Denpasar
(BisnisBali) –PT PLN Distribusi Bali berupaya
mengembangkan dan memanfaatkan potensi kelistrikan dalam kapasitas
kecil, dengan harapan mampu memenuhi kebutuhan listrik dalam
satu lingkungan atau desa.
"Bali memiliki potensi besar bidang kelistrikan untuk
skala kecil, seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA)
dan tenaga angin yang selama ini belum dimanfaatkan secara
maksimal," kata Koordinator Humas PT PLN Distribusi Bali,
Hendra Saleh di Denpasar, Minggu kemarin.
Ia mengatakan, pihaknya mendorong warga masyarakat untuk membangun
pusat pembangkit berkapasitas kecil, seperti PLTA maupun pembangkit
listrik tenaga bayu (angin), yang selama ini sudah dirintis
di beberapa tempat.
Upaya itu untuk menjadikan Bali mandiri dalam memenuhi kebutuhan
listrik dan terobosan itu telah dirintis dengan membantu rehabilitasi
PLTA di lingkungan Dusun Jeruk Manis, Keluruhan Karangasem,
Kabupaten Karangasem.
PLTA di Bali timur itu berkapasitas 25 kilowatt (KW), kini
sedang uji coba yang pengelolaannya akan diserahkan kepada
koperasi setempat. PLTA tersebut awalnya dibangun masyarakat
setempat sekitar tahun 1980, namun beberapa tahun kemudian
tidak berfungsi akibat tidak dirawat dan dikelola dengan baik.
"PLN membantu biaya perbaikan hingga beroperasi serta
memberikan keterampilan kepada petugas untuk mengelolanya
serta menjual listrik yang dihasilkannya kepada PLN, untuk
selanjutnya kembali disalurkan kepada masyarakat konsumen,"
ujar Hendra Saleh.
Hendra menambahkan, pusat pembangkit listrik di Bali timur
itu digerakkan air berkapasitas 30 meter kubik per detik,
dengan terjun dalam ketinggian 15 meter, memiliki potensi
menghasilkan 30 KW, namun secara efektif menghasilkan 25 KW.
Bali selama ini memiliki persediaan energi listrik berkapasitas
580 MW yang bersumber dari pasokan kabel bawah laut dari Pulau
Jawa 200 MW, pembangkit listrik Gilimanuk 130 MW, PLTD Pesanggaran
120 MW dan PLTG Pemaron 80 MW.
Semua pusat pembangkit listrik tersebut menggunakan bahan
bakar solar, sehingga biaya operasionalnya sangat besar. Adanya
alternatif menggunakan bahan bakar nabati, tenaga air maupun
tenaga surya, diharapkan mampu mengurangi biaya produksi sehingga
tarif listrik dapat ditekan serendah mungkin, harap Hendra
Saleh. *ant
|