28 April 2007  
Home
Berita Terkini

 

::Gaya Hidup
Bisnis Pakaian, Pengusaha Perlu Dukungan Desainer

Denpasar (BisnisBali) –Pengusaha yang terjun dalam bisnis pakaian perlu dukungan desainer untuk dapat berkembang secara optimal. Demikian diungkapkan salah seorang desainer lokal, AA Ayu Kharisma Dewi, baru-baru ini.

Ia mengungkapkan, kerja sama antara pemodal dengan desainer, akan memperkecil kendala operasional maupun produksi, sehingga dapat berkonsentrasi pada promosi.

“Perlu kerja sama antara pengusaha dan desainer untuk dapat menjaga kelangsungan bisnis pakaian, khususnya yang menyasar pasar lokal, domestik, dan asing,” ujarnya.

Selama ini keterbatasan kemampuan desain yang dimiliki pemilik modal dan hanya memproduksi produk-produk jadi yang sudah umum, sangat sulit untuk menghabiskan hasil produksi, hingga menyisakan stok dalam jumlah besar, yang berarti usaha merugi.

Agar produk dapat terserap pasar, maka kemampuan teknis dan material mesti sama-sama saling mendukung.

Dimilikinya modal yang cukup, akan dapat memperlancar pembelian bahan baku, mesin produksi, dan peralatan terkait lainnya yang dapat mempermudah dalam pekerjaan.

Sementara kemampuan desain yang ada pada desainer, akan memberikan nilai tambah sekaligus menjadi daya tarik pasar untuk membelinya.
Ia menambahkan, persaingan ketat yang tak dapat dihindari, menyebabkan bisnis pakaian makin sulit.

Karena itu, selain berpedoman pada kondisi ekonomi, selera pasar, juga rajin mengikuti perkembangan mode pakaian. Dengan cara ini, pengusaha tak akan mengambil langkah keliru.

“Berbagai pertimbangan dalam wujud strategi bisnis yang jitu mesti dirancang pengusaha pakaian untuk dapat menghasilkan manfaat yang optimal,” katanya.

Di tempat terpisah, desainer lainnya G Antika menambahkan, kerja sama diperlukan dengan prinsip saling menguntungkan. Kemampuan inovasi seorang desainer bisa jadi harus dihargai mahal jika mampu menghasilkan manfaat yang berlimpah bagi usaha.

“Kerja sama mesti diatur sedemikian rupa, sehingga kemajuan industri pakaian lokal, tak terhalang karena konflik pemodal dengan desainer. Keduanya mesti bersama-sama memikirkan strategi bisnis pakaian ke depannya dengan peran masing-masing,” katanya.

Ia optimis, kalau kerja sama yang baik dapat dilakukan desainer-desainer yang selama ini bekerja tanpa dukungan modal yang cukup akan lebih mapan, untuk menggapai pasar yang lebih luas, tentunya dengan hasil rancangan yang bermutu. *gun

  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost