonesia.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki budaya termasuk
masakan yang sangat beragam. “Saat muda saya pernah
berkunjung ke Jepang dan saya merasa ada di Bali,”
katanya. Menurut Wacik, kebudayaan Bali dan Jepang memiliki
kesamaan dan kemiripan.
Di hadapan ratusan undangan, dengan gayanya yang santai,
menteri asal Bali tersebut menyatakan budaya Bali tidak
akan asing bagi orang Jepang karena kemiripan budaya tadi.
Ia mengatakan, Indonesia khususnya Bali harus membuat jembatan
budaya dengan bangsa-bangsa di dunia termasuk Jepang.
Terbinanya hubungan baik Bali-Jepang pasti akan berdampak
terhadap hubungan Indonesia-Jepang. Beberapa waktu lalu,
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengangkat salah seorang
miss Jepang sebagai duta wisata.
Melalui kegiatan itu, jauh lebih mudah untuk meyakinkan
orang Jepang, kalau Indonesia termasuk Bali sangat Indah.
Bukan itu saja, pihaknya juga mengundang sekitar 30 wartawan
untuk menulis tentang Bali. “Jika saya ngomong tidak
akan dipercaya,” katanya. Hadirnya 62 pendeta dari
Jepang serta 10 media Jepang dalam rangka Mandala, menurut
Wacik,menjadi promosi yang luar biasa.
“Potretlah Indonesia untuk masyarakat Jepang. Tulis
Indonesia baik-baik saja,” pintanya. Dengan sedikit
humor Wacik mengatakan, kalau ada berita tidak baik jangan
dipercaya. Wacik juga mempersilakan para wisatawan yang
berkunjung ke Bali menikmati suasana dan budaya Bali tanpa
diselimuti kekhawatiran.
Direktur Utama BTDC, Made Mandra menyatakan harapannya dengan
kehadiran para pendeta yang berpengaruh di Jepang ini, sehingga
mampu mempengaruhi masyarakatnya. “Pendeta Jepang
ini datang ke Bali untuk mendoakan Bali. Kekhawatiran yang
selama ini masih ada, semoga bisa hilang dengan hadirnya
pendeta Jepang di Bali selama seminggu ini,” ungkapnya.
*wid
|