10 Mei 2007  
Home
Berita Terkini

 

Mengenal Elpiji lebih Dekat
DATA menunjukkan, sekitar 1,44% rumah tangga Indonesia atau sekitar 3 juta jiwa memasak dengan elpiji. Jumlah ini masih akan terus bertambah, seiring kian banyaknya pengguna kompor minyak tanah beralih ke kompor gas. Selama ini, kasus meledaknya tabung elpiji memang tidak menonjol, tetapi jika terjadi, bisa menyebabkan kecelakaan serius bagi manusia dan benda-benda di sekitarnya.

Di Indonesia, beredar beragam jenis tabung elpiji untuk rumah tangga. Kemasan paling populer, berat bersih elpiji 12 kg, dengan berat tabung 15 kg. Berat tabung elpiji sendiri bervariasi antara 14,0 kg hingga 16,0 kg, tergantung jenis material dan komponen lainnya.

Selain itu, ada juga kemasan elpiji berbandrol netto 5,5 kg, berat tabung 8,0 kg. Sedangkan jenis yang lebih ekonomis, kemasan isi 2,65 kg dengan berat tabung 3,8 kg. Buat yang suka piknik, tersedia tabung nonisi ulang, buat kompor gas satu tungku portable.

Elpiji untuk keperluan masak-memasak merupakan kombinasi dua jenis hidrokarbon dari golongan alkana, yakni propana (C3H8) dan butana (C4H10). Komposisi propana dan butana dalam LPG, serta tekanan kerja kompor gas amat bervariasi, tergantung standar suatu negara.

LPG Indonesia dibentuk oleh 30 persen propana dan 70 persen butana dengan tekanan dalam tabung 5 bar dan tekanan keluar regulator 28 mbar (milibar). Namun di Taiwan dan Thailand, ada elpiji 70 persen propana dan 30 persen butana dengan tekanan dalam tabung 6 bar dan tekanan keluar regulator 28, 30, 37, atau 50 bar.
Supaya bisa dicairkan, propana dan buatana ditekan hingga 5-6 bar, volumenya pun menyusut hingga 200 kali lebih kecil di dalam tabung LPG. Keduanya tidak berbau, tak berwarna, dan amat mudah terbakar.

Itu sebabnya elpiji suka ditambahi pewangi dari senyawa sulfur, supaya keberadaan atau kebocorannya gampang dideteksi. Pernah pula diciptakan beragam aroma pewangi, termasuk efek bau durian, untuk gas tak beracun tetapi bisa menimbulkan efek anaesthetic (hilang kesadaran) itu.

Gas liar
Bila elpiji cair menetes di kulit atau mata, dia dengan cepat menguap, memungkinkan timbulnya bekas seperti luka bakar serius. Jadi, lebih aman memang tidak mencoba-coba menyentuhnya. Elpiji tidak menyebabkan baja berkarat, tetapi dia merusak karet. Makanya karet seal dan selang regulator harus terbuat dari bahan karet sintetis khusus.

Ciri lain tak kalah penting, berat jenisnya lebih berat dari udara. Kalau tabung elpiji bocor, isinya akan menelusuri cerukan terendah di lantai. Demi keamanan, tabung LPG digarap serius. Bahan baku bajanya harus memenuhi kriteria sangat ketat. Terdiri atas dua bagian hasil pres, persis seperti kapsul yang dilas tengahnya.

Setelah itu, tabung menjalani tes ledakan. Caranya, tabung diisi air atau oli hingga pecah. Dari sini ketahuan, berapa tekanan maksimum yang dapat ditoleransi. Lolos tes ledakan, menunggu heat treatment untuk mencapai struktur mikro ideal serta menghilangkan tegangan akibat proses pres. Setelah itu, tabung dibersihkan pakai pasir baja dan dicat otomatis. Sebelum akhirnya dicemplungkan ke air untuk memantau kebocoran.

Tiap tabung harus ditimbang, karena berat satu tabung tak akan sama dengan tabung lainnya, dan ini mempengaruhi ketepatan isi LPG. Logo Depnaker menunjukkan batas akhir masa edar tabung di masyarakat yang berlaku lima tahun. Kalau sebuah tabung diuji bulan Maret 2003, paling lambat lima tahun kemudian tabung itu sudah harus dites kelayakan kembali.

Proses pengisian tabung juga tidak sembarangan. Standarnya, pada temperatur 0oC, volume dalam tabung yang terisi elpiji adalah 80 persen. Sisa ruangan dikosongkan untuk mengantisipasi pemuaian gas, akibat kenaikan temperatur.

Naiknya temperatur memang memuaikan isi tabung. Batas kenaikan tekanan elpiji adalah kekuatan material tabung itu sendiri. Ketika tekanan elpiji melebihi tekanan kerjanya, tabung bias meledak. Pemerintah sudah mengatur soal ketepatan isi tabung elpiji dalam keputusan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Deperindag No. 31/DJPDN/Kep/XI/99 tentang Pedoman Pengawasan Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT). Isinya antara lain, berat BDKT 1 sampai 10 kg, toleransi penyimpangannya sebesar 1,5 persen berat netto.

Memilih Tabung LPG
Minimal 80% permukaan tabung elpiji masih tertutup cat. Sedikit karat masih diizinkan, asal tidak terlalu dalam. Tabung yang bagian bawahnya berkarat sebaiknya dihindari karena lebih kritis terhadap kebocoran. Berat tabung harus tepat.

Terlalu berat atau terlalu ringan dampaknya sama-sama merugikan. Segel yang menutupi valve tabung tak boleh sobek atau tampak bekas diutak-atik. Selain sambungan las antara bagian atas dan bawah serta sambungan dengan kaki dan pegangan atas, tak boleh ada bekas las lain di tabung.

Pilih tabung berlogo Depnaker yang masa layak pakainya masih panjang.
Pilih tabung yang valve ulir atau dratnya masih baik. Jenis valve ulir bisa ditemui pada tabung elpiji 5,5 kg dan 2,65 kg. Tabung isi 12 kg dilengkapi valve jenis alur klem. Tipe ulir lebih aman terhadap kebocoran dari dalam tabung, namun lebih rumit memasang regulatornya.

Tipe alur klem sebaliknya, mudah dalam pemasangan regulator, namun regulatornya masih bisa berputar meskipun klem sudah dikunci.
Tabung elpiji harus disimpan dalam posisi berdiri dengan valve di atas untuk meminimalkan bahaya jika bocor.

Jika mencium bau gas, segera matikan kompor gas dan alat listrik lain yang bisa menimbulkan percikan api. Tutup katup regulator, buka lebar-lebar pintu, jendela, dan semua ventilasi. Habiskan elpiji dalam tabung sebelum menukarnya dengan tabung penuh.

Faktanya, sekitar 20% dari tabung elpiji yang kembali ke perusahaan isi ulang ternyata masih bersisa. Bisa jadi, tabung yang hanya berisi sedikit gas, tidak punya cukup tekanan untuk menyalurkan elpiji ke kompor, sehingga pemiliknya menyangka tabungnya kosong. Mungkin regulatornya tidak berfungsi optimal, karena banyak endapan yang menyumbat saluran LPG. *nat/net

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost