18 Juni 2007  
Home
Berita Terkini

 

Orang Jepang harus Bisa Makan Betutu

Nusa Dua (BisnisBali) –“Orang Jepang harus bisa makan betutu dan urap,” ungkap Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik, saat pembukaan Eika-Shomya di Hotel Westin, Jumat (15/6) lalu.

Acara yang dihadiri ratusan undangan orang lokal dan asing tersebut merupakan salah satu rangkaian even Mandala. Wayang kulit berjudul “Brem Meme” tampil pertama membuka kolaborasi kesenian Jepang-Bali yang diadakan di Hotel Westin.

Wayang ini menceritakan kisah kehidupan penjual brem (air tape) yang sangat bahagia. Tim kesenian Jepang malam itu juga tampil dengan sangat memukau diawali dengan tampilnya puluhan pendeta di atas panggung.

Dalam sambutannya, ia menyatakan hubungan budaya tidak terbatas pada kesenian dan tari-tarian semata namun juga makanan. Jika orang Indonesia bisa makan masakan Jepang seperti sushi maupun sashimi, orang Jepang juga harus bisa makan masakan Indonesia.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki budaya termasuk masakan yang sangat beragam. “Saat muda saya pernah berkunjung ke Jepang dan saya merasa ada di Bali,” katanya. Menurut Wacik, kebudayaan Bali dan Jepang memiliki kesamaan dan kemiripan.

Di hadapan ratusan undangan, dengan gayanya yang santai, menteri asal Bali tersebut menyatakan budaya Bali tidak akan asing bagi orang Jepang karena kemiripan budaya tadi. Ia mengatakan, Indonesia khususnya Bali harus membuat jembatan budaya dengan bangsa-bangsa di dunia termasuk Jepang.

Terbinanya hubungan baik Bali-Jepang pasti akan berdampak terhadap hubungan Indonesia-Jepang. Beberapa waktu lalu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengangkat salah seorang miss Jepang sebagai duta wisata.

Melalui kegiatan itu, jauh lebih mudah untuk meyakinkan orang Jepang, kalau Indonesia termasuk Bali sangat Indah. Bukan itu saja, pihaknya juga mengundang sekitar 30 wartawan untuk menulis tentang Bali. “Jika saya ngomong tidak akan dipercaya,” katanya. Hadirnya 62 pendeta dari Jepang serta 10 media Jepang dalam rangka Mandala, menurut Wacik,menjadi promosi yang luar biasa.

“Potretlah Indonesia untuk masyarakat Jepang. Tulis Indonesia baik-baik saja,” pintanya. Dengan sedikit humor Wacik mengatakan, kalau ada berita tidak baik jangan dipercaya. Wacik juga mempersilakan para wisatawan yang berkunjung ke Bali menikmati suasana dan budaya Bali tanpa diselimuti kekhawatiran.

Direktur Utama BTDC, Made Mandra menyatakan harapannya dengan kehadiran para pendeta yang berpengaruh di Jepang ini, sehingga mampu mempengaruhi masyarakatnya. “Pendeta Jepang ini datang ke Bali untuk mendoakan Bali. Kekhawatiran yang selama ini masih ada, semoga bisa hilang dengan hadirnya pendeta Jepang di Bali selama seminggu ini,” ungkapnya. *wid

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost