Sebuah konferensi
dan pameran internasional tentang komoditi perkebunan karet
(The International Rubber Conference and Exhibition) melibatkan
500 peserta utusan dari sedikitnya tujuh negara, berlangsung
di kawasan Nusa Dua, Bali, 13-15 Juni 2007 lalu.
Bagi Indonesia konferensi yang membahas sedikitnya 49 kertas
kerja itu mempunyai arti penting untuk menjadikan sebagai
negara produsen karet yang diperhitungkan dunia, yang selama
ini menempati urutan kedua di dunia setelah Thailand.
“Hamparan perkebunan karet di Tanah Air mencapai 3,3
juta hektar, 85 persen di antaranya perkebunan rakyat yang
mampu menghasilkan 2,6 juta ton karet selama tahun 2006,”
kata Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian, Ahmad Mangga
Barani.
Selesai membuka konferensi dan pameran hasil perkebunan karet
internasional mewakili Menteri Pertanian, ia mengatakan, meskipun
kebun karet paling luas di Indonesia, namun dari segi produksi
masih kalah dibandingkan dengan Thailand.
Produksi karet Indonesia hanya berkisar 600-850 kg per hektar
setahun, sementara Thailand sudah mencapai 1.300 kg per hektar,
dan India 1.500-1.900 kg per hektar. Kondisi tersebut mendorong
Indonesia untuk menerapkan teknologi maju dan penggunaan bibit
jenis unggul dalam perluasan dan revitalisasi tanaman karet,
dengan harapan mampu meningkatkan produksi per satuan hektar.
“Kita menargetkan bisa menjadi negara penghasil karet
terbesar di dunia pada tahun 2020,” ujar Mentan Anton
Apriyantono dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Dirjen
Ahmad Mangga Barani.
Berbagai upaya dan terobosan dilakukan, termasuk di antaranya
merevitalisasi perkebunan karet seluas 300.000 hektar hingga
tahun 2010, tidak termasuk upaya sama yang dilakukan oleh
pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah propinsi, yang
selama ini daerahnya menghasilkan komoditi unggulan karet.
Pemerintah memberikan subsidi bunga bank kepada petani perkebunan
karet dan biaya untuk perluasan serta rehabilitasi sepenuhnya
ditanggung pihak perbankan. Program unggulan Deptan itu mengadopsi
teknologi dan ketersediaan modal, dengan harapan mampu meningkatkan
produksi.
“Pihak perbankan mengalokasikan dana khusus setiap tahun
untuk mengembangkan tanaman karet, dengan bunga maksimal sepuluh
persen. Jika terjadi kenaikan suku bunga, misalnya menjadi
15 persen, maka selisih sebesar lima persen itu akan menjadi
tanggungan pemerintah,” ujar Dirjen Mangga Barani.
Budi daya perkebunan karet memiliki peranan yang sangat penting
bagi perekonomian nasional, antara lain sumber pendapatan
bagi lebih dari 10 juta petani dan menyerap sekitar 1,7 juta
tenaga kerja lainnya.
Hasil karet juga merupakan salah satu komoditas nonmigas yang
secara konsisten nilai ekspornya terus meningkat. Sampai saat
ini sebanyak 15 propinsi tercatat sebagai sentra produksi
karet nasional, antara lain Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera
Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan
Barat dan Kalimantan Timur.
Selama Januari hingga Agustus 2006, nilai ekspor karet mencatat
rekor fantastis, yakni 3,751 milyar dolar AS. Sementara pada
periode yang sama tahun 2005, nilai ekspornya masih bekisar
2,173 milyar dolar AS.
Harga Membaik
Petani, menurut Dirjen Mangga Barani, makin bergairah mengembangkan
perkebunan karet mengingat harganya dalam beberapa tahun
belakangan membaik, yakni dari 650 dolar AS menjadi 790
dolar AS dan kini 726 dolar AS per ton. Kondisi harga yang
terus membaik tersebut mendorong perusahaan perkebunan dan
investor karet terus berupaya meningkatkan hasil produksinya.
Pertumbuhan ekonomi dunia yang cukup pesat selama sepuluh
tahun terakhir, terutama di kawasan Asia Pasifik dan Amerika
Latin, berdampak terhadap tingginya permintaan karet alam.
Permintaan akan karet alam cenderung terus meningkat hingga
tahun 2035 menjadi sekitar 15 juta ton.
Permintaan pasaran ekspor yang terus meningkat perlu diimbangi
dengan peningkatan produksi karet dalam jumlah yang memadai.
Pertumbuhan produksi karet dunia diperkirakan masih tetap
stabil, yakni sekitar dua persen per tahun, sehingga produksi
karet alam dunia tahun 2035 diperhitungkan menjadi sekitar
13,6 juta ton.
Kondisi demikian menjadikan di masa mendatang akan terjadi
kekurangan bahan baku dan kondisi itu dapat memicu kenaikan
harga karet alam dunia.
Sementara itu, Dirjen Penelitian dan Pengembangan Deptan,
Achmad Suryana menilai, prospek industri karet alam di masa
mendatang akan cukup cerah serta peluang pasarnya cukup
besar.
Indonesia sebagai negara penghasil karet terbesar kedua
di dunia setelah Thailand menghadapi tantangan yang cukup
berat dalam pengembangan industri dan pelaku usaha yang
bergerak dalam pengembangan komoditi perkebunan karet.
Tantangan tersebut antara lain untuk dapat menangkap momen
harga yang cukup baik dewasa ini, sehingga memerlukan kebijakan
dan strategi yang tepat dalam meningkatkan produksi dan
kualitas produk berbasis karet alam. Selain itu memerlukan
dukungan kebijakan dan strategi yang tepat dalam mengembangkan
industri hilir karet di berbagai skala usaha, guna memperoleh
nilai tambah yang paling maksimal dari agrobisnis karet.
“Untuk menghadapi pasar global sekaligus memenuhi
tuntutan konsumen dan konservasi lingkungan, diperlukan
upaya perbaikan dan penerapan teknologi maju dalam mencapai
standar sesuai dengan kebutuhan pasar,” ujar Dirjen
Achmad Suryana.