18 Juni 2007  
Home
Berita Terkini

 

Indonesia Penghasil Karet Terbesar Kedua Oleh I Ketut Sutika
Sebuah konferensi dan pameran internasional tentang komoditi perkebunan karet (The International Rubber Conference and Exhibition) melibatkan 500 peserta utusan dari sedikitnya tujuh negara, berlangsung di kawasan Nusa Dua, Bali, 13-15 Juni 2007 lalu.

Bagi Indonesia konferensi yang membahas sedikitnya 49 kertas kerja itu mempunyai arti penting untuk menjadikan sebagai negara produsen karet yang diperhitungkan dunia, yang selama ini menempati urutan kedua di dunia setelah Thailand.

“Hamparan perkebunan karet di Tanah Air mencapai 3,3 juta hektar, 85 persen di antaranya perkebunan rakyat yang mampu menghasilkan 2,6 juta ton karet selama tahun 2006,” kata Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian, Ahmad Mangga Barani.

Selesai membuka konferensi dan pameran hasil perkebunan karet internasional mewakili Menteri Pertanian, ia mengatakan, meskipun kebun karet paling luas di Indonesia, namun dari segi produksi masih kalah dibandingkan dengan Thailand.

Produksi karet Indonesia hanya berkisar 600-850 kg per hektar setahun, sementara Thailand sudah mencapai 1.300 kg per hektar, dan India 1.500-1.900 kg per hektar. Kondisi tersebut mendorong Indonesia untuk menerapkan teknologi maju dan penggunaan bibit jenis unggul dalam perluasan dan revitalisasi tanaman karet, dengan harapan mampu meningkatkan produksi per satuan hektar.

“Kita menargetkan bisa menjadi negara penghasil karet terbesar di dunia pada tahun 2020,” ujar Mentan Anton Apriyantono dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Dirjen Ahmad Mangga Barani.

Berbagai upaya dan terobosan dilakukan, termasuk di antaranya merevitalisasi perkebunan karet seluas 300.000 hektar hingga tahun 2010, tidak termasuk upaya sama yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah propinsi, yang selama ini daerahnya menghasilkan komoditi unggulan karet.

Pemerintah memberikan subsidi bunga bank kepada petani perkebunan karet dan biaya untuk perluasan serta rehabilitasi sepenuhnya ditanggung pihak perbankan. Program unggulan Deptan itu mengadopsi teknologi dan ketersediaan modal, dengan harapan mampu meningkatkan produksi.

“Pihak perbankan mengalokasikan dana khusus setiap tahun untuk mengembangkan tanaman karet, dengan bunga maksimal sepuluh persen. Jika terjadi kenaikan suku bunga, misalnya menjadi 15 persen, maka selisih sebesar lima persen itu akan menjadi tanggungan pemerintah,” ujar Dirjen Mangga Barani.

Budi daya perkebunan karet memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian nasional, antara lain sumber pendapatan bagi lebih dari 10 juta petani dan menyerap sekitar 1,7 juta tenaga kerja lainnya.

Hasil karet juga merupakan salah satu komoditas nonmigas yang secara konsisten nilai ekspornya terus meningkat. Sampai saat ini sebanyak 15 propinsi tercatat sebagai sentra produksi karet nasional, antara lain Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

Selama Januari hingga Agustus 2006, nilai ekspor karet mencatat rekor fantastis, yakni 3,751 milyar dolar AS. Sementara pada periode yang sama tahun 2005, nilai ekspornya masih bekisar 2,173 milyar dolar AS.

Harga Membaik
Petani, menurut Dirjen Mangga Barani, makin bergairah mengembangkan perkebunan karet mengingat harganya dalam beberapa tahun belakangan membaik, yakni dari 650 dolar AS menjadi 790 dolar AS dan kini 726 dolar AS per ton. Kondisi harga yang terus membaik tersebut mendorong perusahaan perkebunan dan investor karet terus berupaya meningkatkan hasil produksinya.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang cukup pesat selama sepuluh tahun terakhir, terutama di kawasan Asia Pasifik dan Amerika Latin, berdampak terhadap tingginya permintaan karet alam. Permintaan akan karet alam cenderung terus meningkat hingga tahun 2035 menjadi sekitar 15 juta ton.

Permintaan pasaran ekspor yang terus meningkat perlu diimbangi dengan peningkatan produksi karet dalam jumlah yang memadai. Pertumbuhan produksi karet dunia diperkirakan masih tetap stabil, yakni sekitar dua persen per tahun, sehingga produksi karet alam dunia tahun 2035 diperhitungkan menjadi sekitar 13,6 juta ton.

Kondisi demikian menjadikan di masa mendatang akan terjadi kekurangan bahan baku dan kondisi itu dapat memicu kenaikan harga karet alam dunia.
Sementara itu, Dirjen Penelitian dan Pengembangan Deptan, Achmad Suryana menilai, prospek industri karet alam di masa mendatang akan cukup cerah serta peluang pasarnya cukup besar.

Indonesia sebagai negara penghasil karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand menghadapi tantangan yang cukup berat dalam pengembangan industri dan pelaku usaha yang bergerak dalam pengembangan komoditi perkebunan karet.

Tantangan tersebut antara lain untuk dapat menangkap momen harga yang cukup baik dewasa ini, sehingga memerlukan kebijakan dan strategi yang tepat dalam meningkatkan produksi dan kualitas produk berbasis karet alam. Selain itu memerlukan dukungan kebijakan dan strategi yang tepat dalam mengembangkan industri hilir karet di berbagai skala usaha, guna memperoleh nilai tambah yang paling maksimal dari agrobisnis karet.

“Untuk menghadapi pasar global sekaligus memenuhi tuntutan konsumen dan konservasi lingkungan, diperlukan upaya perbaikan dan penerapan teknologi maju dalam mencapai standar sesuai dengan kebutuhan pasar,” ujar Dirjen Achmad Suryana.


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost