28 April 2007  
Home
Berita Terkini

 

Menyeruak Kondisi Hotel Kecil di Bali*Menelusuri Gang Kecil di Kuta

Kondisi bisnis hotel di Bali bagaikan sebuah gemerlap berlian palsu yang menang nama besar.

Bagaimana tidak, bisnis yang bergerak pada sektor pariwisata dan identik dengan limpahan dolar ternyata kondisinya sangat memprihatinkan.

Banyak akomodasi wisata di kawasan wisata seperti Kuta dan Tuban tak lebih dari kos-kosan dengan tarif Rp 10 -15 ribu per malam.

Di sepanjang jalan protokol di Kuta dan Tuban, hotel besar milik investor luar berjajar bagaikan istana dengan tarif yang cukup mapan.

Ornamen hotel dengan segala aksesori mewah dengan kolam renang menjadi tempat istirahat yang luar biasa.

Tarif hotel pun bisa ditebak mulai Rp 500.000 per malam hingga di atas Rp 1 juta. Lantas bagaimana dengan kondisi hotel kecil yang ada di sekitarnya?

Puluhan bule lalu-lalang di jalan-jalan kecil dengan santainya seperti di rumah mereka sendiri.

Jalan Poppies di kawasan Seminyak bagaikan kampung milik orang asing.

Ratusan pedagang barang seni atau pun suvenir berjajar menawarkan barangnya dengan harga murah. Beberapa hotel dan pondok wisata berdiri dengan konsep yang masih sangat sederhana.

Banyak dari akomodasi di kawasan tersebut seperti tak pernah direnovasi dan lebih kelihatan seperti rumah tinggal biasa.
Banyak dari hotel melati dan pondok wisata di tempat tersebut disewakan dengan tarif yang sangat murah.

Karena tamu sepi mereka terpaksa menyewakan secara bulanan. Bahkan ada beberapa dari akomodasi wisata kecil jika dihitung tarif sewa hariannya Rp 10- Rp 15 ribu per malam.

Manajeman dan pemasaran yang masih konvensional merupakan penyebab mengapa hal tersebut terjadi.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadiparda) Badung, Made Subawa, Jumat (27/4) didampingi Kasubdin Sarana Pariwisata Diparda Badung Ni Wayan Lastri, M.S.i mengakui adanya hotel-hotel yang kondisinya sangat mengenaskan.

“Banyak hotel kecil yang merupakan usaha keluarga tanpa manajemen profesional mengalami tekanan yang sangat berat,’’ katanya.
Tidak jarang mereka terpaksa menyewakan hotelnya tersebut dengan tarif yang sangat murah.

Diungkapkan, rata-rata hotel seperti ini adalah hotel yang sangat sederhana, tanpa dilengkapi kolam renang atau fasilitas lain. “Kamarnya pun masih ada yang dari bambu dengan tembok yang telah lapuk,” ungkapnya.

Maklum saja kebanyakan hotel kecil ini telah berumur puluhan tahun tanpa ada renovasi.
Dulu hotel melati atau pondok wisata seperti ini mungkin bisa eksis karena persaingan tidak begitu ketat.

Namun seiring meningkatnya jumlah akomodasi wisata di kawasan tersebut, hotel jenis ini mulai ditinggalkan.

“Bahkan sekarang bukan tamu asing saja yang menginap, sopir taksi pun ada yang tinggal di hotel jenis ini karena tarif kamar mereka sangat murah,” tandasnya.

Kasubdin Sarana Pariwisata Diparda Badung Ni Wayan Lastri, M.S.i, menyatakan, hotel seperti ini banyak tersebar di kawasan-kawasan pedalaman.

“Letak mereka biasanya ada di jalan-jalan kecil yang jaraknya sekitar 50 meter dari jalan protokol atau di belakang hotel besar,” katanya. Hotel kecil ini seperti bisnis yang tergencet akibat dinamika bisnis yang sangat cepat.

Diakui banyak hotel melati atau pondok wisata yang hanya mengandalkan tamu nyasar.

Namun demikian beberapa hotel kecil yang merupakan usaha keluarga sudah mulai dikelola secara profesional.

“Mereka membayar orang yang profesional dalam bisnis hotel. Pemilik tidak lagi ikut campur dalam manajemen hotel,” ungkapnya. *wid

Jumlah Akomodasi di Kabupaten Badung 2006
Jumlah Jumlah Kamar

Hotel Bintang 94 15.350
Hotel Melati 347 8.979
Pondok Wisata 189 920
Total 630 25.314

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost