28 April 2007  
Home
Berita Terkini

 

::Boga
Makanan Berpenyedap Picu Serangan Migrain

Denpasar (BisnisBali) –Untuk menghindari serangan migrain atau pusing sebelah, sebaiknya masyarakat mengkonsumsi makanan dengan kandungan gizi seimbang dan membatasi mengkonsumsi makanan dengan tambahan bahan penyedap rasa buatan.

Pasalnya, makanan berpenyedap rasa termasuk salah satu pemicu timbulnya sakit kepala.

Menurut dosen gizi Politekkes Denpasar, Ida Ayu Eka Padmiari, S.KM., M.Kes., Jumat (27/4) kemarin, bahan makanan lain yang sebaiknya dihindari atau dibatasi penggunaannya adalah makanan yang mengandung monosodium glutamat (MSG), zat amines, nitrit, aspartam hingga makanan yang diawetkan seperti ikan, daging, hotdog, dan lain-lain.

“Makanan yang mengandung bahan kimiawi, zat pewarna, kacang-kacangan atau biji-bijian, kafein, es krim, alkohol, asparagus merah, anggur merah, buah almond, roti segar termasuk bagian yang harus dibatasi,” ujarnya.

Penyebab pasti migrain, kata Dayu, saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor sebagai penyebab migrain. Misalnya, salah dalam mengatur pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Sementara itu dari gaya hidup di antaranya, terlambat makan, selalu hidup dalam ketegangan dan kecemasan, kelelahan, kurang tidur.

Perubahan hormonal misalnya masa pubertas, menstruasi, kehamilan, menopause, pemakaian pil KB juga dapat menjadi pemicu migrain.
Walaupun banyak faktor yang memicu timbulnya migrain, kata Dayu, jenis penyakit ini dapat disembuhkan atau minimal dikurangi.

Masyarakat sebaiknya mengubah pola hidup dan gaya hidup sehari-hari.
Salah satu jalan mengkonsumsi makanan sehat, segar dan cukup gizi.

Sebab, mengkonsumsi makanan dan minuman yang nilai gizinya seimbang dapat menambah energi sehingga sakit kepala tidak akan menyerang.
Pencegahan yang lain dengan melakukan diet makanan yang diduga sebagai penyebab migrain.

Pengobatan lain dapat berupa psikoterapi, latihan relaksasi, biofeedback, akupuntur dan pijat.
“Melatih terus relaksasi ini bisa dilakukan sebagai tindakan langkah pencegahan.

Relaksasi akan memperlancar aliran energi dan darah yang lebih lancar sehingga otot-otot akan mengendor,” katanya. *dik


  Arsip

copyright bisnisbali.com 2005 all right reserved. Designed, developed and maintained by IT Balipost