Jakarta (BisnisBali) –Faktor eksternal
masih akan kuat menjadi faktor pendorong Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada pekan depan.
"Pergerakan indeks pekan depan masih akan dipengaruhi
oleh faktor eksternal, seperti bunga the Fed AS dan bursa
regional," kata Analis Riset PT Sinarmas Sekuritas
Alfiansyah di Jakarta akhir pekan ini.
Menurut dia, perkiraan The Fed akan mempertahankan suku
bunganya pada level 5,25 persen akan menjadi sentimen positif
terhadap bursa regional dan perdagangan saham di BEJ pekan
depan.
Selain itu, kata Alfian, pasar saham juga akan masih didorong
oleh sentimen individu saham, terutama sektor pertambangan
yang didorong oleh menguatnya harga nikel di pasar internasional
dan tren menguat harga minyak mentah.
Sementara sentimen dari dalam negeri, lanjutnya, belum menunjukkan
perkembangan yang signifikan. Dia hanya melihat paket kebijakan
ekonomi yang dikeluarkan pemerintah bersifat jangka panjang.
Selama pekan ini, IHSG ditutup menguat 66,19 poin atau 3,22
persen untuk berada di rekor ke terbarunya yang ke 23 pada
tahun ini di 2.120,640, sedangkan indeks LQ45 mengalami
penguatan 13,725 poin atau 3,21 persen ke level 440,242.
Pergerakan indeks BEJ pada pekan ini bergerak fluktuatif,
karena besarnya pengaruh bursa regional dan global. Pernyataan
mantan Gubernur The Fed Alan Greenspan menyangkut prediksinya
akan terjadinya arus balik modal dari pasar negara berkembang,
sempat menjadi sentimen negatif pasar saham global karena
ketakutan kembalinya dana jangka pendek tersebut.
Namun, data perekonomian AS terbaru kembali mengangkat bursa
AS Wall Street yang berimbas kepada bursa regional dan indeks
BEJ yang mencatat rekor tertinggi di akhir pekan. *ant
|