Denpasar (BisnisBali) – Banyaknya
jumlah rumah makan saat ini, baik dalam usaha skala besar
maupun kecil, menyebabkan persaingan makin ketat.
Mereka berlomba-lomba memberikan yang terbaik kepada konsumennya.
Ketatnya persaingan ini, juga terjadi pada usaha makanan
sea food. Meski jenis usahanya termasuk menghidangkan menu,
namun banyak juga yang telah memiliki langganan tetap.
Harga merupakan unsur utama yang harus diperhatikan, di
samping kualitas menunya, terlebih saat ini banyak rumah
makan sejenis yang bermunculan.
Menurut Laniari, salah seorang pengusaha rumah makan, Jumat
(27/4) kemarin, umumnya konsumen akan mencari tempat makan
yang menawarkan harga terjangkau.
“Untuk menggaet pelanggan, kami akan berusaha untuk
memberikan harga yang wajar dan tidak mengambil untung banyak,”
katanya.
Ia menambahkan, rumah makan merupakan usaha yang sebagian
besar bermodalkan kepercayaan konsumen.
Jika konsumen merasa cocok dengan hidangan maupun harga
yang ditawarkan, otomatis akan terjalin suatu hubungan baik.
Dengan kondisi seperti itu, tiap konsumen yang datang adalah
raja.
Usaha yang telah dirintisnya ini, telah memiliki langganan
tetap. Ini dikarenakan, harga yang ditawarkan terjangkau,
dan rata-rata hampir sama untuk usaha sejenis.
Satu porsi makanan harganya rata-rata Rp 10.000.
Sementara itu, Wahyuni, pengusaha rumah makan lainnya mengatakan,
usaha rumah makan umumnya memiliki segmen pasar tersendiri.
Keadaan itu akan terjadi secara alami, di mana konsumen
akan bisa memilih rumah makan yang menyajikan menu modern
atau menu tradisional.
“Tinggal sekarang pebisnis makanan harus jeli melihat
peluang pasar agar bisa memenangkan persaingan,” katanya.
Sampai saat ini, kata Wahyuni, animo masyarakat terhadap
masakan sea food, menunjukkan respons yang cukup positif.
Ini terbukti, menu yang ditawarkan tiap hari, selalu habis
terjual. *oka