Denpasar (BisnisBali) –Pemasaran
aneka kerajinan perak mendapat persaingan yang sangat ketat
dari negara pesaing seperti Thailand, Cina, Vietnam, Malaysia
dan negara lainnya.
Supaya tak kalah saing, pemasaran langsung sangat efektif.
Misalnya, dengan cara mengikuti pameran ke negara tujuan
ekspor.
Pemerintah melalui Disperindag Bali, baru-baru ini mengajak
6 perajin dan pengusaha kerajinan perak untuk mengikuti
pameran di Hongkong.
Hal ini diakui salah seorang perajin yang diajak pameran,
Sudana, Jumat (27/4) kemarin.
Menurut Sudana, sekarang ini memang banyak negara pesaing
kerajinan perak. Bahkan, kerajinan perak Bali sudah tidak
mampu bersaing dari segi harga.
Pasalnya, kendala klasik yang tak pernah mendapatkan solusi
yakni tingginya bahan baku kerajinan perak. Bahkan, ada
beberapa negara pesaing menjual produk kerajinan peraknya
sama dengan harga bahan baku di Bali.
“Kalau itu terjadi terus, maka kerajinan perak Bali
terus kalah bersaing. Kenapa tidak, harga bahan baku sudah
lebih tinggi dengan harga kerajinan perak produksi negara
pesaing,” katanya.
Sudana menjelaskan, setelah beberapa kali pengalaman berpameran
langsung ke luar negeri, sangat efektif dan mengena. Seperti
pameran tahun lalu ke Thailand.
Ternyata di Thailand banyak pesaing kerajinan perak, tetapi
kalau mau langsung datang memasarkan, maka akan banyak konsumen
yang menyukai produk Bali.
“Pameran pertengahan April lalu ke Hongkong juga sama.
Ternyata banyak tertarik dengan produk kerajinan perak Bali.
Tetapi ingat, kerajinan yang disukai adalah memiliki daya
pikat tersendiri. Ciri khas budaya Bali sangat diminati,
sehingga dalam desain ditonjolkan keunikan dan klasik,”
katanya.
Kasubdin Perdagangan Luar Negeri Disperindag Bali, Ni Wayan
Kusumawathi mengatakan, hasil pameran yang digelar di Hongkong
cukup positif. Pameran internasional yang digelar di Hongkong
itu, hanya diperuntukkan khusus buyer.
Pasalnya, kalau ingin mengunjungi pameran harus mendaftarkan
perusahaannya.
“Buktinya, peserta yang kami ajak banyak mendapat
sambutan atau kunjungan dari buyer seluruh dunia. Memang
transaksi secara langsung waktu itu belum ada, tetapi kontak
dagang terus terjadi.
Mudah-mudahan sekarang ini sudah banyak peserta mendapat
order langsung dari buyer,” katanya.
Kusumawathi menambahkan, pameran yang tepat adalah pameran
khusus untuk pengusaha. Seperti di Hongkong baru-baru ini,
peserta diawasi ketat dan tidak boleh menjual produk secara
ritel.
Apabila diketahui maka akan dijatuhkan sanksi. Untuk itu,
peserta hanya diperbolehkan memajang produk sebagai contoh,
sedangkan kalau ada buyer yang menginginkan contoh, baru
bisa dijual.
“Mulai dari dibukanya pameran stan kita sudah banyak
pengunjung. Antusias tersebut tergambar, karena buyer yang
berkunjung ingin informasi secara detail dan lengkap.
Sehingga tidak jarang buyer harus antre mendapatkan informasi
para peserta,” katanya. *sta