Kondisi bisnis hotel di Bali bagaikan sebuah gemerlap
berlian palsu yang menang nama besar.
Bagaimana tidak, bisnis yang bergerak pada sektor pariwisata
dan identik dengan limpahan dolar ternyata kondisinya sangat
memprihatinkan.
Banyak akomodasi wisata di kawasan wisata seperti Kuta
dan Tuban tak lebih dari kos-kosan dengan tarif Rp 10 -15
ribu per malam.
Di sepanjang jalan protokol di Kuta dan Tuban, hotel besar
milik investor luar berjajar bagaikan istana dengan tarif
yang cukup mapan.
Ornamen hotel dengan segala aksesori mewah dengan kolam
renang menjadi tempat istirahat yang luar biasa.
Tarif hotel pun bisa ditebak mulai Rp 500.000 per malam
hingga di atas Rp 1 juta. Lantas bagaimana dengan kondisi
hotel kecil yang ada di sekitarnya?
Puluhan bule lalu-lalang di jalan-jalan kecil dengan santainya
seperti di rumah mereka sendiri.
Jalan Poppies di kawasan Seminyak bagaikan kampung milik
orang asing.
Ratusan pedagang barang seni atau pun suvenir berjajar
menawarkan barangnya dengan harga murah. Beberapa hotel
dan pondok wisata berdiri dengan konsep yang masih sangat
sederhana.
Banyak dari akomodasi di kawasan tersebut seperti tak
pernah direnovasi dan lebih kelihatan seperti rumah tinggal
biasa.
Banyak dari hotel melati dan pondok wisata di tempat tersebut
disewakan dengan tarif yang sangat murah.
Karena tamu sepi mereka terpaksa menyewakan secara bulanan.
Bahkan ada beberapa dari akomodasi wisata kecil jika dihitung
tarif sewa hariannya Rp 10- Rp 15 ribu per malam.
Manajeman dan pemasaran yang masih konvensional merupakan
penyebab mengapa hal tersebut terjadi.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadiparda) Badung, Made Subawa,
Jumat (27/4) didampingi Kasubdin Sarana Pariwisata Diparda
Badung Ni Wayan Lastri, M.S.i mengakui adanya hotel-hotel
yang kondisinya sangat mengenaskan.
“Banyak hotel kecil yang merupakan usaha keluarga
tanpa manajemen profesional mengalami tekanan yang sangat
berat,’’ katanya.
Tidak jarang mereka terpaksa menyewakan hotelnya tersebut
dengan tarif yang sangat murah.
Diungkapkan, rata-rata hotel seperti ini adalah hotel
yang sangat sederhana, tanpa dilengkapi kolam renang atau
fasilitas lain. “Kamarnya pun masih ada yang dari
bambu dengan tembok yang telah lapuk,” ungkapnya.
Maklum saja kebanyakan hotel kecil ini telah berumur puluhan
tahun tanpa ada renovasi.
Dulu hotel melati atau pondok wisata seperti ini mungkin
bisa eksis karena persaingan tidak begitu ketat.
Namun seiring meningkatnya jumlah akomodasi wisata di kawasan
tersebut, hotel jenis ini mulai ditinggalkan.
“Bahkan sekarang bukan tamu asing saja yang menginap,
sopir taksi pun ada yang tinggal di hotel jenis ini karena
tarif kamar mereka sangat murah,” tandasnya.
Kasubdin Sarana Pariwisata Diparda Badung Ni Wayan Lastri,
M.S.i, menyatakan, hotel seperti ini banyak tersebar di
kawasan-kawasan pedalaman.
“Letak mereka biasanya ada di jalan-jalan kecil
yang jaraknya sekitar 50 meter dari jalan protokol atau
di belakang hotel besar,” katanya. Hotel kecil ini
seperti bisnis yang tergencet akibat dinamika bisnis yang
sangat cepat.
Diakui banyak hotel melati atau pondok wisata yang hanya
mengandalkan tamu nyasar.
Namun demikian beberapa hotel kecil yang merupakan usaha
keluarga sudah mulai dikelola secara profesional.
“Mereka membayar orang yang profesional dalam bisnis
hotel. Pemilik tidak lagi ikut campur dalam manajemen hotel,”
ungkapnya. *wid
Jumlah Akomodasi di Kabupaten Badung 2006
Jumlah Jumlah Kamar
Hotel Bintang 94 15.350
Hotel Melati 347 8.979
Pondok Wisata 189 920
Total 630 25.314