Denpasar
(BisnisBali) –Sektor perkebunan Bali menghasilkan
devisa 408 ribu dolar AS selama Januari-Maret 2007, atau naik
71,2 persen jika dibandingkan periode sama 2006 yang mencapai
238 ribu dolar.
Perdagangan hasil perkebunan tidak lagi menjadi andalan ekspor
nonmigas Bali, akibat perolehan devisanya relatif sedikit
jika dibandingkan sektor lainnya, kata laporan dari Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Bali, Jumat (27/4) kemarin.
Vanili produksi petani Bali pernah menjadi salah satu andalan
ekspor daerah ini tahun 1990-an, namun menjadi sirna sejak
tanaman milik rakyat itu terserang penyakit busuk batang yang
tidak bisa tuntas hingga kini.
Petani enggan menanam tanaman tersebut karena tidak adanya
bibit yang bebas penyakit, walaupun ada luasnya relatif sedikit
sehingga produksinya juga rendah dan tipis kemungkinan bisa
memasuki pasar antarbangsa.
Vanili yang diekspor dari Bali kemungkinan adalah produksi
petani luar daerah, itu pun jumlahnya relatif sedikit hanya
22 ton seharga 383 ribu dolar AS selama Januari-Maret 2007
atau naik 64 persen dari periode sama 2006.
Ekspor kopi mulai ada pertambahan nilai menjadi 24 ribu dolar
tiga bulan pertama 2007 hasil pengapalan dua ton atau naik
457 persen dari periode sama 2006 yang hanya 4.320 dolar atas
pengapalan 680 kg.
Kopi hasil perkebunan rakyat yang ada di daerah pegunungan
di Bali seperti Kintamani, Bangli sebagian besar diekspor
ke Prancis melalui eksportir di Jawa Timur sehingga kemungkinan
tidak banyak tercatat di Bali. *ant
|