Denpasar (BisnisBali) -Para operator
taksi di Bali belakangan ini ketar-ketir. Selain penumpang
sepi, jumlah armada taksi saat ini cukup banyak sehingga
persaingan menjadi ketat.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, sebagian operator taksi
melakukan peremajaan armada. Salah satunya Koptax Ngurah
Rai.
Menurut Ketua Koperasi Jasa Angkutan Taxi (Koptax) Ngurah
Rai, Wayan Pande Sudirtha, S.H., pendapatan para sopir taksi
belakangan ini sangat kecil.
‘’Untuk mengantisipasi hal tersebut, kami melakukan
berbagai upaya agar tetap eksis di tengah persaingan,’’
ujarnya.
Langkah yang diambil adalah melakukan peremajaan sehingga
pelayanan kepada penumpang menjadi lebih baik.
Terbukti, sebagian armada taksi Ngurah Rainya saat ini
menggunakan Chevrolet Kalos, sedangkan sisanya masih menggunakan
merek Honda, Toyota, Mazda dan Ford.
‘’Kami sengaja memilih Chevrolet Kalos dalam
peremajaan taksi ini, karena produk ini telah teruji ketangguhan
dan keiritan konsumsi BBM-nya. Jam terbang taksi cukup tinggi
sehingga dibutuhkan kendaraan yang selalu prima dan tidak
boros.
Kami pastikan, baru di Bali yang memakai Kalos sebagai
taksi,’’ ungkapnya.
Disinggung mengenai jumlah armada taksi Ngurah Rai yang
beroperasi saat ini, kata Sudirtha, sekitar 827 unit, baik
yang beroperasi di Bandara Ngurah Rai maupun di luar bandara.
Transportasi jenis kendaraan sewa yang tempat duduknya
di bawah 7 seat, seperti Suzuki APV dan Mazda tipe 2.000
anggotanya sebanyak 502 anggota.
‘’Selain peremajaan, kami juga terapkan sanksi
tegas terhadap anggota yang terbukti melanggar aturan agar
citra taksi Ngurah Rai tidak merosot di mata penumpang,’’
tandasnya.
Hal senada diungkapkan Ketut Mahendra, salah seorang pemilik
taksi. ‘’Pengusaha jasa angkutan taksi saat
ini menghadapi situasi yang dilematis. Jika kami menaikkan
tarif, penumpang akan berpaling ke angkutan lain yang lebih
murah.
Jika tidak dinaikkan, perusahaan akan merugi karena biaya
operasional taksi terus meningkat,’’ ujarnya.
Lanjut Mahendra, agar taksinya prima dan tidak cerewet,
dia melakukan peremajaan dengan menggunakan produk Toyota
tipe Vios (Limo untuk taksi) saat ini, sedangkan sebelumnya
dia menggunakan produk Mazda dan Ford.
’’Makin tua umur taksi, jelas biaya perawatan
kendaraan meningkat, sehingga kami melakukan peremajaan
setiap 5 tahun,’’ ungkapnya.
Saat ini, kata dia, banyak sopir taksi yang mengeluh tidak
bisa memenuhi setoran akibat persaingan makin ketat.
Tak berlebihan, kalau ada harapan agar pemerintah daerah
menyetop pemberian izin taksi baru untuk sementara waktu.
Jumlah taksi yang berseliweran sekarang ini telah melebihi
kapasitas penumpang yang ada. *aya