Denpasar (BisnisBali) -Produk-produk
ekspor Bali terutama di sektor kerajinan, perhiasan dan
aksesoris terancam ditinggal buyer atau pembeli dari mancanegara.
Para pembeli dari sejumlah negera saat ini sudah mulai
mengalihkan perhatian ke sejumlah negara penghasil produk
sejenis seperti Cina, Thailand dan Vietnam.
Negara-negara ini dinilai mampu memproduksi produk yang
kualitas bagus dengan harga yang bersaing.
“Kesan yang timbul dari produk-produk Bali belakangan
ini adalah murah dan kualitasnya jelek. Ini sangat berbahaya
dan harus segera diperbaiki,” ujar salah seorang buyer
asal Jepang Mrs. Mariko dalam seminar “Change Or Die”
yang diadakan Bali Export Development Organization (BEDO),
Jumat (27/4) kemarin.
Menurut konsultan Jepang untuk Indonesia ini, para produsen
produk-produk kerajinan di Bali harus segera keluar dari
situasi tersebut. Produk-produk yang dihasilkan harus memiliki
standar kualitas yang jelas sehingga harganya akan lebih
baik.
“Jika produk berkualitas pembeli tak akan keberatan
harus membayar lebih mahal,” jelasnya.
Selain perbaikan kualitas, hal yang perlu segera mendapat
pembenahan adalah bagaimana berproduksi yang sesuai keinginan
pasar.
Para produsen perlu memahami karakter, budaya dari negara-negara
importir. Hal ini penting agar barang-barang yang dihasilkan
bisa laku di negara tujuan.
Perbaikan lainnya adalah menyangkut pelayanan kepada pembeli.
Selama ini ada sejumlah kelemahan produsen Bali yaitu terkait
dengan ketepatan waktu, kualitas produk dan kemasan.
Untuk pasar Jepang, kemasan memegang peranan yang amat
penting. “Masyarakat Jepang sangat menggemari produk
yang ukurannya kecil yang dikemas secara unik dan bagus,”
ujarnya seraya berharap keunikan yang ada terus dipertahankan
dan ditingkatkan.
Sementara buyer dari Spanyol Richard Andreu mengatakan,
saat ini masyarakat Eropa lebih mencari barang-barang yang
kualitasnya baik dengan harga yang sedikit mahal.
Orang Eropa sudah tidak menyukai barang yang harganya murah.
Jadi budaya memproduksi barang murah dengan kualitas jelek
harus segera ditinggalkan,” ujar buyer spesialis barang-barang
perhiasan ini.
“Kalau mau berbisnis dengan orang asing, produsen
harus mengerti permintaan orang tersebut dan tepat waktu
dalam berproduksi,” ujarnya seraya mengatakan produsen-produsen
yang ada di Bali agar lebih gencar dalam melakukan inovasi
produk.
Setiap saat harus ada produk baru yang bisa ditawarkan
kepad buyer.
Buyer dari Amerika Carolina mengatakan, kalau mau belajar
dan terus belajar, ia yakin produk-produk Bali akan mampu
bersaing dan mengalahkan produk yang dihasilkan negara lain.
Ia melihat hal yang perlu diperbaiki di Bali adalah terkait
dengan penggunaan teknologi dalam berproduksi.
Bila dibandingkan dengan Cina dan Thailand, Indonesia dan
Bali khususnya masih cukup tertinggal. Sentuhan teknologi
dalam proses produksi sangat penting.
Wanita campuran Amerika-Indonesia ini menjelaskan, dalam
berproduksi barang harus juga dipikirkan perkembangan tren
pasar.
Hal lain yang perlu diperbaiki terkait pelayanan kepada
buyer. Para produsen di Bali harus lebih aktif dalam melakukan
komunikasi dengan buyer menyangkut berbagai hal. *bia