18 Juni 2007  
Home
Berita Terkini

 

PLN Bali Kembangkan Pembangkit Skala Kecil
Denpasar (BisnisBali) –PT PLN Distribusi Bali berupaya mengembangkan dan memanfaatkan potensi kelistrikan dalam kapasitas kecil, dengan harapan mampu memenuhi kebutuhan listrik dalam satu lingkungan atau desa.

"Bali memiliki potensi besar bidang kelistrikan untuk skala kecil, seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan tenaga angin yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal," kata Koordinator Humas PT PLN Distribusi Bali, Hendra Saleh di Denpasar, Minggu kemarin.

Ia mengatakan, pihaknya mendorong warga masyarakat untuk membangun pusat pembangkit berkapasitas kecil, seperti PLTA maupun pembangkit listrik tenaga bayu (angin), yang selama ini sudah dirintis di beberapa tempat.

Upaya itu untuk menjadikan Bali mandiri dalam memenuhi kebutuhan listrik dan terobosan itu telah dirintis dengan membantu rehabilitasi PLTA di lingkungan Dusun Jeruk Manis, Keluruhan Karangasem, Kabupaten Karangasem.

PLTA di Bali timur itu berkapasitas 25 kilowatt (KW), kini sedang uji coba yang pengelolaannya akan diserahkan kepada koperasi setempat. PLTA tersebut awalnya dibangun masyarakat setempat sekitar tahun 1980, namun beberapa tahun kemudian tidak berfungsi akibat tidak dirawat dan dikelola dengan baik.

"PLN membantu biaya perbaikan hingga beroperasi serta memberikan keterampilan kepada petugas untuk mengelolanya serta menjual listrik yang dihasilkannya kepada PLN, untuk selanjutnya kembali disalurkan kepada masyarakat konsumen," ujar Hendra Saleh.

Hendra menambahkan, pusat pembangkit listrik di Bali timur itu digerakkan air berkapasitas 30 meter kubik per detik, dengan terjun dalam ketinggian 15 meter, memiliki potensi menghasilkan 30 KW, namun secara efektif menghasilkan 25 KW.

Bali selama ini memiliki persediaan energi listrik berkapasitas 580 MW yang bersumber dari pasokan kabel bawah laut dari Pulau Jawa 200 MW, pembangkit listrik Gilimanuk 130 MW, PLTD Pesanggaran 120 MW dan PLTG Pemaron 80 MW.

Semua pusat pembangkit listrik tersebut menggunakan bahan bakar solar, sehingga biaya operasionalnya sangat besar. Adanya alternatif menggunakan bahan bakar nabati, tenaga air maupun tenaga surya, diharapkan mampu mengurangi biaya produksi sehingga tarif listrik dapat ditekan serendah mungkin, harap Hendra Saleh. *ant
  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost